
Alea menghela nafas berat, sedari tadi dia membujuk Shaka untuk makan siang. Namun, anak itu tidak mau dan hanya diam.
"Shaka, makan dulu yuk nak. Udah siang, tadi pagi Shaka juga sarapan cuman dikit. Nanti sakit perutnya loh." ujar Alea sambil mengelus rambut lebat anak itu.
Shaka menepis tangan Alea, dia langsung merebahkan dirinya dan menyelimuti dirinya hingga leher. Setelah itu Shaka membalikkan tubuhnya dan memunggungi Alea.
"Shaka, kalau Shaka marah karena kita akan balik ke indonesia oke bunda akan bilang ke ayah untuk menggagalkannya. Tapi makan dulu yah," ujar Alea dengan sabar.
Tetap, Shaka tak bergeming. Dia hanya diam sambil memejamkan matanya, menghiraukan Alea yang tengah menatap sendu Shaka.
Jika sudah begini, Alea harus mengeluarkan juris terakhirnya. Yaitu menangis, Shaka tak pernah tega melihat Alea menangis.
"Shaka, Shaka mau bunda sedih sayang? bunda khawatir sama Shaka loh hiks," ujar Alea dengan suara bergetar.
Shaka sontak membuka matanya, dia mendudukkan dirinya dan menatap sang bunda yang tengah menangis.
"Bunda janan nanis, Chaka minta maaf. Lelly Solly bunda." Panik Shaka dengan suara bergetar sambil memegang tangan Alea.
Alea tersenyum puas dalam hati, sebenarnya sangat sudah membujuk Shaka. Karena putranya itu tak pernah tega melihat dirinya menangis, apalagi karena bocah itu.
"Makanya Shaka makan yah nak, kalau Shaka gak mau makan bunda sedih," ujar Alea.
"Iya hiks ... Shaka makan, tapi bunda janan nanis. Chaka cakit liat bunda nanis." Isak anak itu.
ALea memeluk Shaka, walau di umur nya yang baru menginjak 3 tahun. Namun, Shaka yang paling mengerti perasaannya. Bahkan Ady kalah peka dengan Shaka, sungguh beruntung Alea mendapat cinta dari anak itu.
"Yaudah, Shaka makan yah. Bunda suapin." Ujar Alea sambil melepas pelukan mereka.
Shaka mengangguk sambil menghapus air matanya, dia menerima suapan yang Alea berikan. Dia tahu jika Alea bukanlah ibu kandungnya, dia memang tak terlalu mengerti. Namun, Alea menjelaskan banyak hal sesuai pemikiran anak seusianya.
Alea mengatakan, jika Siska yang melahirkannya. Sedangkan Alea, dia hanya merawatnya untuk sementara. Alea menyuruh nya untuk berbuat baik pada Siska, mungkin karena merasa mengapa sang mamah menyerahkannya pada Alea untuk di rawat hal itulah yang membuat Shaka sedih.
"Bella kangen loh sama Shaka, Shaka kan abangnya Bella," ujar Alea pada Shaka.
Bella, anak kedua Siska. Shaka tentu kenal dengan anak itu, dia pernah video call walau hanya Ara saja lah yang banyak berbicara.
"Makan yang banyak, bunda gak mau pipi bulatmu hilang." Ujar Alea sambil menyuapi kembali Alea.
"Bunda." Panggil Shaka.
"Iya, kenapa sayang?" Tanya Alea sambil mengalihkan tatapannya pada Shaka.
"Kenapa mamah culuh bunda ngelawat Chaka? Chaka beban yah bunda? mamah capek ulus Chaka?" Tanya anak itu dengan lugu.
Hati Alea merasa tersayat, entah apa yang harus dia katakan pada putranya itu. Bingung? tentu saja, apakah ALea harus menjelaskan secara rinci? secara Shaka masih berumur 3 tahun, walau Alea tahu Shaka tak seperti anak seusianya. Shaka lebih cepat menangkap omongan dan pelajaran baru yang ia dapat di bandingkan anak yang lain.
