
Hari minggu telah tiba, hari dimana terakhir Shaka tinggal bersama keluarga Ady dan Alea.
Perkumpulan keluarga kali ini berada di gedung, mereka kini berada di dalam mobil menuju gedung tersebut.
Di dalam mobil, Alea tengah memangku Shaka. Dia memeluk Shaka selama perjalanan, rasanya sangat berat melepas Shaka kembali pada keluarganya.
"Pokoknya selama Shaka tinggal sama mamah, Shaka harus inget jangan lupa makan dan istirahat. Minum vitaminnya juga, kalau vitamin SHaka habis ... Shaka bisa minta sama bunda. Pokonya jaga diri Shaka baik-baik yah sayang," ujar Alea dengan suara bergetar.
Shaka melihat mata sang bunda yang tengah berkaca-kaca, tangan mungilnya mengelus pipi mulus sang bunda.
"Bunda jangan sedih-sedih, Shaka ikutan sedih jadinya," ujar Shaka.
"Maaf kan bunda, bunda gak bisa pertahanin Shaka. Sebenernya, ayah bisa saja mengajukan hak asuh Shaka. Tapi, kami juga tidak ingin ada perkelahian antar keluarga." Lirih Alea.
Shaka mengangguk sembari tersenyum, walau hatinya sedang merasa tak rela berpisah dengan sang bunda. Namun, SHaka tidak ingin bundanya tambah beban pikiran.
Shaka mengingat sesuatu, dia merogoh saku baju nya dan mengambil sesuatu. Sebuah kertas yang ia tulis malam itu.
"Bunda, nanti di rumah bunda baca yah." Pinta Shaka sambil memberikan kertas tersebut.
"Ini apa sayang?" Tanya Alea.
"Itu cuman pesan Shaka saja, di baca nanti di rumah yah bun," ujar SHaka.
Alea mengangguk, dia menaruh kertas itu di tasnya. Sementara Ady, dia memalingkan wajahnya dari SHaka agar anak itu tak melihat jika dirinya saat ini tengah berusaha menahan tangis
Sky dan Ara terlihat bingung, mereka hanya memperhatikan SHaka dan Alea yang berpelukan erat.
"Kok bunda sama abang pelukan telus? emangna lagi lebalan?" cetus Ara.
"Shaka bicara gih sama Ara, takutnya di sana kalian gak sempet ngomong," ujar Alea.
"Setiap di sekolah, nanti Shaka kan ketemu Ara bun," ujar SHaka.
Seketika ALea dan Ady saling memandang, sepertinya ada sesuatu yang Alea sembunyikan dari Shaka.
"ANdai Shaka tahu, jika mba Siska dan Bang Nando akan berangkat ke Malaysia malam ini." Batin Alea.
Flashback On.
"Ada apa abang manggil Ady?" Tanya Ady sambil memasuki ruangan Nando.
Nando yang sedan sibuk mengerjakan berkasnya, segera menghentikan kegiatannya. Dia menyuruh Ady duduk dan menatapnya dengan raut wajah serius.
"Ada hal yang ingin abang bicarakan, ini mengenai Shaka," ujar Nando.
Ady mengerutkan keningnya, tak biasanya Nando seserius ini menyangkut SHaka.
"Perusahaan orang tua abang yang berada di malaysia sedang ada masalah, abang harus kesana akhir pekan ini. Setelah acara kumpulan keluarga, maka kami akan berangkat." Terang Nando.
"Apa?! terus Shaka kalian ajak?!" Seru Ady yang merasa terkejut dengan pemberitahuan Nando.
Nando mengangguk, mohat wajah adik ioarnya yang tentu saja terkejut Nando sudah tidak kaget lagi.
"Ady, aku sangat berterima kasih padamu karena telah merawat putraku dengan baik. Bahkan dia tumbuh menjadi anak yang ceria dan cerdas. Bahkan, jika aku membayarnya padamu aku tak akan mampu membayar apa yang sudah kamu berikan untuk putraku. Tapi Ady, Shaka adalah putraku. Aku ayah kandungnya, sudah sepatutnya dia mengikuti keluarga kandungnya,"
Ady mendengar kan apa yang Nando bicarakan, apa yang kakak iparnya bicarakan itu ada benarnya. Namun, tidakkah Nando berpikir bagaimana perasaan ia dan istrinya? rasa kehilangan jauh lebih sakit dari pada kehilangan uang untuk biaya hidup putranya.
Selama ini Nando memang mengirim uang setiap bulannya untuk Shaka, tetapi Ady tidak memakai uang itu. Malah dia membuatkan Shaka rekening dan menyimpan uang pemberian Nando di sana.
