Love Binder's Baby

Love Binder's Baby
S2: Kesedihan Shaka



Pulang sekolah, Ara dan Shaka bersiap pulang. Mereka berjalan di.loronh sekolah sambil bergandengan tangan.


Wajah Ara dan Shaka hampir mirip, bahkan banyak yang mengira mereka kembar. MEreka pun menghiraukannya karena masuk akal, apalagi mereka saudara.


"Bang Chakaa!!! Alaa!!"


Langkah keduanya terhenti, mereka berbalik dan melihat Bella yang berlari mendekati mereka.


"Kenapa?" Tanya Ara.


"Kata papah, kalian ikyt oulang cama Bella," ujar Bella.


Satu alis Ara terangkat, dia menatap Bella penuh selidik.


"Kita punya ayah, jadina pulang cama ayah kita lah!" Ketus ARa.


Bella menatap sedih, kemudian netranya menatap Shaka yang hanya menatapnya datar.


"Om macih di lumah cakit jagain adek, om Edgal juga lagi nda bica pulang. Ala cama abang di culuh nginep di lumah Bella," ujar Bell.


"Adek ... Adek, adek ciapa hah?!" Sewot Ara.


"Ara, gak boleh gitu." Tegur Shaka.


Ara mendengus kesal, dia sangat tak suka dengan Bella. Karena semua miliknya selalu di rebut oleh bocah itu, padahal Bella memiliki barang yang sama. Namun, entah mengapa Bella lebih tertarik milik Ara.


"Yaudah, abang sama Ara ikut mobil ayah," ujar Shaka.


Netra Bella berbinar, hatinya sangat senang. Sudah lama dia ingin Shaka ikut menginap di rumahnya. Dia pun tahu jika Shaka adalah abang kandungnya, Nando dan Siska yang menceritakannya sehingga anak itu selalu ingin dekat dengan abangnya.


"Chakaaa!!!" Sewot ARa dengan kata melotot.


"Kamu mau tinggal di rumah sama pak satpam?" Tanya Shaka yang di balas gelengan oleh Ara.


"Yaudah, ikut aja. Besok kita minta pulang ke rumah grandpa reyhan aja kalau ayah sama bunda masih di rumah sakit," ujar Shaka.


Akhirnya Ara mau ikut pulang bersama Bella, walau wajahnya terus di tekuk lantaran kesal. Mereka pun berjalan bersama menuju parkiran mobil, terlihat di sana Nando sudah menunggu di sambil bersandar di mobilnya.


"PAPAAHHH!!!" Teriak Bella dan berlari ke arah Nando.


Nando tersenyum, dia berjongkok di hadapan putrinya. Bella masuk ke dalam pelukan Nando, mereka berpelukan ria tanpa memperdulikan sepasang mata melihatnya dengan tatapan sendu.


Langkah Shaka terhenti, Ara pun jadi ikut berhenti. DI tatapnya wajah Shaka sejenak dan beralih menatap Nando dan Bella yang bercanda.


Tak lama, Ara kembali melihat SHaka. Dia menjadi paham kenapa Shaka terdiam dan mengamati kesenangan ayah dan anak itu.


Di bawanya tangan Shaka untuk Ara genggam, dia memang tak mengerti mengapa Shaka menatap Nando seperti itu. Hanya saja, entah mengapa hati Ara ikutan sakit melihat tatapan Shaka.


"Shaka kan punya ayah, janan sedih," ujar Ara.


Shaka menoleh, dia menatap Ara sejenak. Senyumnya mulai merekah, dia membenarkan ucapan Ara.


"Ya, aku punya ayah." Batin Shaka.


Walau dia jauh dari Nando, tetapi ikatan darah masih tetao ada. NAndo adakah ayah biologisnya, pasti ada rasa ingin di dalam hati Shaka secuil kasih sayang dari ayah kandungnya.


Nando menghentikan candaannya sama Bella, dia menurunkan Bella dari gendongannya ketika melihat Ara dan Shaka yang menatapnya.


"Shaka, Ara ayo sini!" Panggil Nando.


Ara dan Shaka pun melangkah mendekati Nando, Ara menatap Nando sedangkan SHaka tidak. Dia seperti mengalihkan pandangannya pada Nando.


"Ayo kita pulang, aku lelah." Putus Shaka dan berjalan ke kursi belakang.


Nando menghela nafas pelan saat Shaka menghiraukannya dan masuk ke dalam mobil.


"Uncle, Ala macuk yah," ujar Ara.


"Iya sayang, masuklah. Sudah siang, kalian pasti lapar," ujar Nando.


