Love Binder's Baby

Love Binder's Baby
Episode 96: Ungkapan hati Ady



Semua keluarga kini menatap terkejut ke arah Ady, tampaknya wajah Ady memerah menahan amarah.


"Tujuanku kesini agar kakak bisa dekat dengan Shaka, bukan malah sebaliknya! putri kakak tersayang itu, dia mengambil boneka putriku. Tentu Shaka sebagai abang merebut nya, tetapi malah putri kesayanganmu tak mau melepasnya sehingga boneka itu tak sengaja tercebur!"


"Dimana hati seorang ibu pada dirimu? Shaka juga darah daging kakak!" Sambung Ady.


Mereka berdua kini tengah beradu argumen, Alea yang memang berada di samping Ady hanya bisa menenangkan suaminya.


"Mas udah, anak-anak jadi takut." Ujar Alea sambil mengelus dada bidang Ady agar amarah suaminya itu mereda.


Ady menghela nafas kasar, dia berkacak pinggang dan menatap Siska dengan kesal.


"Udah gini deh, Alea bereskan semua barang-barang. Kita pindah saat ini juga!" Titah Ady yang mampu membuat mereka semua terkejut.


"Apa? Tida bisa begitu! kau berjanji akan mendekatkan Shaka pada kakak!" Ujar Siska tak terima.


"Beda lagi kalau kaka pilih kasih! Alea! turuti perintah suamimu!" Sentak Ady.


Dengan berat hati, Alea pun beranjak pergi ke kamar untuk membereskan barang mereka. Ethan dan Amanda tak mampu untuk mencegah Ady, mereka sangat hafal dengan sifat Ady yang mudah marah.


"Ady, pikirkan baik-baik. Eyang baru sampai, masa kamu sudah pergi lagi," ujar Naura mencoba membujuk Ady.


"Enggak eyang, keputusan Ady udah bulat. Jika makin lama Ady disini, batin Shaka akan semakin tersiksa oleh ibu kandungnya sendiri!" Cetus Ady.


"Kau tak berhak membawanya!" Bentak Nando.


Ady menyeringai, dia berjalan pelan ke arah Nando dan menatap abangnya itu.


"Apa kau lupa? aku sudah menjelaskan, jika Shaka akan bersamaku sampai umurnya lima tahun. Dan istrimu sudah menyetujuinya!" Seru Ady.


"Ady, bagaimana pun juga Siska adalah ibu kandung Shaka. Apa kau rela jika Ara jauh dari Alea? tidak bukan?" ujar Nando berusaha membujuk Ady.


"Oh jelas, putriku mendapat ibu yang terbaik. Sedangkan Shaka, dia dapat ibu yang terburuk! Shaka memang hadir saat perselingkuhan mu terkuak, jelas saja itu menjadi alasan utama mengapa kalian tampak tak memperdulikan Shaka!" Ujar Ady.


"Kenapa kau masih mempermasalahkan itu!" Seru Siska.


"Kenapa? kakak mungkin bisa melupakan kesalahan dia, tapi Shaka? dia akan terus mengingat orang tuanya pergi meninggalkan dirinya di saat dirinya butuh keduanya!") kenapa saat abang menikahi wanita itu, abang gak sekali pun memikirkan perasaan Shaka? kenapa? apa harus Shaka memikirkan perasaan abang? dan kakak, apa kakak juga pikirin bagaimana kehidupan Shaka setelah kakak tinggal pergi demi pria di sebelah kakak ini? dia haus, dia lapar dia menangis tengah malam karena dinginnya malam. Apa kalian memikirkannya?"


Ady menjeda ucapannya, tatapannya mengarah pada Siska dan Nando yang saling menunduk.


"Tidak, kalian tidak sedikit pun memikirkan nya. Alea, istriku ... dia tidak melahirkan Shaka. Namun, dengan sabar dia mengurus anak kalian tanpa imbalan. Dia tak menerima uang yang kalian beri sebagai imbalan karena menjaga Shaka. Hati seorang ibu begitu melekat pada dirinya. Apa kalian tahu? saat Shaka sakit, dia tidak tidur semalaman. Dia menunggu bahkan ikut menangis karema merasakan sakit yang di rasakan Shaka," ujar Ady.


Shaka dan Ara mendengar percakapan keduanya, Shaka menangis. Biar pun umurnya masih 3 tahun, tetapi jika menyangkut Alea hatinya pasti rapuh.


Alea yang memang sudah membereskan barang-barang mereka pun ikut menyaksikan apa yang suaminya itu katakan. Air matanya mengalir, tetapi dengan cepat dia menghapusnya.


Dengan anggun, Alea berjalan mendekati Ady. Dia menatap ke arah Siska dan juga Nando.


"Jika kalian ingin merawat Shaka, rawatlah dia. Dengan syarat, apakah Shaka mau bersama kalian? kalau dia ingin tinggal dengan kalian, aku dan suamiku sama sekali tidak ada hak untuk melarangnya." Jelas Alea.


"Chaka nda mau hiks ... Chaka mau ikut bunda hiks ... mau cama bunda aja hiks huaaa mau cama bunda." Tangis Shaka pecah, anak itu berlari ke arah Alea dan memeluk kaki Alea dengan erat.


"Sudah jelas bukan? aku tak pernah memaksa nya untuk tinggal bersamaku, bahkan kerap kali aku memberinya nasehat untuk menghormati kalian sebagai orang tua kandungnya. Aku tak mau egois, aku hanya ingin kebahagiaan anak ini. Jika bahagianya ada bersama kali, dengan ikhlas aku berikan kembali Shaka untuk kalian. Namun, jika Shaka menderita tinggal bersama kalian. Maaf sekali, aku harus membawanya bersamaku," ujar Alea.


