
"Mas, apa kau lembur? bisakah kau pulang lebih awal?" Tanya Alea sambil memakaikan Ady dasi.
Ady mengerutkan keningnya, dia mengingat apakah ada hal penting hingga dirinya harus pulang cepat.
"Nanti malam aku ada meeting dengan klien, memangnya ada apa?" Tanya balik Ady.
Alea yang udah memakaikan Ady dasi pun menepuk dada suaminya itu dengan pelan, netranya menatap lurus ke arah netra sang suami.
"Siang nanti aku akan mengajak Shaka dan Ara untuk imunisasi, apalagi sekarang tengah musim sakit," ujar Alea.
"Imunisasi?" Heran Ady.
Alea mengangguk, sedetik kemudian dia baru menyadari jika selama ini Ady tak pernah tau Ara imunisasi karena Amanda lah yang menghandle semuanya. Bahkan saat malam Ara menangis, Naura dan Amanda yang menenangkannya.
"Ehm ... sebelumnya memang Ara di imunisasi, itu mamah yang menyuruhku. Dan tadi mamah menelpon jika hari ini jadwal imunisasi Ara," ujar Alea.
"Kenapa aku bisa tidak tahu?" Tanya Ady dengan raut wajah kesal.
"Huftt ... bagaimana kami mau memberitahumu, setiap kali Ara akan terkena suntikan kau langsung memarahi dokter ketika Ara menangis. Apalagi saat imunisasi, bisa heboh nanti," ujar Alea.
Ady menatap Alea kesal, karena bagaimana pun juga dia ingin menemani putrinya itu.
"Sudahlah, nanti siang aku akan membawa mereka imunisasi. Malam nanti, kau temani aku begadang," ucap Alea dan mengambil jas Ady
"Kenapa harus begadang?" Heran Ady.
Alea memutar bola matanya jengah."Tentu saja, sehabis imunisasi badan mereka akan sedikit demam dan akan rewel." ujar ALea sambil mengarahkan sang suami untuk memakai jasnya.
Ady hanya menurut ketika dia di pakaikan jas, dirinya masih bingung dengan perkataan istrinya.
Ady kembali mengingat kapan Ara demam dan menangis semalaman tanpa henti.
Flashback on.
"Oeekkk ... oeekkk,"
Ady yang kala itu tengah tertidur lelap harus terbangun karena suara tangisan putrinya, dia mengucek matanya dan mendapati istrinya yang tengah menimang putrinya itu.
"Syuttt, iya ... sakit yah nak. Sabar yah, besok pagi udah sembuh," ujar Alea pada putrinya.
Ady membuka selimutnya, dia mendekati ALea yang berdiri tak jauh dari kasur. Netranya melihat wajah putrinya yang memerah, di tambah plester demam di kening putrinya itu.
"Ara kenapa Al?" Tanya Ady.
"Demam mas, biasa kok ini. Udah, kamu tidur lagi aja, besok kan masih kerja," ujar Alea.
"Enggak, sinikan Ara. Aku yang akan menenangkannya," ujar Ady.
Alea memberikan Ara pada Ady, Ady yang tak memakai kaos pun langsung bersentuhan dengan Ara yang hanya memakai baju pendek dan popok.
Ara meredakan tangisannya, dia menempelkan kepalanya tangannya di mulut dengan air mata yang menggenang di pelupuk matanya.
"Aku ke luar sebentar." Pamit Alea yang mendapat anggukan dari Ady.
Flashback Off.
Ady mengingat nya, ternyata saat itu putrinya demam karena habis imunisasi. Dia merasa kecewa, kenapa Alea tak memberitahunya barang sedikitpun tentang kondisi putrinya.
Ady memaklumi jika dulu memang mereka belum dekat, masih terbawa ego masing-masing sehingga tak ada keharmonisan untuk sang putri.
"Yasudah, aku berangkat." Putus Ady dan mengecup cepat bibir Alea.
Alea terdiam, dia merasa aneh karena tak biasanya Ady cepat berangkat sebelum ada drama pagi dengan membuat dirinya kesal.
"Ada apa dengannya?" Gumam Alea.
Alea pun mengangkat bahunya, dia membereskan tempat tidur sebelum dirinya ke kamar anaknya.
***
Di kantor, Ady kurang fokus. Dia masih memikirkan putrinya yang akan di suntik.
"Kalau jadi sakit seperti itu, kenapa harus di suntik? bukankah sama saja?" Heran Ady.
Aciel yang mendengar ujaran sang tuan pun menoleh dan menyahut.
"Maksudnya tuan?" Tanya Aciel.