***


"Gimana mas?" Tanya Alea pada Ady yang tengah mengerjakan perkejaan nya di sofa di kamar rawat Sky.


"Sudah, bang Nando tadi udah bilang lagi di perjalanan. Shaka mau pulang sama dia." Ujar Ady tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop.


Alea sedikit risau dengan keadaan putranya, bukan mengkhawatirkan Shaka terluka fisik. Namun, Alea khawatir jika SHaka kembali merasa tersisihkan karena kasih sayang Siska dan Nando yang sangat banyak pada Bella sehingga kasih sayang itu menyingkirkan anak mereka yang lain.


Banyak hal yang terjadi, bahkan Alea tidak tahu bagaimana Shaka saat ini. Anak itu terlalu mandiri, bahkan sakit pun tak pernah mengeluh. Anak yang sangat pintar dan mandiri, bahkan lembut hatinya harus merasakan hal seperti ini.


Sejujurnya, Alea sangat ingin menjadikan Shaka putranya. Namun, Ady menentangnya lantaran mereka harus berurusan dengan pengadilan dan terpecahnya sebuah hubungan persaudaraan.


Ady berkata, jika mereka masih memiliki waktu untuk bersama Shaka. Nando memberikan mereka waktu satu bulan terakhir, sambil Nando berusaha untuk mengambil hati Shaka.


"Aku khawatir sama Shaka mas," ujar Alea.


Ady yang sedang mengetik sesuatu di laptopnya seketika terhenti, dia mendongak dan menatap istri cantiknya itu.


"Apa yang kamu khawatirkan? Shaka bersama orang tua kandungnya," ujar Ady.


"Memang, bukan luka fisik melainkan batin yang aku takutkan. Jika fisik, aku bisa menyembuhkannya. Tapi batin, mau aku sembuhkan dengan cara apapun anak itu tetap terluka. Selama ini aku berusaha memperbaiki mentalnya agar tidak lagi khawatir akan kehilangan. Aku selalu berusaha meyakinkannya, jika ada seseorang yang membuangnya maka dengan tangan terbuka aku akan mengambilnya."


Ady menarik nafas pelan dan menghembuskannya, dia menaruh laptopnya di samping dan berdiri menghampiri istrinya itu.


"Shaka sudah mulai besar sayang, dia pasti bisa menempatkan dirinya," ujar Ady dan berdiri di samling istrinya


"Ya, dia pasti bisa menempatkan dirinya sendiri. Lalu ... apakah dia selalu menempatkan dirinya di posisi orang dewasa? Dia harus mengalah, mengalah dan mengalah. Dia harus tegar dan kuat, kapan dia akan bahagia seperti anak kecil kebanyakan? AKu ingin dia normal seperti Ara, yang memiliki tingkah dan pikiran selayaknya anak berumur 5 tahun. Tapi Shaka tak memiliki itu, kita tak mengajarkannya menjadi dewasa. Tapi anak itu memilih untuk menjadi dewasa karena takut kita akan kecewa pada sikapnya dan mengembalikannya pada orang tua kandungnya,"


"Sayang ...,"


"Shaka mempunyai harapan penuh pada kita mas, dia berharap kita tidak akan pernah mengembalikannya pada orang tuanya. Dia mengatakan padaku lewat tatapan dan hatinya jika dirinya tak kuat secara mental untuk menghadapi orang tuanya yang selalu pilih kasih. Aku ... aku bisa merasakan itu." Sela Alea.


Alea tak membiarkan Ady berbicara, dirinya terlalu banyak memikirkan Shaka. Bahkan, Ara yang anak mereka pun Alea lebih mengutamakan Shaka.


"Apa hak asuh Shaka tidak bisa kita ambil mas?" Tanya Alea.


"Tidak, jika mba siska mau memberikan hak asuh Shaka maka akan mudah. Sudah lah sayang, lagi pula Shaka masih bertemu kita kan?" Ujar Ady menangkan istrinya yang mulai khawatir itu.


Alea mengangguk, dia memeluk suaminya. Ketakutannya bukan berjauhan dari SHaka, tetapi kehidupan anak itu nantinya.


"Sky sudah tidur akibat obatnya tadi, sekarang kau harus menidurkan ku," ujar Ady dengan tatapan nakalnya.


Alea menahan senyumnya, dia memukul dada berotot Ady dengan pelan.


"Di rumah sakit mas, buang pikiranmu itu," ujar Alea.


"Gimana yah, kita sewa kamar sebelah lagi aja apa yah." ujar Ady sambil menaik turunkan alisnya.


"MAS!!!"