
Sesuai perkataan Ady kemarin, pagi ini ia memboyong istri beserta putrinya keluar dari kediaman Dominic.
"Ady pikirkan baik-baik nak, kasihan eyang. Dia masih ingin bersama cicitnya," ujar Amanda berusaha membujuk putranya.
"Kalau eyang mau tinggal sama Ady ayo, kalau mau tetap disini juga Ady gak larang. Gimana pun juga Ara dan Shaka cicit mereka," ujar Ady.
Amanda tak tahu lagi bagaimana caranya membujuk putranya, ia menoleh pada mertuanya yang tengah menatap Ady.
"Ady, eyang mau ikut sama kamu," ujar Naura.
"Mi, tapi kan Shaka kasihan. Apalagi orang tuanya sedang tak bisa menjaganya," ujar Amanda.
Ady tentu saja mendengar hal itu, dia menarik koper dan merangkul sang istri untuk memasuki mobil.
Melihat gelagat Ady, Robert akhirnya mendekati cucunya itu. Dia menatap sebentar ke arah Ara, dan kembali menatap Ady.
"Sebaiknya kamu tinggal disini, Shaka masih butuh Alea," ujar Robert.
"Dia masih punya orang tua, untuk apa istriku memikirkannya?" Kesal Ady.
Robert menghela nafas berat, ia juga tak bisa lagi menahan Ady. Mungkin ia hanya bisa menjenguk cicit kesayangannya itu seminggu sekali atau akan sangat jarang sekali karena pekerjaannya.
"Jaga diri kakek dan eyang baik-baik, pintu rumah Ady selalu terbuka untuk kalian," ujar Ady dan menatap seluruh keluarganya sebentar.
Setelah itu Ady memasuki mobil, dia mengambil Ara dari gendongan Alea dan mengarahkannya pada jendela mobil.
"Bilang pada kakek jika Ara pergi dulu," ujar Ady pada putrinya.
Ara mengayunkan tangannya sambil berceloteh ringan, tak lama mobil pun berjalan meninggalkan kediaman Dominic yang banyak sekali kisah mereka.
"Mas, aku gak tega sama Shaka." ujar Alea sambil menangis.
Ady melihat istrinya, dia menghela nafas dan menarik sang istri kedalam pelukannya. Dia pun mencium kening sang istri, sementara Alea menyembunyikan wajahnya di dada bidang sang suami.
"Kita akan menjenguk dia, tapi gak bisa sering. Kamu tau kan masalah mas sama Kak Siska, kamu harus paham," ujar Ady.
Alea mengangguk, dia masih sedih karena harus berpisah dengan Siska dan Shaka. Mereka sudah Alea anggap seperti keluarga sendiri.
"Edgar gimana?" Tanya Alea di sela tangisnya.
"Pulang sekolah, aku akan menjemputnya. Barang-barangnya pun sudah aku bawa bersama kita, tak perlu khawatir jika Razka mau ikut tinggal aku juga tak masalah." ujar Ady sambil menghapus air mata sang istri dengan satu tangannya, karena tangan yang lain dia gunakan untuk menahan tubuh Ara yang tengah berdiri sambil bertopang pada jendela mobil.
Alea menjauhkan dirinya, dia menghapus sendiri air matanya walau masih sesenggukan. Keputusan Ady adalah keputusan mutlak dan tak dapat dirinya ganggu walau dengan rayuan sekalipun.
Pria itu jika sekali berkata tidak, maka dia tidak bisa membatalkannya. Alea tentu paham sifat Ady yang egois dan keras kepala, dan tak jauh beda dengan dirinya.
"Oaaa ... yah ... yah ... Eheee,"
Mendengar celotehan Ara ady pun menoleh, dia menatap apa yang putrinya lihat dengan senyum di bibirnya.
"Badut yah, itu badut," ujar Ady.
Berhubung lampu merah, tentu saja mobil yang mereka tumpangi terhenti. Ara yang baru pertama kali melihat badut seketika langsung berbinar karena merasa lucu.
"Eheee,"
Ara tertawa sembari bertepuk tangan, Ady pun menahan tubuh putrinya agar tak terjatuh. Ara memang kelewat aktif, Ady dan Alea terkadang khawatir pada anak itu. Berhubung dokter Ara mengatakan jika hal itu sangat bagus kerena membantu mengembangkan pikiran anak mereka menjadi sedikit lega.
Dengan sengaja, Ady membuka jendela kala badut itu mendekat. Ia mengeluarkan uang berwarna merah dan menyerahkannya ke badut itu.
Ara memperhatikan apa yang dilakukan sang ayah, dia menepuk tangan Ady dengan beberapa kali.
"Iya sayang, sebentar yah," ujar Ady.
Ara kembali menepuk tangan ayahnya, seketika Ady mengerti. Ia menyerahkan uang itu pada Ara, dan Ara pun mengulurkan tangannya pada badut tersebut.
"Terima kasih adek manis." ujar badut tersebut sambil menerima uang.
"EHEEE! YAAA!"
Ady melongo, bukan hanya dia tetapi Alea juga. Pekikan Ara membuat mereka terkejut, putri mereka sangat narsis dan juga pintar.
