Love Binder's Baby

Love Binder's Baby
Episode 101: Kesengsaraan Ady



Ara tengah menikmati sempol bersama Shaka, kedua anak itu asik duduk menghiraukan Ady yang tengah membujuk Alea.


Acara belum selesai, tamu undangan masih ada yang datang silih berganti. Razka dan Edgar juga sudah kembali dan kini mengawasi kedua bocah itu.


"Itu apa?"


Ara menundukkan kepalanya, dia melihat Bella yang tengah menatap apa yang dirinya pegang.


"Mau? beli!" Seru Ara dan kembali memakan sempolnya itu dengan gerakan lambat.


Bella melengkungkan bibirnya bersiap menangis, lama-kelamaan bibirnya terbuka dan siap berteriak sebelum Ara menyumpal mulutnya dengan sempol yang ia gigit tadi.


"NYAH! nangis aja keljana, dacal cengeng! makan tuh cempol!"


Bella memakan sempol itu dan kembali ke orang tuanya, sementara Ara menatap Shaka yang terdiam mengamati Bella bersama Siska.


"Chaka mau lagi?" Tawar Ara.


Shaka menoleh, dia menggeleng dan menghabiskan sempol yang berada di tangannya.


"Bunda, Chaka mau pulang." Pinta Shaka pada Alea yang berada di sebrang mejanya.


Alea mengangguk, dia menyadari jika hari sudah siang dan memang waktunya Ara dan Shaka tidur siang.


"Sayang jangan marah dong, aku kan ...,"


"Pu-lang!" Tekan Alea sambil menatap tajam Ady.


Ady meneguk ludahnya kasar, dia sudah berpikir jika sehabis ini dirinya harus berusaha lebih keras lagi agar tidak tidur di ruang tamu malam nanti.


Ady dan Alea pun bangkit, tetapi saat hendak melangkah Tiara mencegah mereka.


"Mau kemana kalian?" Tanya Tiara.


"Kami mau pulang tan, kasihan Ara dan Shaka yang sudah mengantuk," ujar Alea dengan ramah.


"Oh yasudah, boleh tante bermain ke rumah kalian sesekali?" Aju Tiara.


"Bo ...,"


"Enggak boleh, eh maksudnya boleh tapi gak dalam waktu dekat. Kami ada urusan dan takut tidak ada di rumah." Sela Ady.


Alea mengerutkan keningnya, kenapa suaminya tampak khawatir dan takut saat Tiara ingin bermain ke rumah mereka?


"Ohh gitu, Alea boleh tante minta nomor kamu?" Pinta kembali Tiara, dia tak akan menghilangkan kesempatan untuk mendekati ALea dan memberitahu kan semuanya.


ALea menatap Ady, sedangkan pria itu tengah menatap datar Tiara hingga dirinya memerintahkan Alea untuk keluar gedung itu lebih dulu.


"Kamu bawa anak-anak ke mobil, mas ada urusan sebentar," ujar Ady.


Alea menurut, dia membawa kedua anaknya keluar dari gedung untuk menunggu Ady di mobil.


Setelah memastikan Alea dan kedua anaknya pergi, Ady menatap Tiara yang juga tengah menatapnya tajam.


"Kenapa kau terus menghalangi tante untuk dekat dengan keponakan tante sendiri hah?!" Kesal Tiara.


"Aku suaminya, dan aku berhak mengatur istriku!" ujar Ady.


"Kau memang suaminya, tapi aku keluarganya! kau membawa dia kabur dan sekarang kau menghalangiku untuk dekat dengannya!" Marah Tiara.


"Ingat Ady, kau hutang budi dengan putraku Arga saudari kembar istrimu! jika dia tak bersedia menikah dengan Angel, sudah di pastikan Alea akan kembali pada keluarganya dan menceraikan kamu!"


Ady menahan amarahnya, dia hampir lupa akan fakta itu. Netranya beralih menatap Arga yang juga tengah menatap perdebatan keduanya dari atas pelaminan.


