
Hari ini Ady mengajak istri beserta anaknya melakukan konferensi pers, mereka tengah masuk ke ruang acara.
Ady mengenakan jas biru dengan kaos hitam di dalamnya, sedangkan Alea memakai dress berwarna senada dengan Ady. Ara, bayi kecil itu yang tengah berada di stroller memakai gaunnya yang berwarna merah muda.
"Silahkan tuan Ady, sebelah sini." Ajak seorang petugas.
Tangan kanan Ady merangkul pinggang sang istri, sementara stroller di dorong oleh Aciel yang di bawa oleh Ady agar ia membantunya.
Ady menarik kursi untuk istrinya, setelah Alea duduk Ady ikut duduk di sebelahnya. Sementara Aciel berada di kursi paling pojok, dia harus menjaga putri bosnya.
"Kau cantik sekali, jika saja kita bertemu pas aku masih bayi. Aku akan menikahimu," ujar Aciel dengan suara berbisik pada Ara yang tengah tertidur.
Konferensi pers pun di mulai, seorang pembawa acara mulai berbicara. Setelahnya Ady mendekatkan sebuah pengeras suara ke bibirnya.
"Selamat siang semuanya, saya Adyatma Putra Dominic. Seorang penerus pertama keluarga DOminic ingin memberikan klarifikasi mengenai berita terkait wanita di samping saya dan juga bayi yang ada di stroller itu,"
"Oke, silahkan ajukan pertanyaan. Saya akan menjawab sesuai apa yang ada." Lanjut Ady.
Seorang wartawan berdiri, dia menatap Ady sambil memegangi pengeras suara.
"Baik tuan Ady, beberapa bulan lalu kami melihat anda menggendong seorang bayi memasuki.rumah sakit. Apakah betul bayi itu putri anda? dan apakah putri anda adalah maaf ... anak haram seperti berita yang beredar?"
Ady berdehem sebentar, dia menatap Alea yang malah menundukkan pandangannya. Ady menggenggam tangan Alea dan mendekatkan bibirnya pada telinga sang istri.
"Angkat kepalamu, aku tidak mau mahkotamu jatuh. Tunjukkan pada mereka jika kamu pantas di sebut dengan nyonya muda Dominic,"
Alea tersenyum, dia mengangkat kepalanya. Ady yang melihat hal itu membalas senyuman sang istri.
"Ekhem, okay ... jadi bayi itu adalah putri saya dari pernikahan yang sah," ujar Ady.
"Baik tuan, terima kasih atas jawaban anda," ujar wartawan itu.
Wartawan lain berdiri, ia akan kembali memberi pertanyaan. Alea dan Ady sudah mempersiapkan jawaban yang pas.
"Tuan Ady, siapakah wanita di samping anda? apakah dia wanita simpanan seperti kabar yang beredar?" Tanya wartawan tersebut.
Ady mengerutkan keningnya, dia merasa heran dengan orang yang bertanya Bukankah dengan jelas dia mengucapkan jika putrinya dari pernikahan yang sah? sudah pasti wanita yang di maksud adalah istrinya bukan?
"Bukankah saya mengatakan jika putri saya dari pernikahan yang sah? secara garis besar wanita di samping saya adalah istri saya, ibu dati anak saya. Apa hal itu kurang jelas?" Tegas Ady.
Wartawan itu pun akhirnya kembali duduk, berganti dengan yang lain. Seorang wartawan bertubuh gemuk pun berdiri ingin mengajukan pertanyaan seperti rekan lainnya.
"Mengapa anda tidak memberitahu pernikahan anda ini? apakah ada hal yang harus di sembunyikan?"
"Betul, ada hal yang seharusnya saya sembunyikan bahkan dari istri saya sendiri. Saat itu saya tengah menjalani peran sebagai pelayan resto, dan dengan lancangnya saya melamar seorang wanita dengan gaji tak sampai 2 juta,"
"Wanita hebat yang ada di samping saya, dia menemani saya walaupun dalam keadaan miskin sekali pun. Dia menjadi pelengkap semua kekurangan saya, untuk itu ... hormati dia sebagai istri dari penerus utama keluarga Dominic. Karenanya, seorang cucu perempuan Dominic lahir,"
Alea tak sanggup lagi menahan air matanya, ia menitikkan air kata ketika mendengar sang suami memujinya.
"Jadi jangan kalian katakan jika istriku hanya mengincar hartaku, jika itu terjadi pasti dia tak akan mau menikah denganku dan lebih memilih bersama pria kaya lainnya." Lanjut Ady.
Mereka semua tersenyum harus, ada yang menutup mulutnya karena memekik gemas. Ada yang berbincang dengan yang lain, ada juga yang hanya terdiam.
"Bolehkah saya meminta pada anda?" tanyanya kembali.
"Silahkan," ujar Ady.
"Tolong perlihatkan putri anda pada kami," ujar wartawan itu dengan sopan.
Ady menekuk alisnya, ia menoleh pada Alea meminta saran. Alea mengangguk, dia tak masalah. Lagi pula Ara berhak di umumkan ke publik, tetapi sepertinya Ady keberatan.