"Makasih om," ujar badut itu dan pergi.
"Kamu genit banget sih nak," ujar Ady dan menciumi wajah cantik putrinya.
Tak lama mobil mereka pun sampai, mereka turun dan memandangi rumah minimalis yang terkesan elegan itu.
Ady merangkul Alea sambil menatap rumah itu dengan Ara di gendongan tangannya yang lain.
"Kamu suka?" Tanya Ady.
Alea mengangguk. "Rumah ini aku buat saat kita menikah, hanya saja aku ingin memberimu kejutan ketika kabar kehamilanmu tiba. Namun, ternyata takdir lebih manis dari pada rencanaku," ujar Ady.
Mendengar hal itu Alea menjadi sedih, dia menundukkan kepalanya. Ady yang sadar segera mencium kening istrinya dan memeluk istrinya dari samping.
"Sudahlah, semua sudah berlalu. Aku tak bermaksud membuatmu teringat masa pahit itu, melainkan aku mau kita menyambut lembaran baru," ujar Ady.
Ady menyuruh supirnya untuk membawa barang-barang mereka ke dalam, sementara Ady membawa Alea masuk ke dalam rumah itu.
"Nah, disini kamar kita. Aku sudah membuat pintu penghubung dengan kamar yang di sebelah, sengaja aku desain seperti ini agar kita bisa mengawasi putri kita." ujar Ady sambil menjelaskan kamar yang terletak di bawah.
"Di atas ada kamar?" Tanya Alea.
"Ada, tapi itu kamar tamu. Aku takut Ara naik turun tangga, dan kamu juga gak lelah. Di atas juga ada taman kecil, kau bisa mengajak Ara bermain sambil di pantau. Di belakang ada kolam renang, aku membuatnya agar bisa melatih Ara renang." Terang Ady.
Selesai menjelaskan, Ady dan ALea beristirahat. Begitu pula dengan Ara, karena bayi itu tengah menyusu pada ibunya sambil memainkan kancing baju sang ibu.
"Berapa anak yang mas mau?" Tanya Alea sambil mengelus rambut sang putri yang.mulai tebal.
Ady menekuk alisnya dan berpikir. Dirinya memang sangat ingin memiliki anak banyak, tetapi dia takut akan menelantarkan sang anak dari kasih sayang yang harus terbagi.
"Tiga, mas mau tiga," ujar Ady.
"Kalau aku mau dua," ujar Alea.
Mendengar hal itu Ady menjadi bingung, kenapa harus dua? kenapa tak tambah satu lagi biar ganjil?
"Ara dan adiknya, karena aku kau kasihan sayangku fokus pada mereka. Banyak sekali anak yang kekurangan kasih sayang dan pengajaran karena orang tua yang tak becus mengurus anak. Aku masih merasa kurang memiliki pemahaman dalam mengurus anak, jadi aku tak mau egois. Jika nantinya kita masih di beri rizki anak kembali, aku akan mencoba jadi ibu yang lebih baik lagi." Terang Alea.
Ady sungguh takjub dengan penuturan istrinya yang sangat dewasa, tapi dia bingung bagaimana jika Ara memiliki adik saat putrinya itu masih kecil.
"Al ...." Panggil Ady.
"Hm." Sahut Alea.
"Kamu pakai KB yah," ujar Ady.
Seketika Alea mengalihkan pandangannya dan mengerutkan keningnya.
"Kenapa?" Tanya Alea.
Ady menatap Ara yang sudah sayup-sayup akan tertidur, dia mengelus kening putrinya agar bayi itu tertidur dengan cepat.
"Kalau kamu hamil saat Ara masih bayi seperti ini aku kasihan, dia masih butuh bimbingan kita. Kita fokuskan dulu pada pertumbuhan Ara, tanamkan apa yang baik untuk dia. Aku takut kita lalai karena adiknya nanti," ujar Ady.
Alea akhirnya paham apa yang di maksud suaminya, tanpa pikir panjang Alea menuruti tanpa protes. Dia juga sebenarnya sepemikiran dengan Ady, mereka harus lebih ketat menjaga Ara yang sebagai putri pertama mereka.
"Kalau umur dia 5 tahun, gak papa kalau kita buat triple untuk adik Ara nanti." ujar Ady sambil menaik turunkan alisnya.
Alea mendengus, dia memutar boal matanya malas. Sudah tahu apa yang di maksud suaminya itu.
"Kita gak ada turunan kembar, mana bisa!" Ketus Alea.
Seketika Ady terdiam seribu bahasa, seperti ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Apakah dia salah menyembunyikan hal ini dari Alea? tapi dia takut istrinya drop karena banyaknya masalah yang mereka lalui saat ini.
"Eh, tapi kan bisa program yah," ujar Alea yang mana membuat Ady tersenyum lega.
"Hahaha, iya,"
________
Tadinya mau double up, eh malah sibuk banget di suruh ini dan itu😪😪😪
Maaf gaes, mungkin beberapa hari kedepan kita akan double up. Terima kasih untuk kalian yang setia menunggu, untuk besok aku usahain untuk up.