"Jangan egois Ady! bisa kapan saja aku memberitahu istrimu itu tentang siapa dia sebenarnya!" ujar Tiara.


"Jika istriku sampai tahu, dan kakek Arga memisahkan kami. Kau akan mejadi tante dan juga nenek yang buruk untuk Alea dan Ara, secara tak langsung kau menginginkan kan perpisahan kami. Jika Tuan Reyhan bersedia untuk berdamai dengan masa lalu, maka dengan hati aku akan memberitahu istriku dan mendekatkannya dengan kalian." Terang Ady.


Setelah mengatakan itu, Ady segera menyusul keluarganya. Sesampainya di mobik, dia melihat Edgar dan Razka yang berada di depan mobil tengah menenangkan Ara yang menangis.


"Kenapa?" Tanya Ady yang khawatir dengan sang putri.


"Biasa kak, pecicilan nyungsep dia pas mau keluar dari mobil," ujar Edgar.


Ady mengerutkan keningnya, dia mengambil alih Ara dari gendongan Razka dan menenangkan putrinya itu.


"APa yang sakit sayang?" Tanya Ady.


Ara menepuk dadanya, wajah anak itu memerah. Ady yang khawatir pun mencoba untuk kembali bertanya pada Edgar.


"Tadi jatuhnya gimana?"


"Tadi nyungsep bang, tengkurep dia tadi," ujar Edgar.


Ady membuka pintu mobil, dia melihat Alea yang tengah menidurkan Shaka.


"Sayang, coba kamu periksa dulu Ara. Katanya dadanya sakit, takutnya ada memar. Aku mau beli minum dulu," ujar Ady.


Alea tentu saja terkejut, dua segera mengambil alih putrinya dan memeriksa keadaannya.


"Iya nih biru, sesak nak?" Tanya Alea.


Ara mengangguk, tak lama Ady kembali dengan sebotol air.


"Gimana yang?" Tanya Ady.


"Biru ini mas," ujar Alea.


Ady memperhatikan apa yang istrinya tunjukkan, dengan segera ia menyuruh Edgar dan Razka masuk dan memerintahkan sang supir untuk melajukan mobil ke rumah sakit.


"Perasaan tadi jatuhnya gak kenceng banget bang, orang udah keburu di tahan sama Razka kok." Heran Razka.


Ady mengerutkan keningnya, tetapi mengapa putrinya tampak kesakitan seperti itu. Pasti ada hal lain yang terjadi.


Ara masih menangis, dia tengah mengatur nafasnya agar bisa berbicara.


"Adek kepentok meja yah tadi pas mau tulun," ujar Shaka.


"Meja?" Bingung Ady, pasalnya dia tak melihat Ara yang kebentur meja.


"Anakmu itu pecicilan bang," ujar Edgar.


Alea menenangkan putrinya dengan cara memberinya minum dan juga menanyakan keadaannya.


Mereka sampai di rumah sakit, Ady segera membawa Ara untuk memeriksakan keadaan anak itu.


Setelah di periksa, ternyata Ara hanya memar ringan dan tak parah. Karena kulit Ara yang putih dan sensitif membuatnya mudah membiru jika terkena benturan.


"Susu Ara di bawa gak yang?" Tanya Ady setelah mereka kembali berada di mobil.


"Habis, aku bawa empat botol. Dua buat Shaka, dua buat Ara. Tapi sisa satu jatahnya Shaka," ujar Alea. Dia tak ingin Shaka merasa di bedakan, untuk itu dia selalu berusaha berbuat adil untuk keduanya.


"Nda papa bunda, buat adek aja. Chaka dah kenyang," ujar Shaka yang mengalah.


Alea tersenyum, dia mencium pucuk kepala Shaka dan memberikan susu botol itu pada Ara.


***


"Mau kemana kamu?" Tanya Ady saat melihat putrinya keluar mengendap-endap.


Ara terkejut, dia membalikkan badannya dan menatap Ady dengan raut wajah takut.