Ady menoleh, dia menceritakan tentang apa yang dia pikirkan. Aciel pun mengangguk mengerti dan tersenyum pada tuannya itu.
"Jadi begini tuan, demam setelah imunisasi adalah tanda bahwa sistem kekebalan tubuh Si Kecil sedang merespons imunisasi. Anda tak perlu khawatir akan hal itu," ujar Aciel dengan bijak.
Aciel menjatuhkan rahangnya, ucapan Ady membuatnya terkejut. Pasalnya, dia tahu karena dirinya bersekolah. Namun, tuannya itu sudah menjadi CEO di perusahaan. Akan tetapi, hal sekecil ini pun dia tak tahu.
"Tuan, kurasa ... kau harus bersekolah kembali." Pasrah Aciel.
"Kenapa begitu?" Bingung Ady.
"IQ tinggiku terasa tak berarti jika berhadapan dengan anda." Ujar Aciel sambil mengangkat tangannya dengan wajah memelas.
Ady menggelengkan kepalanya, dia kembali berkutat dengan laptopnya walau pikirannya tengah memikirkan istri dan anaknya.
"Yah ... hiks ... ekhee yahh hiks ...,"
"Kit ... kit ... hiks ...,"
Entah mengapa suara putrinya mengalun di gendang telinganya, dia sudah menutupnya tetapi suara itu tetap terdengar.
BRAK!
"ARGHHH!!!"
Aciel terkejut, dia menatap tuannya yang berdiri sambil melotot.
"Tu-tuan kenapa?" Kaget Aciel.
"Handle pekerjaanku, aku harus ke rumah sakit menyusul istriku." Putus Ady dan beranjak dari sana.
Aciel melototkan matanya, dia melihat tumpukan dokumen yang belum Ady selesaikan. Dia meneguk ludahnya kasar sambil melemaskan bahunya.
"Hilang sudah harapan mu mak, bos anakmu terlalu tega hingga tak membiarkanku mencari calon menantumu." Lirih Aciel.
Sementara Ady, dia melajukan mobilnya dengan kecepatan lumayan tinggi. DIrinya ingin tiba di rumah sakit secepatnya menyusul sang istri.
Sesampainya di rumah sakit, Ady langsung keluar dari mobil. Ia berjalan cepat hingga tak sengaja menabrak orang.
Bruk!
"Eh, sorry ... Atma?"
Ady menatap wanita yang dirinya tabrak tadi, dia membulatkan matanya ketika melihat itu.
"Maaf, saya permisi," ujar Ady dan akan beranjak pergi.
Namun, wanita itu lagi-lagi menahan tangannya. Ady pun berhenti dan menatap wanita itu.
"Atma, akhirnya kita bertemu disini. Aku kangen sama kamu, dan Farel udah putusin aku. Aku nyesel ma," ujar wanita itu dengan lirih.
Perlahan Ady melepaskan pegangan wanita itu, dia menatap wanita itu dengan raut wajah datarnya.
"Saya tak pernah kenal dengan anda, maaf," ujar Ady dan beranjak pergi.
Wanita itu memandang kepergian Ady dengan sendu, dengan plastik obat yang ia pegang tak sengaja tangannya meremasnya.
"Gak mungkin kamu lupakan aku kan Atma? aku Ayunda, masa lalu kamu,"
Ady sudah sampai di ruang imunisasi, ia melihat Alea yang tengah duduk di bangku tunggu dengan stroller putri dan keponakannya.
"Sayang!" Seru Ady.
Alea terkejut, dia bahkan sampai berdiri melihat suaminya yang ada di sana.
"Mas, kok kamu disini?" Heran Alea.
"Iya, aku kepikiran dengan mereka. Gimana? sudah imunisasinya?" Tanya Ady.
"Belum, antriannya panjang. Untungnya mereka tidur pulas jadi aku sedikit lega," ujar Alea.
Ady berdecak sebal, dia langsung menuju resepsionis dan memberikan kartu VIP agar istrinya segera di dahulukan.
"Mas!" Peringat Alea.
"Kamu diam deh, ini udah mau jam makan siang. Bentar lagi mereka bangun dan rewel, lebih pada begitu mending dipercepat." Putus Ady
____
Bukan konflik perselingkuhan yah kawan, Ayunda aku datangkan sebagai figuran yang akan mengungkap mengapa Ady dengan mudah jatuh cinta dengan Alea.
Dan kita juga akan menyaksikan betapa hebatnya Alea menghadapi Ayunda ini.😱😱😱
Yah, nanti malam aku up satu lagi okay😽😽