
"BUNDAAA!!! CUUDAAAHHHH!!"
"Bundaaa!!! Cuudaaahhh!!
" BUNDAAAA!!! BELAKNA ALA KEBULU KELING INI LOH!"
Alea memasuki kamar mandi dengan tergesa-gesa, dia melihat putrinya yang masih duduk di closet sambil menatapnya kesal.
"Iya sini bunda bersihin," ujar Alea.
Alea membersihkan sang anak yang habis buang air itu, memang Ara masih bergantungan dengan Alea jika buang air besar. Beda dengan buang air kecil, Ara sedikit bisa mengatasi dirinya sendiri.
"Sudah, Ara pakai celananya. Bunda mau liat abang Shaka dulu," ujar Alea.
Ara mengangguk, dia kembali memakai celananya sebelum keluar dari kamar mandi.
"Huh legana!" Seru Ara sambil memegang perutnya setelah keluar dari kamar mandi.
Ara berjalan keluar kamar, dia berkeliling mencari ruangan dimana keluarganya ada di sana.
PRANG!
Ara terlonjak kaget, dia segera berlari ke arah ruang makan. Terlihat disana Shaka tengah menatap piring yang ia jatuhkan.
"Mamah bilang hati-hati! jika sampai jatuh seperti ini bagaimana?" Bentak Siska.
Ara mendekati abangnya itu, dia melihat serpihan beling yang sangat abangnya.
"Ante janan omelin abang, biacana bunda nda pelnah kacih izin abang pegang piling. Ante yang calah, tenapa calahkan abang?" Ujar Ara tak terima.
Siska tak menghiraukan ucapan Ara, dia mengambil pecahan beling itu dan mengumpulkannya dalam plastik.
"Ada apa ini kak?" Tanya Alea yang baru saja masuk ke dalam ruang makan dengan memegang gelas susu.
Siska menegakkan tubuhnya, dia menatap Alea dengan raut wajah kesal. Alea meletakkan gelas susu itu di meja dan berjalan mendekati Shaka.
"Kau biasakan putraku manja, jadi seperti ini jadinya. Pegang piring saja dia tidak bisa, Bella yang sekecil itu saja bisa!" Ujar Siska.
"Maaf kak," ujar Alea.
Alea mendekati Shaka, dia menarik lembut tangan anak itu yang kini tengah tertunduk.
"Tentu saja berbeda, piring yang di bawa oleh Bella adalah piring kecil dan ringan. Sementara Shaka memegang piring orang dewasa dan sedikit berat, anak umur tiga tahun tenaganya sebesar apa sih kak? di dorong sedikit saja mereka pasti jatuh," ujar Alea dengan sindir halus, dia tak terima Shaka yang di omeli seperti itu.
"Sesuai umurnya Alea, Bella masih dua tahun dan ...,"
"Benar, sesuai umurnya. Aku selalu memberikan Shaka piring ringan dan tak besar, bahkan aku selalu melarangnya membawa piring sendiri. Apa kakak tidak lihat? piring yang dia bawa bahkan lebih besar dari kepalanya," ujar Alea sambil menatap Siska.
Siska tak mampu menjawab kembali, dia memang tengah merasakan kesal. Baru saja di hari pertama Shaka sudah membuatnya seperti itu, bagaimana jika sudah lama?
"Kakak pergi saja, aku yang akan membereskannya," ujar Alea.
Siska akhirnya pun pergi, kini Alea lah yang membereskan semuanya hingga bersih. Setelah selesai, Alea mendekati Shaka yang masih berdiri sambil menunduk.
"Mamana Bella omelin abang, dia malah-malah cama abang. Bunda aja kalo malah pac kita luka caja, tenapa dia memalahi abang yang nda cengaja?" Celoteh Ara.
"Hmm ... Shaka lapar?" Tanya Alea sambil menatap putranya itu.
"Bunda Ara lapar, tapi Ara mau makan di taman." Pinta putrinya itu.
Alea mengangguk, sepertinya akan lebih baik menyuapi mereka sambil bermain di taman. Apalagi kini cuaca sedikit mendung sehingga tidak panas.
Alea mengambil piring, dia mengambil lauk dan juga nasi untuk kedua anak itu.
"Ayo, kita ke taman belakang." Ajak Alea.
Alea menggandeng lengan Shaka, sementara Ara sudah berjalan lebih dulu.
Sesampainya di sana, Ara langsung meminta di suapkan sambil dia duduk di tepi kolam ikan milik Ethan. Sedangkan Shaka, anak itu hanya berdiam diri sambil duduk di sebelah Ara dengan tatapan ke arah kakinya.
"A sayang," ujar Alea.
"Bunda." Panggil Shaka.
"Hm? kenapa?" Sahut Alea.
"Chaka mau pulang aja, Chaka nda mau dicini hiks ... chaka mau pulang hiks ... ayo pulang hiks ...,"
Alea menghela nafas pelan, jika sudah begini pastinya Shaka tidak akan mau makan. Mood anak itu sudah hancur, nafsu makamnya juga pasti sidah hilang.
"Nanti kita bicarakan sama ayah yah, sekarang Shaka makan. Ayo, bunda suapin," ujar Alea dan kembali memberikan suapan.
"Abic ini kita pulang? kalau chaka makan kita pulang yah," ujar Shaka.
"Iya, abis makan kita omongin sama ayah yah." Bujuk Alea.
Akhirnya dengan rayuan dan segala bujukan, Shaka menerima suapan Alea. Dia ikut melihat ikan milik Ethan, sesekali tangannya bermain air.