"Ala ... itu Ala mau ...,"


TING! TING! TING!


"BAKSO! BAKSO!"


"CILOOOOKKK,"


Ara meneguk ludahnya kasar, dia berniat keluar karena mendengar ada tukang dagang keliling.


Ady menatap putrinya tajam, dia selalu menghindari putrinya untuk jajan di luar.


"Minta bibi buat buatkan apa yang Ara mau, jajanan begitu gak sehat!" Peringat Ady.


"Lacana beda ayah! ayah nda ngelti tauuuu!!" Kesal Ara dengan berjingkrak kesal.


"Sama saja! minta buatkan bibi!" Titah Ady.


Ara mendelik tajam, dia berjalan mendekati Ady dengan tangan yang masih menggenggam uang logam.


"Mau jajan kok bawanya uang perak, mana laku! gaya-gayaan mau jajan." Sindir Ady.


Ara semakin di buat kesal, langkahnya terhenti dan menatap Ady tajam.


"Makana kacih uang Ala! ayah pelit dacal! bilang aja nda puna uang! lalang lalang Ala buat jajan, tapi nda puna uang! kele dacal," ujar ketus anak itu.


"KERE? AYAH KAYA KAMU TAHU!" Kesal Ady karena putrinya mengatakan jika dirinya kere.


"Oohhh kaya ... belalti pelit! wleee ayah pelit! BUNDAAAA AYOOOKKK KITA CALI CUAMI BALU BUAT BUNDA AJAAA!!" ujar Ara sambil berjalan menjauhi Ady dan tak lama ia lun berlari.


Ady menjatuhkan rahangnya, bisa-bisanya putrinya ingin mencarikan suami baru untuk istrinya.


Kreett!!


"Ala ini bakcona, tadi di belikan cama ... a-yah,"


Ucapan Shaka terhenti ketika melihat Ady menatapnya tajam, Shaka menyembunyikan jajanannya di belakang tubuhnya.


"Habis dari mana?" Tanya Ady dengan dingin.


"Itu Chak habic ...,"


"Ambil mangkok yah bang, nanti bunda nyusul ke dapur." Ujar Alea yang baru saja masuk sambil menutup pintu kembali.


Ady melotot kaget melihat istrinya yang ternyata dalang dari jajanan sang anak. Shaka langsung pergi ke dapur sebelum dirinya menerima amukan dari Ady.


"Apa?!" Tantang Alea melihat raut wajah tak bersahabat suaminya.


"Oh enggak, cuman nanya aja di depan ada yang jualan es cendol gak?" Tanya Ady dengan gugup.


Alea memicingkan matanya, dia melihat raut berbeda dari wajah sang suami.


"GAK ADA! kamu mau mengenang mantan kamu kan! jangan kira aku gak tahu kalau dulu kamu sama dia sering makan cendol!" Sinis Alea.


"Kok mantan si yang? kan aku gak punya mantan, yang ada ...,"


"Gebetan! beda dikit! mantan dapet, gebetan cuman lewat! gak usah banyak omong, tuh gebetan kamu nunggu depan rumah!" Ketus Alea dan berlalu dari hadapan Ady yang kini tengah bingung atas ucapan istrinya.


"Gebetan? emang ada yang?" Tanya Ady sambil berjalan mendekati sang istri.


"Liat di depan sana ah! gak usah ganggu aku!" Kesal Alea.


"Iya yaudah, aku samperin. Abisnya aku bingung gebetan yang mana yang kamu maksud." Gumam Ady sambil berjalan menjauhi Alea.


Tanpa Ady sadari, Alea ternyata telah mendengar gumaman suaminya.


PRANG!!


"DASAR BUAYA!!!!" Teriak Alea setelah membanting panci yang berada di dekatnya.


Ady berlari kencang sebelum panci itu mengarah padanya, sedangkan Shaka dan Ara yang sedang menikmati cilok di ujung tangga hanya menahan tawa melihat Ady.


"Hahaha, lega cekali pelacaanku."