Love Binder's Baby

Love Binder's Baby
Episode 69: Bagi raport



Mobil Tesla milik Ady terparkir rapih di parkiran, pria itu turun sambil memakai kancing jasnya. Pekikan histeris dan juga omongan orang terdengar samapi ke telinganya, hanya saja Ady tak menghiraukannya.


Dia memutari mobil dan membukakan pintu mobil penumpang, keluarlah Alea sambil menggendong Ara.


"Yah ... yah ... yah!" Celoteh Ara ketika melihat Ady.


"Sama bunda dulu yah, ayah harus cari ruang kepala sekolah," ujar Ady pada putrinya memberi pengertian.


Ady kembali menutup pintu mobil, dia merangkul pinggang Alea memasuki sekolah.


"Eh, itu bukannya tuan Ady? Kenapa dia ada disini?"


"Kau ini bagaimana, adiknya kan sekolah disini,"


"Iya, tapi siapa wanita di sebelahnya?"


Ady menghiraukannya,dia semakin mengeratkan rangkulannya kala melihat siswa laki-laki yang memuji kecantikan Alea.


"Ingin rasanya aku lempar mereka," ujar Ady dengan berbisik.


Alea menggelengkan kepalanya, dia tentu paham dengan sikap posesif Ady.


"Di ujung sana kelas Edgar, kau temui dia dulu. Aku harus ke ruang kepala sekolah untuk membayar keperluan Edgar." Ujar Ady sambil melepas rangkulannya.


Alea mengangguk dan beranjak pergi. Sedangkan Ara, dia merasa terpisah dengan sang ayah pun berteriak keras.


"YAAAAHHH! YAHHH!"


"Syut, ayah sedang ada keperluan," ujar Alea.


Ara memajukan bibirnya, dia masih menatap kepergian Ady yang sudah menjauh. Banyak sekali murid yang menatap Ara dengan tatapan kagum dan gemas, bahkan mereka mengigit dalam pipi mereka karena keimutan Ara.


Alea sampai di kelas Edgar, dia melirik sebentar ke dalam untuk mencari Edgar.


Puk!


Alea terlonjak kaget, dia menoleh dan mendapati Razka yang tengah menatapnya heran.


"Kakak ngapain kesini?" Tanya Razka sambil memainkan tangan kecil Ara.


"Ngagetin aja kamu! kakak mau ambil rapot Edgar, mamah sudah datang?" Jawab Alea dan gantian bertanya.


Razka menggaruk kepalanya, terlihat remaja itu tengah menyembunyikan sesuatu.


"Belum, aku tak memberitahunya. Sepertinya nilaiku turun, aku sudah bosan dengan ocehan mamah," ujar Razk.


"Terus biasanya siapa yang mengambilkan kamu rapot?" Heran Alea.


"Itu ... aku membayar tukang ojek untuk berpura-pura menjadi asisten papah, hehe,"


Mendengar jawaban Razka, Alea pun menggelengkan kepalanya. Dia tak mengira jika Razka akan melakukan hal itu demi menghindari ocehan Amanda.


"Yasudah, kakak akan masuk," ujar Alea.


"Kak,"


"Hm?" Tanya Alea ketika Razka memanggilnya.


"Sekalian punyaku juga yah, Soalnya tukang ojek biasanya lagi ke kampung." Ujar Razka sembari cengengesan.


Alea memutar bola matanya, awalnya kaget tetapi dia paham sifat Razka yang takut terhadap Amanda.


"Hem, kakak masuk dulu," ujar Alea dan berlalu masuk.


Ara hafal wajah Razka, dia melihat Razka dan merentangkan tangannya. Walau jauh jangkauannya, Ara masih berharap Razka menggendongnya.


"Kenapa dek?" Heran Alea.


"Ka-ka ...." Celoteh Ara.


Pandangan Alea mengarah pada pintu, di sana Razka masih berdiri sambil mengajak bercanda Ara dengan menepuk tangan.


Alea pun memanggil Razka untuk mendekatinya, sepertinya adik iparnya itu sangat menginginkan bermain dengan Ara.


"Iya kak?" Sahut Razka yang sudah berdiri di depan Alea.


"Bawa Ara keluar main yah, kamu jamkos kan?" Tanya Alea.


"Iya, beneran nih kak? wah ... ayo Ara kita main!" Seru Razka.


Razka membawa Ara ke gendongannya dan mengajaknya keluar, Alea hanya tersenyum melihat kebahagiaan remaja itu yang sangat sederhana.


Alea yang di tanya seperti itu menjadi kikuk sendiri, dia juga bingung mau jawab apa. Jujur pasti mereka tak percaya dan jika berbohong mereka pun akan curiga. Serba salah memang.


"Eh itu ... hanya kenal saja kok bu," ujar Alea.


