
"Jadi gimana keputusan kamu Siska?" Tanya Amanda pada Siska yang tengah menunduk.
"Siska akan ikut Mas Nando berobat di sana, dan ...,"
"Apa kau gila? putramu alergi terhdap dingin, kenapa kau selalu mengesampingkan keselamatan putramu sendiri!" Ady menyela ucapan Siska, dia sudah tersulut emosi ketika Siska memberitahunya jika ia akan ke Amerika untuk pengobatan Nando.
Siska mengangkat wajahnya, dengan wajah lelah dia menatap adiknya itu.
"Aku bingung, di satu sisi suamiku sakit. Di sisi lain aku tak tega dengan putraku, aku harus apa?" Lirih Siska.
Ady dapat melihat betapa frustasinya sang kakak, dia juga tak bisa memberi solusi yang pasti. Hanya saja Ady merasa jika Siska selalu menelantarkan Shaka, maka dari itu ponakannya lebih dekat dengan Alea.
Alea hanya mampu terdiam, berhubung kedua bayi itu sedang bermain dengan Razka dan Edgar membuatnya dapat berkumpul bersama yang lain.
Siska menolehkan kepalanya, dia menggeser tubuhnya agak menyerong dan menggenggam tangan Alea yang memang duduk di sampingnya
"Alea, aku titip Shaka padamu. Ku mohon, bantu aku." Lirih Siska.
Ady membulatkan katanya tak percaya, kakaknya akan meninggalkan putranya demi pria yang telah mengkhianatinya. Apalagi Nando memiliki orang tua yang mampu menjaganya, sedangkan Shaka? bayi itu masih sangat membutuhkan ibunya.
Alea menatap Ady, dia bingung ingin berkata apa. Sementara Amanda dan Ethan tak bisa berkata apapun, mereka sangat syok mendengar keinginan putri mereka.
BRAK!
"AKU TAK HABIS PIKIR DENGAN JALAN PIKIRAN KAKAK! SHAKA MASIH BAYI, DIA BUTUH IBUNYA! SEDANGKAN PRIA ITU ... DIA MASIH MEMILIKI ORANG TUA!" Teriak Ady yang tak bisa lagi membendung emosinya.
Siska terkejut, dia berdiri dan menatap Ady dengan tajam.
"Apa kau pikir aku bisa tenang dengan keadaan suamiku yang hampir kehilangan akal? jika Alea berada di posisi suamiku apa kau tetap bersama putrimu? KATAKAN!" Sentak Siska.
"Istriku tak sebodoh suamimu!" Sahut Ady merasa tak terima.
Hening, suasana menjadi hening ketika Ady mengatakan itu.
"Berikan Shaka padaku," ujar Ady dengan suara pelan.
"Apa maksudmu?" Heran Siska dengan mengerutkan keningnya.
"Apa kurang jelas? berikan Shaka padaku! Kau bukan hanya mengurus suamimu yang sakit itu, tetapi juga ... bayi yang ada di perutmu. Kau hamil bukan?" Terang Ady dan menunjuk perut datar Siska.
Siska dan yang lainnya merasa terkejut, terlebih Siska yang langsung memegang perutnya.
"Apa maksudmu?" Kaget Siska.
Ady mengangkat satu sudut bibirnya, dia menyeringai ketika melihat raut wajah ketakutan Siska.
"Apa kakak pikir aku tidak mencari tahu tentang keadaan suamimu itu? bahkan mertuamu sendiri yang berkata padaku jika mereka menyerahkan Shaka karena apa ... karena mereka yakin kau tak mamou merawat putramu sendiri." Terang Ady.
"Apa kau tahu? saat itu aku benar-benar penasaran, hingga temanku yang seorang dokter kandungan mengabariku jika aku akan mendapatkan keponakan baru. Disitu aku terkejut, dan aku yakin itulah alasan mertuamu." Lanjut Ady.
Flashback On.
DERT!
DERTT!
Ady yang tengah bermanja-manja dengan istrinya harus terganggu akibat dering ponselnya.
"Bentar yah Al," ujar Ady.
Ady mengangkat telpon itu, dia melempar kabar dan berbicara dengan santai.
"Oh iya, selamat yah Ady. Kau akan mendapatkan keponakan baru, hais ... tak ku sangka akan secepat itu."
Ady mengerutkan keningnya.
"Keponakan?" Gumam Ady.
"Iya, apa kau belum tahu jika kakakmu hamil lagi?"
Flashback Off.
"Jika kau lupa, Dokter Andini itu teman sekolahku. Kami sesekali bertukar kabar dan dia mengatakan itu padaku, awalnya aku ragu tetapi kini aku merasa sangat yakin ketika melihat ekspresimu," ujar Ady.
"Apa itu benar?" Tanya Amanda.
Siska tak mengelak, dia mengangguk dengan lemah. Amanda pun melemaskan bahunya dan menatap Ady dengan datar.