"Aku tahu, pasti kamu merasa sedih saat mendengar ini. Tapi ini mendadak sekali, abang juga sebenarnya tidak ingin pergi ke sana," ujar Nando.
"Bang, bisakah kamu memberikan Shaka padaku? aku akan menyerahkan posisiku sebagai ahli waris Dominic untukmu, asalkan Shaka ikut denganku," ujar Ady dengan tatapan memohon.
Nando membolakan matanya, merasa terkejut atas tawaran Ady. Tak pernah menyangka jika Ady akan memberikan padanya posisi itu dengan begitu mudah.
"Ady, abang tidak bisa. Dia putra abang, kamu juga sudah punya Sky dan Ara." Tegas Nando.
"Aku tahu, dia putra kalian. Tapi, apakah abang tidak bis memahami perasaan Shaka. Apa pernah abang bertanya padanya tentang apa yang dia inginkan? apa abang tahu, berapa lama aku menjelaskan pada Shaka tentang posisinya saat ini? Enggak kan? abang gak pernah dan gak tahu apapun tentang Shaka. Kalian hanya sibuk dengan pernikahan kalian dan juga Bella anak tersayang kalian." Sentak Ady.
Nando yang di katakan seperti itu tidak terima, dia berdiri dan menatap Ady tajam. Ady lun ikut berdiri, dia sudah terlanjur emosi saat Nando akan membawa Shaka pergi jauh.
"Aku papah nya! aku lebih paham perasaannya!" ujar Nando dengan datar.
"Oh ya? apa yang abang paham dari Shaka? rasa mengalah bukan? hanya itu yang abang tahu! abang tidak tahu jika sebenarnya Shaka mempunyai ego, tetapi ketakutan di dalam dirinya membuat ia menekan egonya dan selalu mengalah, mengalah dan mengalah dengan adiknya!"
"Apa abang tidak pernah berpikir, jika Shaka juga memiliki hati. Kalian sudah menempatkannya di keluarga kami, dan setelah itu kalian mengambilnya lagi padahal dia sudah nyaman dengan tempatnya saat ink!" Lanjut Ady dengan emosi berkobar.
Nando hanya diam, dia merasa apa yang di katakan Ady ada benarnya. Semua bermuka saat dirinya menikah diam-diam, dan membuat rumah tangganya hancur.
"Aku kehilangan calon anakmu karena mu kak, aku tak menuntut. Tapi apakah bisa, kau gantikan calon anakku yang tiada karena mu itu dengan Shaka?"
Nando terkejut mendengar permintaan Ady, dia langsung menggeleng tegas.
"Kehilangan calon anakmu itu merupakan takdir, jika bukan aku yang mendorongnya makan orang lain yang akan mendorongnya!" Sentak Nando.
"Sudahlah Ady, kembalikan putraku. Aku hanya ingin putraku."
Flashback Off.
"AYAH!"
Ady tersadar dari lamunannya, ternyata mereka sudah sampai di parkiran mansion.
"Ayo turun ayah, janan bengong telus. Kecambet ental loh," ujar Ara.
Ady mengangguk sembari tersenyum, dia pun keluar lebih dulu.
Ady membawa Sky ke gendongannya, sementara Ara susah membawa diri masuk ke dalam.
Saat akan memasuki pintu utama, mereka sudah di sambut oleh keluarga. Ady dan Alea saling memeluk keluarga yang menyambut mereka.
"Shaka, sini nak ikut mamah," ujar Siska dan menarik Shaka pergi.
Alea yang melihat kepergian SHaka hanya bisa menghela nafasnya, hatinya memang sedih tetapi dia juga tak bisa berbuat apapun.
"Waaahhh, Sky sudah besar yah. Ayo Sky sama grandpa yuk!" Seru Reyhan.
Sky melengos saat Reyhan ingin menggendongnya, sehingga Robert tertawa akibat tolakan dari sang susu pada rival nya.
"Enggak mau dia, udah sering encok juga masa mau gendong Sky." Tawa Robert.
"Sky sama opa aja yuk." Ajak Robert sambil merentangkan tangannya.
Sky menatap tangan Robert, kemudian beralih menatap wajah Robert.
"Opa kasih Sky permen, nanti pasti dia mau ikut." Celetuk Alea.
Robert ber oh ria, dia langsung mengeluarkan permen dari saku jasnya dan menyerahkan ke Sky.
Benar saja, anak itu langsung mau di gendong oleh Robert.
"Hahaha anak kalian pintar memanfaatkan, ini mah sama kayak Ara jadinya." Seru Amanda yang mana membuat suasana mencair.
Waduh waduh ... Shaka bakal balik lagi sama Siska gak yah???ðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤.
Mungkin bentar lagi tamat nih gaes, karena persoalan Shaka yang hampir selesai😅