Love Binder's Baby

Love Binder's Baby
Episode 43: Ara ngambek pada sang ayah



"Mas?" heran Alea ketika melihat Ady yang tengah menatap tajam pria tadi.


Pria jail tadi segera pergi ketika melihat tatapan tajam Ady, Alea segera membayar pesanannya dan menarik lengan Ady keluar dari pasar.


"Mas ngapain disini? masuk pasar dandanannya cetar begini?" heran Alea ketika melihat style yang suaminya gunakan.


Ady berdecak sebal, niat ingin menjemput sang istri malah berakhir kesal ketika tatapannya tertuju pada Alea yang tengah di goda oleh pria lain.


"Besok-besok gak usah keluar lah kamu, males aku," ujar Ady dan memasuki mobil meninggalkan Alea yang terheran dengan tingkah suaminya.


"Lah, ayahmu kenapa dek?" tanya Alea pada putri dengan tatapan yang tidak lepas dari Ady.


"Oaaaa ... oaa." celoteh Ara sambil memainkan tangannya.


Ady menurunkan jendela mobilnya, dia menatap Alea dengan pandangan datarnya.


"Mau cosplay jadi patung kamu? masuk! panas, kasihan putri saya," ujar Ady dengan cuek tetapi tersirat kekesalan.


Alea mengerucutkan bibirnya, dia berjalan memasuki mobil dan menutup pintu dengan kencang.


"Putrinya doang! bininya enggak!" gerutu Alea.


Alea menaruh belanjaannya di tengah-tengah antara dirinya dan Ady, tak banyak tetapi mampu membuat Ady kesal.


"Kok di taruh disini? bau tau gak!" seru Ady.


"Yeee! yang kamu bilang bau itu bakalan jadi pelanjut hidup tau! gak ada mereka mati kamu," ketus Alea.


Ady mengerutkan alisnya, Alea bersikap ketus padanya? bukankah seharusnya Ady yang kesal? kenapa istrinya malah balik kesal terhadapnya?


Aciel yang sedang mengemudi hanya bisa terdiam, sesekali dia terkekeh melihat raut wajah Ady dari pantulan spion tengah.


"Aaaa, oaaa," Ara menarik plastik hitam yang ada di dekatnya. Alea yang mengerti segera mengeluarkan isi plastik itu dan menunjukkannya ke Ara.


"Aaa, aaa," celoteh Ara.


Ady merasa tertarik, dia menatap Ara yang tengah berceloteh sambil menepuk sebuah plastik bening berisi ikan ****** yang mana membuat Ady mendelik.


"Buat apa beli ikan itu?" tanya Ady.


"Kenapa sih? aku beli pake uang aku kok bukan uang mas," ujar Alea yang jengah dengan sikap Ady.


Ady mengambil plastik ikan itu, dia menatap ikan ****** itu dengan kening yang mengerut. Ara juga ikut menatap sang ayah, tangannya terulur untuk menggapai ikan itu.


Jari telunjuk Ady memencet tombol jendela, dia membuka jendela dan dengan tak berperasaan membuang ikan itu ke jalanan.


"MAS!" sentak Alea yang terkejut.


Ady menepuk tangannya, dia kembali menutup jendela dan menyilangkan kedua tangannya di dada.


"Aku enggak mau putriku bermain dengan ikan murah seperti itu, apa masih kurang ikan mahal yang ada di kolam rumah? kalau masih aku akan membelikan yang lebih baik dan bagus dari itu," ujar Ady dengan enteng.


Alea menatap Ara yang sudah menyipitkan matanya dan mencebikkan bibirnya.


"Ekhee ekhee ekheee ...,"


"TUH KAN! MAS SIH!" kesal Alea sembari membuka gendongannya.


Ady melirik putrinya yang menangis, dia hanya menatap tanpa mau menenangkan putrinya. Alea sudah melepas gendongan Ara dan menghadapkan putrinya tepat di hadapannya.


"Cup sayang ... cup yah,"


"EAAAA EKHEEE hiks ...,"


Ady berniat akan mengambil Ara, tetapi bayi itu nampak enggan dengan melengoskan wajahnya. Ady yang melihat hal itu terbengong, baru kali ini Ara melengos padanya hanya karena ikan.


"Kan, mas sih ... marahkan," ujar Alea.


Alea menepuk punggung sempit putrinya, dia tak membawa kain untuk menyusui sedangkan di dalam mobil ada Aciel.


"Ciel, putar balik. Kita ambil ikan murahan itu," titah Ady.