"Serahkan Shaka pada Ady, biarkan dia yang rawat. Sedangkan kamu Siska, fokus pada suamimu dan juga bayi di dalam kandunganmu. Mamah takut kamu kewalahan dan berakhir kehilangan salah satunya." Ujar Amanda sambil beralih menatap Siska.
"Tapi mah, hanya untuk sementara. Bulan de ...,"
"Lima tahun, berikan hak asuh Shaka padaku selama lima tahun. Karena aku yakin sekali, kau tak akan sanggup membagi kasih sayangmu untuk Shaka dan calon bayimu!"
***
"Mas, apa kamu gak keterlaluan sama Kak Siska? bagaimana pun juga Shaka putranya, ibu mana yang tega anaknya tinggal sama orang lain." Ucap Alea dengan lirih sambil menepuk paha Ara.
Ara yang tengah menyusu hanya menatap polos sang bunda, dia tak mengerti pembicaraan kedua orang tuanya. Yang ia tahu, jika perutnya lapar dan harus segera terisi.
"Apa kau tak pernah menyadari? Sebelum Kak Siska tahu dia hamil saja Shaka harus menderita, di marahi, di cubit seperti itu. Apalagi kalau ada adik, kasih sayangnya harus kembali terbagi. Apa kau tak kasihan dengannya?" ujar Ady.
"Kasihan." Cicit Alea.
"Saat dia bersama Siska, yang dia selalu panggil adalah bunda bukan mamah. Dia masih polos, hatinya masih bersih. Tentu dia tahu mana yang tulus, mana yang tidak. Shaka melihat, jika mamahnya selalu meninggalkannya dan yang dia tahu kau adalah ibu kandungnya. Kau menyusuinya, kau memberinya makan dan kau yang menidurkannya." Terang Ady.
"AKu yang menyusuinya karena Asi Kak Siska hanya keluar sedikit, harap di maklumi," ujar Alea.
Ady berdecak, dia mengubah posisi rebahannya menjadi duduk dan menatap istrinya.
"Kau masih saja percaya dengan Kak Siska? bukan asinya yang tak keluar lancar, dia malas menyusui putranya. Sedari dulu dia selalu menjaga badannya biar tetap langsing," ujar Ady.
"Gak boleh berburuk sangka, gak baik. Apalagi sama kakak sendiri, banyak kok ibu yang baru melahirkan hanya mengeluarkan asi sedikit saja." Bantah Alea.
Ady memutar bola matanya malas, istrinya selalu mempunyai pikiran baik terhadap orang. Bahkan teman kerjanya yang bernama Keyla itu hampir membuat rumah tangga mereka rusak dan istrinya itu masih berbaik sangka.
"Udah, mending mas mandi. Aku mau lanjut nyusuin Shaka, biar habis ini aku bisa beberes yang lain." Ujar Alea sambil mendorong pelan lengan suaminya.
"Ngapain sih kamu beberes rumah? kan udah ada pembantu, apa masih kurang?" Gerutu Ady sambil beranjak dari duduknya.
"Biar aku gak rebahan terus, lama-lama badan aku bisa tambah melar." Ketus Alea.
Ady mengerutkan keningnya, dengan mata menyipit dia menatap sang istri.
"Mana ada kamu melar, yang ada tambah aduhai jadi enak di pandang," ujar Ady tanpa dosa.
Alea melempar bantal, untung saja Ara sudah tidur dan tak mendengar perkataan ayahnya.
"Aduh, biar enak buat di peluk Al. Kamu berisi gitu, aku makin cinta." Ujar Ady sambil berlari masuk ke kamar mandi.
Alea hanya bisa menghembuskan nafas lelah, dia menggelengkan kepalanya karena merasa kesal dengan tingkah suaminya.
"Untung aja suami," ujar Alea.
***
Ady dan Alea tengah menatap Siska yang berpamitan pada kedua orang tuanya, dengan tangan yang menggendong bayi mereka hanya bisa menatap dari ambang pintu.
Setelah berpamitan Siska pun memasuki mobil dan pergi dari kediaman Dominic.
"Kau lihat sendirikan, mamahmu tak peduli lagi padamu. Tak ada pamitannya denganmu sama sekali," ujar Ady mengompori Shaka yang berada di gendongannya.
Shaka menatap Ady dengan datar, dia sepertinya tak peduli dengan perkataan Ady.
"Nda,"
Alea menoleh, dia menatap Shaka yang mengulurkan tangan padanya.
"Kenapa? Shaka lapar yah?" Ujar Alea.
Ady mengambil lengan Shaka, dia berjalan masuk menjauhi Alea sehingga menimbulkan pekikan keras.
"NDAAAA! HUAAA! NDAAA!"
"Hais ... mas ... mas," ujar ALea dan menggelengkan kepalanya m