
Kamar rawat mewah itu kini terdengar sangat bising, karena Ara yang rewel akibat kepalanya yang terasa sakit. DI tambah Ara ingin selalu di gendong oleh sang bunda, membuat mereka kelimpungan.
"Sini gantian sama ayah nak." Bujuk Ady sambil merentangkan tangannya.
"NDA!" Teriak Ara dan melengoskan wajahnya.
Ara masih menangis pelan di bahu Alea, sedangkan sang bunda hanya bisa pasrah dengan mengelus bahu sang putri.
"Udah mas gak papa, bentar lagi juga palingan tidur," ujar Alea.
"Tapi kamu capek sayang, dari tadi kamu berdiri terus," ujar Ady yang merasa tak tega dengan sang istri.
Andai saja Ara membolehkan dia duduk, mesti lebih ringan untuk Alea. Pasalnya Ara ingin di gendong sambil berdiri, jika Alea akan duduk dia akan menangis kencang.
"kakek pulang saja, kasihan eyang. Ady yang akan bantu Alea jagain Ara," ujar Ady pada Robert yang duduk di sofa bersama dengan Ethan dan Amanda.
"Enggak, eyang mau kesini. Jadi kita ikut jaga Ara," ujar Robert.
Ady menghela nafasnya pelan, netranya beralih pada kedua orang tuanya yang juga tengah menatapnya.
"Pah, mah pulang saja. Kasihan kak Siska mengurus Bella sendirian," ujar Ady.
"Iya benar, kalian pulang saja." Dukung Robert.
Ethan menatap datar sang papi, dia tahu jika Robert ingin menguasai cucu perempuannya agar selalu menempel padanya.
"Tidak!"
"Ethannn." Geram Robert.
"kalau papi mau, papi aja yang pulang. aku kan kakeknya Ara, lagian papi udah bau tanah juga masih aja berebut cucuku," ujar Ethan dengan wajah tanpa salah.
"KAU!" Kesal Robert.
Ady hanya bisa memijat pelipisnya pelan, kedua orang di depannya selalu bertengkar hanya karena putrinya. Padahal cucu mereka.yang lain tak pernah mereka berebut untuk menemaninya.
"Pah, nanti Bella nangis kalau papah dan mamah gak pulang. Kalian kan tahu sendiri manjanya anak kak Siska pada kalian," ujar Ady mencoba membujuk kedua orang tuanya.
Dengan segala pertimbangan, akhirnya Ethan dan Amanda memutuskan untuk pulang. Sementara Robert, dia menunggu sang istri datang menyusulnya.
"Kau tahu papahmu itu Ady, dia selalu berebut segala hal denganku. Apa salahnya jika aku disini menemani cicitku," ujar Robert meminta pembelaan.
"Kek, Bella juga cicitmu," ujar Ady.
"Iya aku tahu, tapi marganya bukan marga Dominic. Dia meneruskan marga keluarga Nando, bukan kita. Sedangkan Ara berbeda, dia murni menyandang gelar Dominic," ujar Robert dengan santai.
"Kek, jangan seperti itu. Nanti akan timbul perasaan iri dari Bella, jika mereka besar akan memunculkan boomerang," ujar Ady.
Robert menghela nafas kasar sambil memutar bola matanya malas, dia sangat tak suka menerima saran Ady. Baginya, Ara adalah cicit kesayangannya dan tak bisa di bandingkan dengan Bella.
Ady menggeleng kan kepalanya pelan, dia mendekati Alea kala tak lagi mendengar tangisan putrinya.
"Tidur?" Tanya Ady.
"Sepertinya suntikan tadi sudah bekerja," ujar Alea.
Cklek!
"Kau sudah datang sa ... Reyhan?"
Robert kira yang membuka pintu adalah istrinya, tetapi ternyata itu adalah Reyhan yang datang bersamaan dengan Arga.
"kenapa kau terkejut seperti itu kawan lama?" Ujar Reyhan dengan menyeringai sambil berjalan mendekati Robert.
"Buat apa kau kesini hah?!" Bisik Robert.
"Tentu saja menjenguk cicitku," ujar Reyhan dengan keras agar Alea mendengar nya.
Robert dan Ady panik bukan main, Alea yang melihat wajah sang suami panik pun menjadi bingung sang penasaran dengan pria paruh baya yang tak dia kenal itu.
"Cicit?" Tanya Alea sambil menatap Reyhan.
Rehan menolehkan kepalanya ke arah Alea, dia tersenyum lembut dan mengangguk.