Alea merasa tidak tega dengan Shaka, baru di hari pertama saja Shaka sudah seperti ini. Bagaimana jika nanti?
"Sayang, kok kalian disini?"
Alea dan kedua anak itu menoleh, mereka melihat Ady yang datang menghampiri mereka.
Alea kembali menyuapi Ara ketika mulut anak itu sudah kosong, dan selanjutnya menyuapi Shaka. Memang Shaka dan Ara berbeda, jika Ara makan lebih cepat berbeda dengan Shaka yang makan sangat lama. Anak itu akan mengunyah makanannya hingga halus bari ia telan, maka dari itu sangat lama.
Ady ikut duduk di samping Shaka, dia mengelus rambut anak itu. Poni Shaka hampir menutupi mata, sehingga Ady sedikit menyingkirkannya.
"Ayah." Panggil Shaka ketika makannya telah ia telan.
"Hm." Sahut Ady.
"Kita pulang yah, Chaka nda mau dicini. Ayo pulang, Chaka nda mau dicini hiks ...,"
Tangis Shaka pecah, Ady yang memang tak mengerti menatap Alea dengan pandangan bertanya. Alea hanya bungkam, dia kini berada di posisi yang salah.
Alea ingin mengatakannya, tetapi dia takut hubungan Ady dan sang kakak bertambah renggang.
"Hei kenapa? Shaka bosen hm? besok kita jalan-jalan yah." Ujar Ady sambil menangkup wajah anak itu.
"Abang tuh nda bocen ayah, tapi abic di omelin cama ante," ujar Ara.
Ara memang terlalu jujur, hingga kejujurannya membuat Alea menghela nafas panjang.
"Oh yah? di omelin kenapa? apa Shaka buat masalah hm?" Tanya Ady dengan lembut.
Shaka mengangguk, dia masih berusaha mengusap air matanya yang terus turun dengan tangan kecilnya.
"Alea, ada apa ini? apa yang Shaka perbuat hingga dia di marahi oleh kak Siska?" Tanya Ady sambil beralih menatap Alea.
"Nanti aku ceritakan mas, biar mereka selesaikan makan dulu," ujar Alea.
Alea kembali menyuapi Ara, dan saat akan menyuapi Shaka anak itu menolaknya dan menggeleng keras.
"Chaka udah nda laper hiks .. chaka nda laper," ujar anak itu.
"Kamu baru makan lima suap loh," ujar Alea.
Shaka menggeleng, dia masih terisak hingga kesulitan bernafas. Ady dengan segera menggendong keponakannya itu, dia menyuruh Shaka untuk tenang dan berhenti menangis.
"Tenang okay, sesak kan? kalau Shaka kebanyakan menangis, nanti sesak. Gak enak loh," ujar Ady.
"Minum hiks hiks hiks minum," ujar Shaka di sela isakannya.
Ady beranjak masuk, dia menuju dapur untuk mengambilkan SHaka air.
Ady mengambil botol yang berada di meja makan, dia membuka segel botol itu dan membuka tutupnya.
Ady mengarahkan botol tersebut ke mulut Shaka, dengan perlahan SHaka menenggak minumannya.
"Sudah," ucap Shaka.
Ady menutup kembali botol itu, dia menarik kursi dan duduk dengan Shaka yang berada di pangkuannya.
"Coba cerita sama ayah, kenapa Shaka mau pulang?" Tanya Ady ketika Shaka tampak sedikit lebih tenang.
"Tadi tadi ... tadi Chaka mau makan hiks ... telus mamah ambilin Chaka makan. Chaka bilang pilingna belat. Tapi mamah nda dengal hiks ... hiks ... pas Chaka bawa pilingna tebalik cendili," ujar anak itu diiringi dengan isakan akibat menangis.
Ady mengusap punggung sempit Shaka yang bergetar, rasanya dia ingin marah sekaligus tertawa karena perkataan Shaka.
"Terbalik sendiri?" Tanya Ady memastikan.
"Hiks ... hiks ... iya tebalik cendili, nda ceimbang laukna hiks ... hiks ...,"
Ady terkekeh, dia membawa Shaka bersandar pada bahunya. Dia berdiri dan mengayunkan Shaka, biasanya jika Shaka atau Ara habis menangis pasti anak itu akan mengantuk setelahnya.
Tangan kekar Ady menepuk bahu Shaka, Shaka sudah tenang dengan tangan kecilnya yang memainkan mulutnya.
Ady mendengar deru nafas teratur, dia sedikit melirik Shaka. Dan benar saja, anak itu sudah tertidur.
"Ayah!" Seru Ara.
Ady menempelkan jari telunjuknya di depan bibirnya, sehingga Ara mengerti dan langsung menutup mulut kecilnya.
"Solly ayah," ujar Ara.
"Shaka tidur mas?" Tanya Alea yang berjalan di belakang Ara.
Ady mengangguk, Alea pun mencuci piring bekas putrinya. Walau ada pembantu, hanya satu piring apa sulitnya?
"Kenapa di ajak tidur mas? udah sore, nanti gelisah dia kalau bangun," ujar Alea yang sudah selesai mencuci piring.
"Gak papa, sesekali biar tenang dulu," ujar Ady.
Alea mengangguk pasrah, dia melihat putrinya yang tengah berusaha mengambil botol air bekas Shaka tadi.
"Minta tolong dong nak," ujar Alea dengan menggelengkan kepalanya.
Ara hanya menyengir saja, setelah Alea membantunya mendapatkan botol. Ara langsung membukanya dan menenggaknya.
"Haaah ... lega cekali pelacaanku,"
______
up satu lagi yah, tapi nanti okay😘