
Sesuai perkataan Ady, siang ini dia datang bersama teman yang ia maksud. Bahkan temannya itu membawa ketiga putra mereka yang sudah lumayan besar.
"Silahkan duduk, aku akan memanggil istriku sebentar," ujar Ady untuk pamit pada temannya itu.
Kedua orang itu mengangguk, sementara anak-anak mereka hanya cuek.
"Mas, kira-kira seimut apa yah anaknya? aku gak sabar mau ketemu dia," ujar seorang wanita itu dengan antusias.
"Pas aku lihat fotonya, dia sangat lucu dan imut. Kau pasti akan suka," ujar pria yang di sebelahnya.
Wanita itu tampak tersenyum lebar, bahkan senyumannya tak luntur. Ia sangat menunggu Ady membawa Opi agar di kenalkan dengan mereka.
Anak sulung mereka, terlihat menatap ponselnya. Dia selalu asik bermain game dan tak menghiraukan sekitarnya. Dia datang karema menuruti perintah orang tuanya, karena sebenarnya anak itu tak terlalu suka keluar rumah.
"Oaaa ...,"
Anak yang tengah bermain game itu seketika terdiam karena mendengar suara, dia pun menaruh ponselnya dan menatap ke arah sudut rumah.
Di sana terlihat Ara tengah memakan sebuah biskuit dengan asik, bahkan sedari tadi mereka tak menyadari jika bayi itu sudah berada disitu sejak mereka masuk.
"Kenapa bisa hilang?"
"Tadi aku tinggalin sama Shaka mas, aku harus ngangkatin jemuran karena mau hujan,"
"Coba kita cari, biasanya dia main di dapur,"
Mereka yang ada di ruang tamu terdiam mendengar obrolan Ady dan Alea saat melewati ruang tengah.
Tampaknya Ady mencari keberadaan Ara yang entah dimana bayi itu berada.
Anak tadi mengerti siapa yang Ady cari, dia pun mendekati Ara yang masih dengan biskuitnya yang hampir habis.
Hap!
Ara tiba-tiba saja terkejut karena tubuhnya melayang, dia menatap orang yang menggendongnya dengan tatapan kaget.
"Rion, siapa yang kau gendong?" Tanya pria itu dengan tatapan bingung.
Anak yang bernama Rion itu menggeleng tak tahu, dia hanya duduk di depan orang tuanya sambil memangku Ara yang kembali fokus pada biskuitnya.
"Astagaa .... lucu sekali ... apa ini anak Ady mas?" Tanya istri dari teman Ady tersebut.
Pria itu menggeleng tak tahu, doa tak pernah melihat Ady membawa Ara sebelumnya. Tapi dia yakin, jika Ara adalah putri Ady. Karena bayi itu terlihat sangat mirip dengan Ady.
"Ekhem, maaf Bima. Aku sedang mencari putriku, dia sudah bisa merangkak dan sering kali menghilang." Ujar Ady sambil berjalan masuk ke arah ruang tamu.
Baru saja dia berbicara seperti itu, netranya melihat putrinya yang tengah duduk anteng di pangkuan putra temannya.
"Astagaaa ... Araaa, kemana saja sayang. Bunda cariin tuh," ujar Ady dan mendekati putrinya.
Ara yang mendengar suara sang ayah pun mendongak, dia menggerakkan badannya dengan antusias saat melihat Ady.
"Yah ... yah ... yah!" Celoteh Ara.
Ady langsung membawa putrinya ke gendongannya, dia mengecup pipi bulat sang putri yang wangi biskuit.
"Maaf yah nak Rion, om kira Ara gak ada disini," ujar Ady pada anak temannya itu.
Rion hanya mengangguk singkat, kemudian dia kembali bermain ponselnya. Sedangkan kedua adik kembarnya hanya menatap kejadian barusan dengan tenang.
Ady duduk di sofa single bersama putrinya yang duduk di pangkuannya.
"Jadi ini anak yang kamu ceritain waktu itu? hebat yah istri kamu, semasa hamil gak ada kamu di sampingnya. Untung kuat, ampe gemuk begini putri kamu," ujar Bima pada temannya itu.
"Hahaha, iya. Kau tahu sendiri, kalau tahu dari awal yah aku gak bakal ninggalin sendirian. Orang tahunya telat," ujar Ady.
kedua pria itu akhirnya mengobrol, walau tampang mereka datar. Tetapi, bisa di katakan mereka humoris jika bertemu dengan orang yang tepat.
"Oh iya, mana anak yang kamu maksud?" Tanya Bima di sela obrolan mereka.
"Bentar lagi, tadi lagi tidur. Kecapean kayaknya," ujar Ady.
