Love Binder's Baby

Love Binder's Baby
Episode 105: Ala kecel



Ady berjalan mendekati brankar Alea, dia memiliki firasat jika Reyhan sudah membocorkan segalanya.


"Sayang aku ...,"


"Mas, aku kecewa sama kamu. Kenapa kamu gak kasih tau aku kalau sebenarnya aku masih memiliki keluarga? aku memiliki seorang kembaran dan juga kakek? kenapa kau sembunyikan ini?" ujar Alea.


Ady juga bingung ingin menjawab apa, dirinya ingin berkata jika dia takut Reyhan akan merusak rumah tangga mereka dengan cara memisahkannya dengan sang istri.


"Ada yang belum bisa aku jelaskan Al," ujar Ady dengan memelas.


"APA?!" Sewot Alea.


Ady tampak menghela nafas gusar, dirinya bingung akan bagaimana menghadapi sikap Alea saat ini. Di tambah istrinya itu sedang hamil dan emosinya tak stabil.


"Sayang, aku akan menjelaskan pada kamu. Tapi saat itu rumah tangga kita baru saja membaik, jika aku memberitahukanmu saat ini bisa saja rumah tangga kita hancur," ujar Ady.


"Apa maksudnya?!" Sentak Reyhan.


"Benar bukan? kau tak pernah mengizinkan siapapun dari keluargamu berurusan dengan Keluarga Dominic. Jika saya menikahi Alea cucu anda, itu artinya saya rela melepas kan dia!" Kesal Ady.


"Kenapa kau berpikir seperti itu huh?" Tanya Reyhan.


"Rumah tangga orang tuan Alea hancur karena keegoisanmu, kau memaksa putrimu sendiri untuk bercerai dari suaminya. Bisa saja kau memaksa Alea untuk bercerai dariku!" Marah Ady.


Ady menatap Arga dengan tajam, dia berjalan pelan mendekati pria itu.


"Balas budi katamu? kau sendiri yang mau menikahinya, aku tidak menyuruhmu. Kenapa kau berkata seakan-akan kau berjasa untukku huh?" ujar Ady pada Arga.


"Tentu saja, jika bukan karenaku hubunganmu dan adikku akan hancur!" Sentak Arga.


"BISA KALIAN DIAM HAH?!"


***


Ara memasang raut wajah kesal, dia tengah menunggu sang ayah dan bundanya yang tengah berdebat di kamar sebelah.


"Onty, ayahna Ala mana?" Tanya Ara pada sang suster.


"Sebentar yah, beliau lagi mengurus ibumu cantik. Kau tahu bukan? jika kau akan memiliki adik, selamat untukmu!" ujar sang suster.


"Adik?" Tanya Ara sambil memiringkan kepalanya.


"Yah, ibu mu tengah hamil. Kau pasti senang bukan akan memiliki adik," ujar kembali suster tersebut.


Raut wajah Ara berubah masam, dia pun turun dari brankar sehingga membuat kepalanya terasa sakit.


"Eh?!" Kaget sang suster karena brankar itu lumayan tinggi dan dengan mudah Ara turun.


"Benel-benel ayah mau danti anak! hiks ... ayah nda cayang Ala lagi!" Gerutu Ara dan berjalan keluar.


Suster berlari mengejar Ara, dia berusaha membujuk Ara untuk kembali ke kamar. Setelah lepas infus tadi, ARa merasa sehat-sehat saja dan kini entah dia ingin kemana.


"Maaf dek, yuk kembali ke kamar. Nanti ayahnya cariin loh," ujar sang suster.


"NDA MAU! hiks ... ayahna nda cayang lagi cama Ala hiks ... ayah malah buat anak lagi yang balu. Teltekan cekali pelacaanku loh cuctel,"


Ara menangis di lorong rumah sakit sehingga menarik perhatian orang lain, suster pun tak mungkin memaksa Ara karena takutnya anak itu akan menangis kejer.


Ara berjongkok, dia menangis sambil menyembunyikan wajahnya. Dia menganggap jika Ady sudah tak peduli padanya maka dari itu sang ayah membuatkan adik untuknya.


"Bangun!" Titah tegas seseorang.


Ara mendongak kan wajahnya, kulit putih pipi bulat dan hidung yang memerah membuat kesan imut.


"Kakak danteng tenapa dicini? kakak di buang yah? calon meltua punya anak lagi yah?" Ranya Ara sambil menyedot kembali ingusnya.


Rangga, anak itu mengangkat satu alisnya. Memangnya Ara pikir rumah sakit hanya untuk orang hamil saja? begitulah pikiran Rangga


"Di lantai dingin, kau baru saja sembuh. Aku ... aku disini untuk menjengukmu," ujar Rangga di akhiri dengan lirihan.