"Bunda hiks ... hiks ... hiks ...,"


Alea menghapus air matanya, dia menundukkan kepalanya dan menatap Shaka yang tengah mendongak menatapnya dengan tangan yang melingkar di kaki Alea.


"Sudah yah, pamit sama mamah dan papah sayang." Pinta ALea.


Walau sesenggukan akibat menangis, Shaka menuruti keinginan Alea. DIa mendekati Siska dan Nando yang tengah menahan tangis.


"Hugh ... hugh ... mamah hugh ... Papah, Chaka pelgi dulu hugh ... nanti Chaka main lagi hugh ... solly hugh Chaka nakal hugh,"


Siska memeluk Nando, dia menangis karena mendengar perkataan menyayat hati putra kecil mereka.


Ady mendongakkan wajahnya, dia menahan air matanya yang akan terjatuh. Walau dia kerap kali kesal dengan tingkah Shaka yang memonopoli istrinya, tetapi jauh di lubuk hatinya dia sangat menyayangi keponakannya itu.


"U- hugh udah," ujar Shaka dan kembali mendekati Alea.


Alea mengangguk dan tersenyum, dia mengusap rambut Shaka.


"Yasudah, jika kalian ingin pergi kakek dan eyang ikut," ujar Robert.


"Maksudnya pih?" Kaget Ethan.


Ethan melongo, papihnya ini mengambil kesempatan ingin dekat dengan Ara dan juga Shaka.


"Ya gak bisa gitu dong pi, sebenarnya kan ini rumah papih. Berarti aku sama istriku yang ikut Ady," ujar Ethan tak terima.


"Pah, kasihan Bella. Dia juga deketnya sama papah kan? yasudah kalau eyang dan kakek mau ikut ayo," ujar Ady yang memutuskan pertengkaran mereka.


Ara tersenyum senang, akhirnya dia bisa jauh dari Bella. Dia tak suka di rumah opanya ini, karena selalu saja Bella yang menguasai apa yang tengah dia kerjakan. Mungkin karema anak itu masih sangat kecil dan belum mengerti.


Alea yang melihat wajah lelah Shaka segera menggendongnya, Shaka yang di gendong pun tak menolak. Dia merebahkan kepalanya di bahu Alea dan memejam kan matanya walau nafasnya masih tersenggal akibat menangis.


***


"AKHILNAAAA LEGA CEKALI PELACAANKU!" Seru Ara ketika turun dari mobil.


Mereka yang mendengarnya menggelengkan kepala, celotehan Ara adalah hiburan bagi mereka.


"Ini lumahna ayah?" Tanya Ara menatap rumah yang tak terlalu besar tetapi sangat elegan.


"Iya," jawab Ady dengan singkat.


Ara melompat riang, tetapi sangking bahagianya dia sampai terjatuh yang menyebabkan lututnya tergores aspal.


"AW! Huhuhu cakit hiks ... cakit,"


Ady yang tengah menuruni koper terkejut, begitu pula dengan Alea. Namun, saat mereka akan menolong Ara tiba-tiba saja datang seorang anak laki-laki kisaran umur 9 tahun yang menolong Ara.


"Lain kali hati-hati, lututmu berdarah," ujar anak itu.


Alea mendekati anak itu, dia tampak meneliti wajahnya.


"Kamu Rangga bukan?" Tanya Alea.


Anak yang bernama Rangga itu mendongak, dia tersenyum tipis dan mengangguk sopan.


"Iya kakak cantik," ujar Rangga.


Ady mendelik, dia mendekati istrinya dan menatap Rangga dengan sorot mata tajam.


"Kakak cantik huh? jaga pandanganmu, dia istriku!" Ujar Ady tak terima.


"Ihhh, apa cih ayah! nda ucah malahin pangelan danteng!" ujar Ara sambil mendorong kecil kaki Ady.


Ady melototkan matanya, putrinya sidah tak lagi membelanya karena anak itu.


"Pangelan, pangelan nolongin Ala. Makacih yah, hihi danteng ladi," ujar Ara yang tersipu.


"Ara?" Tanya Rangga sambil mengerutkan keningnya.


"Iya, Ala. Anakna ayah Ady dan bunda Alea," ujar Ara.


"Sudah-sudah, Ara masuk! dan kau! kembali ke rumahmu!" Titah Ady dengan tegas.


Ara menyentakkan kakinya, dia masuk ke dalam pagar sambil bibir mengerucut lucu.


"His! aya nda bica apa liat anakna ceneng, huh ... teletekan cekali laca ini," ujar Ara.


Sedangkan Ady, kini dia tengah menatap tajam Rangga yang masih memperhatikan Ara.


"Ku kira kau telah pergi ke antartica, ternyata kau masih disini huh?" Ucap Ady.


"Ku kira paman sudah menduda, ternyata malah mendua. Sudah lah, selamat tinggal calon mertua!" Seru Rangga dan berlari kembali ke rumahnya.


Ady tentu saja melongo, Alea, Robert dan Naura hanya bisa terkekeh melihat pertengkaran mereka.


"Alea lihat, sepertinya putrimu akan sulit mendapat pasangan," ujar Naura.


ALea hanya bisa menggelengkan kepalanya, beruntung Shaka tertidur di gendongannya. Jika tidak, sudah Alea pastikan jika Shaka akan sama seperti Ady yang posesif terhadap Ara.


_____


Maaf yah baru up, mulai besok otor usahain buat up setiap hari.