Bima pun mengangguk, dia melihat istrinya yang sepertinya sudah tak sabar bertemu dengan calon anak mereka.
"Maaf lama, ayo sayang,"
"Nah itu dia, sini Opi!" Pinta Ady.
Opi memandang Alea sejenak, setelah mendapat anggukan dari Alea dia pun segera berjalan ke arah Ady.
"Ayo, kenalkan diri kamu sama tante dan om," ujar Ady.
Opi memandang kedua orang di depannya, dia meremas tangannya karena sangking takutnya.
"Ha-halo,"
Sepertinya Opi terlihat gugup, Ady dan Alea memakluminya karena anak itu seperti tak biasa dengan orang lain.
"Ady, bisa saya memeluknya?" Tanya istri Bima.
Ady mengangguk menyetujui, sehingga wanita itu melambaikan tangannya agar Opi mendekatinya.
"Sini sayang,"
Opi berjalan mendekat, tatapannya terlihat was-was saat menatap ketiga anak laki-laki yang memandang dirinya.
"Nama kamu siapa?" Tanya istri Bima dengan lembut sambil menggenggam tangan Opi.
"O-opi." Cicit anak itu.
"Kamu cantik sekali, kenalkan ... nama mami Olivia. Panggil mami sayang," ujar wanita bernama Olivia itu dengan lembut.
Alea yang melihatnya tersenyum lega, dia melihat pada tatapan Olivia ada ketulusan sebagai seorang ibu.
Alea juga yakin jika Olivia nantinya akan bisa membahagiakan Opi.
"Aku kira anak itu yang akan jadi adikku." Celetuk Roni sambil menatap Ara yang berada di pangkuan Ady.
Netra mereka semua menatap ke arah Roni dan kemudian berali menatap Ara yang tengah menahan kantuk di pelukan sang ayah.
"Hahaha, ya gak bisa lah Ron ... ini kan anak om. Om yang buat, masa seenaknya di kasih kamu. Bikinnya lama loh ini," ujar Ady dengan bercanda.
Bima dan Olivia tertawa, sedangkan Roni hanya menatap datar Ady yang mencandainya.
"Sudah-sudah, jadi gimana Dy? Boleh kita ambil Opi? kalian berdua tenang saja, kami akan memperlakukan Opi dengan sangat baik. Kamu hafalkan bagaimana aku dan istriku Dy? kita berteman sudah lebih dari sepuluh tahun bukan?" Ujar Bima.
"Tanyakan dulu pada anaknya, kalau dia mau yah aku setuju." Putus Ady.
Dengan tersenyum, Olivia menatap Opi yang juga tengah menatapnya.
"Jadi bagaimana sayang? kamu mau ikut sama mami?" Ajak Olivia sambil menatap Opi yang terlihat bingung.
"Opi tenang saja, sesekali kita berkunjung kesini. Abang-abang juga gak sabar ingin kamu jadi adiknya, ya gak bang?" Tanya Bima pada putra-putranya.
Ketiga putra Bima yang masih berusia di bawah sepuluh tahun itu hanya mengangguk, mereka memang datar bahkan sangat datar.
Saat sedang menunggu keputusan Opi, tiba-tiba saja Ara menangis keras.
"EKhee ... ekhee ... ekheeee,"
Ady langsung menghadapkan Ara ke arahnya, ia berdiri dan menimang putrinya itu.
Dengan inisiatif, Alea akan mengambil putrinya. Namun, bayi itu melengos pertanda tak mau. Apalagi Shaka yang saat ini berada di gendongan Alea juga, tentu sulit bagi Alea menggendong keduanya.
"Udah, biar sama aku aja. Kayaknya ngantuk, udah jamnya tidur siang juga." Ujar Ady sambil menepuk punggung sempit putrinya.
Sementara Ady yang menenangkan Ara, Olivia menatap Opi dengan senyum lembut. Mereka kembali memfokuskan diri mereka pada jawaban Opi.
"Opi nda akan di pukul lagi kan?" Tanya lugu anak itu.
Tentu saja hal itu membuat Olivia dan Bima seketika menatap ke arah Alea.
"Dia mengalami kekerasan sebelumnya, jadi kami minta pada kalian untuk menghindari kekerasan pada Opi." Terang Alea.
"Oohh begitu? baiklah Opi, mami dan papi bukanlah orang yang mudah main tangan. Apalagi dengan anak manis sepertimu, jadi katakan! apa kau mau ikut dengan kami?" Ujar Kembali Olivia.
Opi menatap ke arah Olivia, kemudian netranya kembali menatap Alea.
"Iya, Opi mau." Putus anak itu sambil beralih menatap Olivia.