Love Binder's Baby

Love Binder's Baby
S2: Kemarahan Ady



Ady benar-benar menjemput kedua anaknya, dia menyuruh istrinya untuk membatalkan Arga yang ingin menjemput kedua anaknya.


Disini lah Ady berdiri, di depan pintu rumah sang kakak. Dirinya menekan bell, dan tak lama pintu itu terbuka.


"Eh, Ady?" Sapa Siska.


"Maaf kak, aku ingin menjemput Shaka dan Ara," ujar Ady di sertai senyuman tipis.


Siska membuka lebar pintu, dia menatap Ady dengan heran. KArena setahunya Ady kah yang menitipkan SHaka dan Ara sampai besok, tetapi kenapa sore ini di jemput juga?


"Kamu kan lagi di rumah sakit, SKy lagi di rawat. Udah, biarin aja Shaka sama Ara disini. Mereka nyaman kok disini, lagi anteng main sama Bella," ujar Siska.


"Aku mau ketemu mereka dulu kak," ujar Ady.


"O-oh, boleh," ujar Siska dengan bingung.


Siska mengajak Ady masuk, saat melewati ruang keluarga Ady melihat Nando yang sibuk dengan laptopnya.


"Eh, Ady? kau disini?" Kaget Nando saat melihat adik iparnya itu berdiri di depannya.


"Iya bang, mau lihat Shaka sama Ara dulu." Ujar Ady sambil tersenyum tipis.


Nando mengangguk, dia menaruh laptopnya di meja dan bangkit dari duduknya.


"Ayo aku antar ke kamar Bella," ujar Nando.


Ady mengangguk, dia mengikuti langkah Nando dan Siska menuju kamar Bella.


Sesampainya di depan pintu, Nando membuka pintu tersebut. Seketika netra Ady melebar, hatinya berdenyut sakit.


"Lih Bella, kok abang sama kakaknya bobo di karpet sih!" Tegur Siska pada putrinya yang sedang bermain di atas kasur dengan berbagai macam mainan.


Shaka dan Ara tidur di karpet berbulu, bahkan terlihat Ara sanga pulas tertidur. Sedangkan Shaka tertidur memunggungi pintu.


"Maaf Ady, Bella sulit tidur siang. Aku akan menegurnya karena membiarkan Shaka dan Ara tidur di bawah," ujar Nando merasa tak enak.


"Bukankah ada kamar lain? Kenapa harus di satukan dengan Bella?" Kesal Ady.


Siska menoleh, dia paham jika adiknya itu sedang kesal karena membiarkan putrinya tidur di lantai.


"Ady, kakak sengaja kasih mereka satu kamar agar mereka akrab. Bagaimana pun juga Shaka abang kandung Bella, mereka harus dekat," ujar Siska.


Ady tak menjawab, dia berjalan ke arah putri dan putranya itu tidur, dia sedikit bingung bagaimana cara membawa mereka.


"Apa kau mau membawa mereka pulang? biarkan disini saja, kasihan kalau tidurnya terganggu," ujar Siska.


"Di rumah putriku tidur dengan nyaman di kasur empuknya, tapi disini dia harus tidur do karpet seperti ini? aku gak mau kak!" Kesal Ady.


"Sorry untuk itu Dy, aku akan menyiapkan kamar tamu untuk mereka. Jangan bawa mereka Dy, biarkan Bella punya teman bermain," ujar Siska dengan nada memelas.


Ady tak paham dengan Siska, wanita itu sangat cuek pada Shaka dan Ara. Namun, tidak ingin jika Ady membawanya pulang.


"Heh? teman bermain apa yang kalian maksud?" Tanya Ady.


Siska dan Nando mengernyitkan alisnya, mereka bingung dengan pertanyaan Ady.


"Tadi mereka main kok, mungkin Ara lelah dan tidur," ujar Siska membela diri.


Ady menggeleng. "Aku paham bagaimana putriku memainkan mainannya, Ara kalau main seperti itu dia tak akan suka mainannya berceceran karena Alea selalu mengajarkannya untuk bermain rapih. Jika Bella tak ingin menuruti kemauan Ara, putriku akan marah dan menuntut kalian untuk menelponku." Terang Ady.