"Yah ... Ara adalah cicitku karena ...,"
Robert menarik Reyhan keluar dari ruangan, sementara Arga mendekati Alea yang terlihat semakin bingung.
"Ady, kau sungguh orang tak tak tahu balas budi. Jika kau jadi menikahi Angel, dengan mudah aku mendapatkan adikku kembali. KAu haru mengucapkan terima kasih padaku bukan? sebab, karena ku rumah tanggamu dengan adikmu masih bertahan." Terang Arga.
"Adik? mas menikahi Gehna?!" Kaget Alea.
Ady terkejut, begitu pula dengan Arga. Alea mengira jika adik yang di maksud ARga adalah Gehna, karena setahunya adik Arga hanyalah Gehna.
Alea menidurkan Ara di brankarnya, beruntung anak itu tak terbangun sehingga Alea lebih leluasa meminta penjelasan.
"Kapan kau menikahinya mas? jadi selama ini aku memiliki madu, gitu maksudnya?!" Marah Alea.
"Bukan sayang, aku tidak menikah lagi," ujar Ady membela diri, dia sudah panik saat ini.
"Terus apa maksudnya?! tadi Arga bilang kau menikahi adiknya! kau berselingkuh mas! kau mau balas dendam karena dulu aku jahat padamu, iya?! TEGA KAMU MAS!"
Ady gelegapan, dia bingung harus mengambil langkah apa. Jika semuanya terbongkar, bisa saja Alea ikut dengan Reyhan. Jika tidak di beritahu, maka kesalahpahaman ini terus berlanjut.
"Sayang, dengarkan aku." Ujar Ady dengan memelas dan berusaha mengambil lengan istrinya.
Alea menepis kasar tangan suaminya, kepalanya kini terasa berkunang-kunang. Alea menepis tangan suaminya dan memijat kepalanya.
"Sayang kamu gak papa?" Khawatir Ady.
Alea menggeleng pelan, sebelum akhirnya kegelapan merenggutnya.
"ALEA!"
"SAYANG!"
***
"Keluarga pasien?"
"Saya dok! saya kakeknya," ujar Reyhan.
"Enggak dok! saya kakeknya!" ujar Robert tak mau kalah.
"Saya kakaknya dok!" Seru Arga.
Dokter tersebut menjadi bingung, doa ingin memberitahu kan keadaan Alea yang pingsan. Kenapa sekarang malah ajang pengenalan diri.
"Maaf, saya membutuhkan suami pasien," ujar dokter itu.
Ady yang berada di paling belakang akhirnya melangkah mendekati sang dokter.
"Saya suaminya, apakah keadaan istri saya baik-baik saja?" Tanya Ady dengan sorot kekhawatiran.
"Bisa tolong ikuti saya?" ucap dokter itu.
Ady mengangguk, dia mengikuti sang dokter menuju ruangan dokter tersebut. Sementara Robert dan yang lainnya segera masuk ke dalam ruangan Alea.
"Maaf pak, setelah saya periksa tampaknya istri anda tengah hamil. Saya juga sempat memanggil teman saya yang kemang seorang dokter kandungan beliau memeriksa keadaan istri anda. Beliau berkata jika kemungkinan besar istri anda sedang hamil, setelah istri anda bangun nanti tolong segera lakukan USG untuk memastikannya," ujar sang dokter.
"Hamil?" Tanya Ady memastikan pendengarannya.
"Dugaan kami begitu tuan, sebaiknya anda segera periksa kan istri anda agar lebih pasti kapan usia janinnya,"
Ady tak dapat lagi berkata-kata, istrinya kembali mengandung. Ini adalah waktu yang dirinya tunggu-tunggu, saat ini lah yang ia harapkan. Kehamilan kembali sang istri, dirinya ingin mengulang agar dapat menikmati momen sang istri mengandung.
Sebab dulu, saat Alea mengandung Ara. Ady sama sekali tidak tahu, dia tahu setelah Alea melahirkan. Maka dari itu, dia ingin merasakan momen kebahagiaan ini.
"Terima kasih dok, terima kasih," ujar Ady dengan bahagia.
Ady segera keluar dari ruangan sang dokter menuju ruang rawat istrinya, dia ingin menyampaikan kabar bahagia ini.
Cklek!
Senyuman Ady luntur ketika melihat Reyhan dan juga Arga tengah membicarakan sesuatu dengan Alea yang sudah sadar.
Alea menatap tajam suaminya, Ady menduga jika Arga sudah memberitahukan semuanya. Bahkan netra sang istri sudah berkaca-kaca, sorot kecewa jelas terlihat.
"Kamu tega mas,"