"Oalah, situ pekerja di rumah Dominic yah?" Tanyanya lagi dengan mada menyindir.


Alea hanya tersenyum, itulah jalan tengah dari semua pertanyaan yang ada.


Tak lama dia melihat Edgar yang masuk sambil membawa sebuah buku, remaja itu duduk di samping Alea dan membaca buku itu tanpa menghiraukan sang kakak.


"Gajinya berapa bu kerja di sana, pasti gede lah yah. Cukup buat sehari-hari, disini ngambil rapot tuan muda nya yah?" ujar wanita itu kembali.


"Eh,"


Edgar menoleh, dia mengangkat satu alisnya ketika mendengar perkataan ibu itu mengenai sang kakak.


"Hahaha, iya mungkin begitu bu," ujar Alea memilih damai.


"Iyalah, tapi kok yah kamu cantik banget. Apa pembantu disana harus yang berkelas," ujar wanita itu kembali.


Alea menggaruk pipi putihnya, dia bingung ingin menjawab apa. Sementara Edgar tengah menahan rasa kesal karena sang kakak tak mencoba jujur. Apakah ibu itu juga tidak tahu Alea? padahal Alea sudah muncul di berita, dan mengapa banyak diantara mereka yang belum tahu.


"Kak, Ara mana?" Tanya Edgar menyadari jika keponakannya tak bersama sang kakak.


"Ada tuh." Ujar Alea sambil menunjuk ke arah Razka yang datang sambil membawa Ara.


Razka menyerahkan Ara, dia akan duduk di depan mereka dan menunggu pembagian raport.


"Yah yah yaaahh!" Teriak Ara sambil bertepuk tangan.


Atensi Alea dan kedua adiknya mengarah pada Ady yang baru saja masuk kelas, bukan hanya mereka melainkan seisi kelas melihat Ady.


Suasana menjadi hening, terkejut karena melihat Ady yang berada di kelas.


"Kok kamu disini mas?" Tanya Alea dengan berbisik.


Ady terheran. "Loh, kan kita mau ngambil raport Edgar kan?"


Bukan itu masalahnya, dia harus menghadapi pertanyaan orang-orang yang menatapnya dengan pandangan berbeda di dalam kelas ini. Risih? tentu saja, bahkan Alea ingin secepatnya pulang.


"Yah yah!" Celoteh Ara sambil menaikkan tangannya.


Ady menundukkan kepalanya, dia tersenyum dan membawa putrinya itu ke gendongannya. DIa melirik Razka dan duduk di samping adiknya itu.


"Bagaimana kabarmu?" Tanya Ady sambil memainkan tangan Ara.


"Baik, tapi ... Shaka sangat rewel. Setiap malam dia terus memanggil ndaa, ndaaa ... dia tahu jika bundanya tidak ada. Kalau bisa, sepulang dati sekolah jenguk dia. Badannya juga tak segembul sebelumnya, selalu gak mau minum susu dan Kak Siska sangat stress karena merawat dua orang sekaligus." Terang Razka.


Ady mengangguk, dia terdiam dan tak berbicara kembali hingga acara pembagian raport itu berjalan.


Ady bingung, dia sangat tidak mau bertemu dengan kakaknya. Entah mengapa ketika dia melihat sang kakak yang bersama dengan suaminya itu mengingatkan ia dengan calon anaknya yang sudah tiada. Hati Ady masih sangat terluka, dia masih belum menerima sepenuhnya.


"Oaaa?"


Ady menunduk, dia terheran ketika melihat putrinya memperhatikan sesuatu. Netranya menajam untuk melihat apa yang tengah putrinya perhatikan.


"Semut dek," ujar Ady menanggapi apa yang di lihat sang putri.


Ara ingin mengambilnya, tetapi Ady langsung memegang tangan putrinya dikarenakan semut itu adalah semut merah yang jika dia sudah mengigit akan terasa panas dan gatal.


"Jangan yah, sakit gigit nanti," ujar Ady.


"Git?" sahut Ara yang di angguki oleh Ady.


Berselang waktu, mereka pun memutuskan untuk pulang dengan Edgar dan juga Razka karena remaja itu memaksa pulang bersama.


"Eh bang, ke rumah utama yuk. Kak Siska dan Bang Nando lagi chek rutin di rumah sakit, sekalian jenguk Shaka. Kasihan loh dia," ujar Razka di sela perjalanan mereka.


Alea menoleh menatap Ady yang tengah fokus menyetir, dia memegang salah satu lengan Ady yang berada di atas paha.


"Mas, sekali ini aja turunin ego kamu. Aku kangen dengan Shaka, pasti Ara juga kangen dengan abangnya." Pinta Alea dengan wajah memelas.


"Huft ... oke,"


_________


Tadi mau up dua, tapi ... kenapa keyboardnya eror woy😭😭😭😭 ini aja buatnya berjam-jam😭😭