Siska diam seribu bahasa, dia tak punya kata lagi untuk melawan Ady. Dirinya ingat sifat adiknya itu yang selalu peka terhadap kebiasaan orang di sekitarnya.


"Ady, maaf untuk hal ini. Kami terbiasa memanjakan Bella, sehingga dia ...,"


"Ya aku tahu, aku tahu itu. Maka dari itu Alea menyuruhku untuk menjemput mereka," ujar Ady.


"Ooohh, jadi istri kamu yang nyuruh! pantes aja yah, dia gak kau Shaka kembali sama aku! ingat Ady, sebulan ... sebulan lagi Shaka sama kalian! kalian sudah punya Ara dan Sky, kenapa harus putraku juga yang kalian rebut!" ujar Siska dengan penuh emosi, sepertinya emosinya terpancing saat Ady menyebutkan nama Alea.


Nando menatap tajam istrinya, tetapi SIska tak mengindahkan peringatan suaminya.


Mendengar perkataan Siska membuat Ady tertawa hambar, rasa kesal dan marah bercampur menjadi satu.


"Karena istriku? ingat, saat itu suami kakak selingkuh dan gara-gara perselingkuhan suami kakak ini ... kami harus kehilangan calon anak kami,"


"Dan satu hal lagi, berterima kasihlah kalian pada istriku. Sebab karena istriku Shaka menjadi anak yang tangguh dan penuh kasih, bagaimana jadinya dia tinggal bersama kakak? dia akan menjadi anak yang pendiam, menutup dirinya dan merasa tersaingi,"


Perkataan Ady bagai tamparan untuk Siska dan Nando, mereka ingat dimana hati itu saat Alea keguguran akibat dorongan Nando.


"Dengan berlapang hati istriku memaafkan kalian dan merawat anak kalian dengan tulus. Jika itu orang lain, belum tentu seperti istriku. Pasti mereka juga akan membenci anak kalian, secara dia kehilangan anaknya karena kalian!"


"Ady, bukan begitu maksud kakak," ujar Siska dengan wajah memelas.


Siska akan mendekati Ady, tetapi Ady mengangkat satu tangannya untuk menghentikan langkah Siska.


"Kakak seharusnya tahu, sedari dulu aku tidak suka di singgung mengenai istriku. Walau dulunya Alea bukan Istri yang baik, setidaknya saat ini dia menjadi ibu yang baik untuk anak-anak kami. Jadi aku mohon, jangan kakak berpikir jika Alea ingin merebut putra kalian," ujar Ady dengan tegas.


Ady berbalik, dia mematap Shaka yang ternyata sudah terbangun dan kini duduk sambil menatapnya dengan pandangan sendu.


"Shaka ayo kita pulang." Ajak Ady.


Shaka mengangguk, Ady menatap putrinya yang masih tertidur pulas. Dia sempat menggelengkan kepalanya melihat bagaimana lelahnya putrinya itu hingga tertidur sangat pulas.


Ady memutuskan untuk menggendong Ara dari pada bangun nanti dan putrinya itu rewel.


Ady menepuk bahu Ara saat Ara menggeliat, setekahnya Ady menggandeng kengan Shaka dan mengajaknya untuk pulang.


"Mas, kapan kita deket sama Shaka nya kalau kayak gini." Lirih Siska.


"Ini pelajaran buat kita, kita harus mengajari Bella untuk bersikap baik sesama saudara," ujar Nando.


Ady membuka pintu belakang kemudi, dia menyiruh Shaka masuk duluan. Di dudukinya Shaka di kursi khusus balita, Ady juga membantu Shaka memasangkan sabuk pwngaman.


Setelah SHaka aman, Ady memindahkan putrinya di sebelah Shaka. Dia mengambol bantal leher dan memasangkannya pada Ara.


"Shaka kalau mau tidur, tidur aja lagi. Nanti ayah bangunin kalau udah sampai," ujar Ady.


Shaka mengangguk, dia kembali memejamkan matanya dan menyusul Ara tidur.


Ady memasuki pintu kemudi, dia sama sekali tidak pamit dengan Siska ataupun Nando. Karena dirinya sudah terlanjur kesal akibat SIska yang menyenggol istrinya.