"Maaf, bisa ganti permintaan lain?" Tanya Ady.
"Tidak tuan, kami penasaran dengan putri seorang Dominic," ujarnya.
Alea berbisik sesuatu, Ady menatap tak suka. Tetapi Alea malah memanggil Aciel untuk membawa stroller Ara mendekati mereka.
"Al! Tegur Ady.
"Satu kali ini saja, tidak papa," ujar Alea.
Alea membuka tudung stroller, ternyata putrinya sudah bangun. Mungkin karena pacifier yang terisi madu sehingga putrinya tak menangis.
Alea membawa Ara ke gendongannya, ia membenarkan gaun belakang sang putri. Tatapan Ara menyamping ke arah sang ayah, Ady dapat melihat putrinya yang tengah menatapnya.
Ady mengambil putrinya dari gendongan Alea, ia menghadapkan sang putri pada mereka. Tangan Ady melilit perut putrinya untuk menahan tubuh sang putri.
Mereka semua langsung mengambil gambar, terdapat banyak kamera Flash dan hal itu membuat Ady langsung menutup mata sang putri.
"Maaf, bisa tolong di matikan? mata putriku bisa sakit," ujar Ady.
Mereka menurut, dan kembali mengambil gambar. Ady pun memperlihatkan pada mereka tentang sang putri.
"Dia lucu sekali,"
"Kau benar, keturunan Dominic tidak dapat di ragukan,"
"Iya, istrinya juga sangat cantik dan sepertinya sangat cocok menjadi model,"
Begitulah kira-kira apa yang mereka ucapkan, Alea yang sangat cantik dan Ady yang sangat tampan. Tentu saja Ara mewarisi kedua orang tuanya.
"Apakah bayi itu memakai soflen? kenapa warna matanya tidak sama dengan kedua orang tuanya?"
Ady mendengar pertanyaan itu, sehingga ia berusaha menjelaskan.
"Putriku menurun dari keluargaku, kakekku Robert Dominic ia memiliki warna mata berwarna abu. Hal itu menurun pada putriku," ujar Ady.
Mereka semua akhirnya paham dari mana turunan itu, pantas saja wajah Ara lebih mirip seperti bule. Memang Ady adalah keturunan bule, hanya saja dia lebih menurun wajah sang ibu.
"Tidak ada pertanyaan lagi bukan? baik, sampai sini saja pertanyaannya karena saya masih ada urusan lagi," ujar Ady.
Mereka pun mengangguk, dan tiba-tiba saja mereka memekik gemas karena Ara menjatuhkan pacifiernya dan tersenyum membuat matanya menyipit serta lesung pipi yang terlihat.
"Wah cantik sekali, lihatlah senyumnya yang manis itu," ujar seorang wanita.
Ady menunduk, dia melihat putrinya yang malah menampakkan senyum manis.
"Jangan tersenyum sayang, senyumanmu itu mahal," ujar Ady dan membalikkan tubuh sang putri.
Alea tersenyum, dia mengelus punggung putrinya yang ada di gendongan suami.
***
"KAMU NGAPAIN SIH PAKE ACARA LIATIN WAJAH ARA KE KAMERA HAH?! BISA DI CULIK ANAKMU ITU ADYYY!"
Sedari tadi Ady merasa lelah karena terus di ceramahi oleh Robert, bahkan Ethan pun ikut mengomeli anaknya.
"Tadinya aku gak mau, tapi kata Alea gak papa. Yaudah, orang yang ngeluarin dia udah ngizinin juga," ujar Ady membela diri.
Alea tak ada di sana karena sedang menidurkan putrinya, ia menyerahkan kemarahan dan kekesalan mertuanya pada sang suami.
"Kan bisa kamu tolak!" Greget Ethan.
Ady sudah merasa lelah, sehingga ia berkata demikian, "Nanti kalau di culik aku tebus pake pesawat punya kakek, udah yah aku ngantuk banget ini,"
Ady langsung pergi dari uang tamu, ia sudah sangat mengantuk karena beberapa hari ini doa terus tidur siang menemani istri beserta putrinya.
Cklek!
"Udah selesai dengerin nasehatnya mas? catetannya mana?" ujar Alea meledek suaminya.
Ady mendengus sebal, sedangkan Alea malah terkikik geli. Ady membuka jas menyisakan kaos hitam, setelahnya ia merebahkan dirinya di samping sang istri.
"Seneng yah suaminya kesiksa begini?" Kesal Ady.
"Siapa bilang? aku malah bahagia mas bukan seneng lagi," ujar Alea.
Ady melengos, bukannya di bela malah tambah di buat sebal. Jika saja tak ada Ara mungkin Ady akan langsung mengerjai Alea.
"Oaaa ... oaaa ...,"
Ady menoleh, dia melihat putrinya yang tengah mengemut jarinya.
"Kau juga senang melihat ayahmu ini di omeli oleh pawang mu huh?" ujar Ady.
Ara malah tersenyum lebar, Ady yang melihat itu langsung menghujani putrinya sebuah kecupan di pipi.