"Baik tuan," patuh Aciel.


Ara masih menangis sesenggukan, Alea mencoba untuk menenangkan putrinya hingga dia tidak sadar jika mobil terhenti.


"Udah yah, nanti habis suaranya sayang," bujuk Alea.


"Nih!" seru Ady sembari menyerahkan plastik ikan itu. Beruntung saat Ady membuangnya plastik itu tidak bocor, walau akhirnya ikan di ambang kematian karena sering di gerakkan.


Alea mengambilnya dengan cepat, dia memperlihatkan ikan itu pada putrinya. Ara menghentikan tangisannya, Ady dan Alea pun akhirnya lega.


***


Edgar tengah mengerjakan tugasnya, dia tekah selesai dan mengumpulkannya tugasnya tersebut. Setelah itu Edgar keluar kelas untuk ke kamar mandi.


"Eitsss ... mau kemana lu? udah kayak jagoan sekarang yah," seru Yudha yang menghalangi jalan Edgar.


Edgar memutar bola matanya malas, Yudha sudah seperti cabe-cabean yang tengah mencegat kekasih pujaannya.


"Tau gak lu persamaan lu sama tikus?" tanya Edgar pada Yudha yang tengah menahan kesal.


"Sama-sama Pengganggu!" ketus Edgar dan melanjutkan jalannya.


Yudha yang tak terima menarik tangan Edgar dan menghempaskannya sehingga Edgar terjatuh dengan kepala yang membentur ujung mading.


"Awshhh," ringis Edgar.


Edgar melihat tangannya, ternyata akibat benturan itu kepalanya sedikit berdarah. Dia menatap Yudha yang sepertinya tengah tersenyum puas.


"Lu tuh kenapa sih? cari gara-gara terus sama gue, lu suka sama gue?" heran Edgar.


"Najis! gue suka sama lu? gue masih waras!" sentak Yudha.


Edgar menggelengkan kepalanya, berdebat dengan Yudha hanya bisa menghasilkan lelah saja.


"Gini deh, kemarin abang gue udah bilangkan kalau gue adik iparnya? jadi berhenti buat ulah karena gue sekolah disini bayar, bukan ana beasiswa. Ngerti? takutan amat beasiswa lu gue ambil," kesal Edgar.


Yudha mengepalkan tangannya, dia tak terima jika Edgar mengatakan jika dirinya anak beasiswa.


BUGH!


Yudha memukul keras pelipis Edgar, Edgar tertoleh ke samping. Edgar terdiam beberapa detik dengan posisi yang sama, Yudha yang melihat itu menyangka jika Edgar tengah menangis.


"Ck, dasar anak manja! gitu doang masak nangis, LEMAH!" seru Yudha dengan tangan bersedekap dada.


"Mungkin kakak lu bisa nikah sama pengusaha sesukses dan sehebat tuan Ady karena jual diri, buktinya aja tuan Ady tak pernah tuh kenalin kalian ke publik. Emang nyatanya kakak lu itu wanita ...,"


BUGH!


BUGH!


BUGH!


"Lanjutin apa yang lu omongin hm? kenapa? gak bisa? lidahnya luka yah? uuuhhh, kasihan,"


Edgar memukul Yudha dengan bertubi-tubi, bahkan ketika Yudha berbicara Edgar memukul rahangnya sehingga Yudha tak sengaja menggigit lidahnya.


"Hm ... kira-kira berapa jahitan yah? satu ... dua ...." gumam Edgar sembari menghitung dan membiarkan Yudha kesakitan.


"Lima kali yah," celetuk Edgar.


"BOS!"


Para teman Yudha berlari menghampiri Yudha ketika melihat teman mereka menahan mulutnya yang mengeluarkan darah.


"Akhirnya dateng juga ekornya," ujar Edgar.


Salah satu dari mereka menatap Edgar, dia mengernyit bingung ketika melihat pelipis Edgar yang terluka.


"Lu abis berantem sama bos kita?" tanyanya dengan lugu.


"Nggak, abis mainan congklak tadi. Udah yah, gue kebelet banget," ujar Edgar dan akan beranjak. Tetapi dia ingat satu hal.


Edgar mengeluarkan uang dari sakunya sebesar 500.000 dan melemparkannya di hadapan Yudha.


"Buat biaya jahitan lidah lu, kalau kurang lu ngomong ke gue. Sekalian minta buat biaya sekolah mulut lu yang lemes itu," ujar Edgar dan pergi meninggalkan Yudha yang tengah kesakitan.