"Ala nda cakit kok!" Seru Ara sambil berdiri.


Rangga menggelengkan kepalanya, ini lah yang dia sukai dari anak itu. Sangat ajaib tingkah Ara yang membuatnya tertekan.


Rangga membawa Ara ke gendongannya, dia mengecup pipi bulat Ara sebelum pekikan seseorang membuat mereka menoleh.


Ara di ambil paksa dari gendongan Rangga oleh Ady, ayah Ara itu langsung mengusap pipi putrinya bekas kecupan Rangga.


"Ngapain kamu disini?!" Ketus Ady.


"Nyawer om," ujar Rangga dengan santai.


Ady mengangkat satu alisnya, tak mengerti apa yang Rangga ucapkan.


"Maaf tuan, putri tuan memaksa untuk pulang." Ujar sang suster sambil menunduk.


"Terima kasih kau telah menjaga putriku," ujar Ady.


Suster tersebut pamit, sementara Ady membawa Ara kembali ke ruang rawat anak itu. Rangga, dia tetep kekeuh ingin mengikuti Ady.


"Ngapain kau ngikut?" Heran Ady.


"Menurut om?" Tanya Rangga dengan jengah.


"Tidak tidak! kau tidak boleh ada disini, bisa sakit mataku!" Ketus Ady.


"Yang suruh om ngeliatin aku siapa?!" Malas Rangga.


Ara menatap keduanya secara bergantian, dia juga beru teringat akan kekesalannya pada Ady.


"Lepascin! lepacin! tulunin Ala!" Titah Ara.


"Kamu apa-apaan sih Ra, diem disini! kalau kamu sampe kabur tadi, bisa-bisa di culik kamu tau gak!" Kesal Ady.


Ara menatap sang ayah dengan berkaca-kaca, Rangga juga tak tega dengan Ara yang di omeli seperti itu. Namun, perkataan Ady ada benarnya juga.


"Tuh kan! Balu duga Ayah puna anak lagi, Ala di omelin hiks ... ayah udah nda cayang Ala lagii huaaaa!!" Mewek Ara.


Ady kelimpungan, tiba-tiba pintu terbuka dan terlihatlah Alea beserta Arga dan Reyhan masuk ke dalam kamar rawat itu.


"ARa kenapa mas?" Tanya Alea yang khawatir dengan putrinya.


"Eh Rangga?" Ujar Alea yang baru sadar akan keberadaan Rangga.


"Selamat sore kak, aku kesini mau jenguk Ara," ujar Rangga.


Mendengar perkataan Rangga, Ady menekuk wajahnya kesal. Dia bahkan tak menghiraukan pemberontakan sang putri.


"DIAM ARA! KAU BISA JATUH!" Marah Ady.


"MAS!" Kesal Alea.


Alea mengambil paksa Ara dari Ady, tetapi pria itu tetap menahan Ara di gendongannya.


"Kamu ... kamu sedang hamil Alea!" kesal Ady.


"Memangnya kenapa kalau aku hamil? aku hanya ingin menggendong putriku!" Ketus Alea.


"Dia bisa saja menendang perutmu," ujar Ady.


"Dia bukan musuh mas! dia putriku, mana mungkin dia melukaiku!" Alea merasa tersinggung dengan ucapan Ady.


Tersadar yabg dia ucapkan, Ady melepaskan ARa untuk di gendong Alea. Dia juga baru sadar ternyata Ara sudah menangis kencang hingga wajahnya memerah.


Alea membaringkan putrinya di brankar, dia mengambil botol susu dan meminumkannya pada sang putri.


Reyhan mendekati Ady, dia menarik lengan pria itu untuk ikut keluar bersamanya.


"Saya tahu kamu sedang banyak pikiran, maaf untuk masalah dulu. Jujur, saya tak rela jika Alea sama seperti ibunya. Untuk itu, saya restui kalian dan tolong biarkan kami untuk menjalin keluarga dengan kalian," ujar Reyhan dengan tulus.


"Paman yakin?!" Kaget Ady.


"Yah, Ara masih kecil dan kini dia akan memiliki adik. Saya menyesal telah memisahkan orang tua Alea, untuk itu saya tak ingin kesalahan yang sama terulang," ujar Reyhan.


Ady tersenyum, dia akan mencium tangan Reyhan tetapi pria itu malah memeluknya dengan erat.


Mungkin bentar lagi tamat yah, untuk konflik Shaka kayaknya harus beda novel deh.


oh iya author mau tanya, disini ada gak yang penulis juga? terus udah pernah narik penghasilan juga, ada gak yah? kalau ada, tolong komen yah😍