"Eng-enggak, Shaka kata siapa? kata siapa SHaka beban hm? Shaka itu kesayangan semua orang, anak pintarnya bunda. Shaka bahkan gak pernah tuh ngerepotin bunda, udah yah ... Shaka jangan berpikiran begitu. Bunda dan ayah sayang Shaka, begitu juga dengan mamah papah." Ujar Alea sambil menghapus air mata Shaka yang kembali jatuh.
Shaka mengangguk, dia meminta minum pada Alea karena dirinya sidah sangat kenyang.
Setelah selesai minum, SHaka mengamati Alea yang membereskan bekas makannya.
"Bunda." Panggil Shaka dengan lirih.
"Iya sayang?" Tanya Alea dengan lembut.
"Shaka mau ke indonesia sama kalian," ujar anak itu yang mana membuat Alea tersenyum senang.
***
Sore hari, mereka kini berangkat ke indonesia dengan menggunakan jet pribadi yang Robert kirimkan.
Di dalam jet, Shaka hanya duduk diam sambil melihat jendela. Dia tak berbicara sedikit pun ketika mereka berangkat, Alea dan Ady memakluminya karena mereka tahu Shaka belum siap untuk bertemu orang tuanya.
"Chaka mau coklat?" Tanya Ara sambil menyerahkan satu buah coklat.
"Nda," ujar Shaka
"Chaka napa cih dali tadi diem telus, Ala kan mau bicara cama Chaka," ujar Ara dengan lesu.
Shaka melihat ke arah adiknya itu, Bella dan Ara berbeda. Jika Ara anak yang suka mengekspresikan dirinya dengan suasana apapun, dia akan tertawa jika bahagia dan akan marah ketika kesal. Bahkan, raut wajah Ara akan berubah sesuai mood anak itu. Berbeda dengan Bella, mungkin karena di manjakan oleh Siska dan Nando membuat anak itu terlihat cengeng dan manja.
"Jangan ganggu abang dulu dek, sini sama ayah," ujar Ady.
"Nda mau, Ala mau main cama abang," ujar Ara.
Ady beranjak dari duduknya, dia mengambil ARa dan membawanya ke tempat duduknya. Ady memangku Ara yang tengah mengerucutkan bibirnya.
"Susu Ara mana yang?" Tanya Ady.
Ara meminum susu itu, dia bersandar ria di dada bidang sang ayah sambil melihat ke arah Shaka yang sepertinya tengah menahan kantuk.
"Apa nda pegal lehelna?" Batin Ara.
Shaka menatap ke arah Ara, dia turun dari kursinya dan berjalan mendekati Ara.
"Abang mau cucu," ujar Shaka dan berniat mengambil susu Ara.
"Iiihhj, kebiacaan! kalau mau cucu ya bilang ke bunda, macak mau ambil punya Ala huh?" Kesal Ara.
"Ala kan bica minta bunda!" Ketus Shaka.
"Ya kenapa Chaka nda minta bunda hah?! hump! teltekan cekali pelacaanku," ujar Ara dengan sinis.
Alea dan Ady hanya bisa menggelengkan kepalanya, dari mereka bayi Shaka selalu merebut susu Ara. Bahkan ALea sudah membedakan botolnya, tetapi Shaka malah tidak mau dan merebut yang Ara pegang.
"Udah ini, Shaka minum yang ini," ujar Alea dan memberikan botol yang lain.
"Nda mau," ujar anak itu.
Alea menghela nafas lelah, begitu juga dengan Ady. Memangnya apa yang beda? mereka buat sama, tetapi sepertinya Shaka lebih senang mengerjakan adiknya itu.
"Yacudah ini! untungna abang, kalo nda ta tutuk duga palana!" Ketus Ara sambil memberikan botolnya.
"Hei, siapa yang ngajarin ngomong gitu?" Ujar Ady sambil menatap sang putri.
Ara hanya mengangkat bahunya acuh, dia mengambil botol yang berada di tangan Alea. Sedangkan Shaka, anak itu sidah duduk anteng di pangkuan Alea dengan mata menahan kantuk.
"HWEK! HWEK!"
Alea dan Ady terkejut, tiba-tiba saja Shaka muntah. Alea langsung menangkup muntahan Shaka, sementara Ady sibuk mencari plastik.
"Ini yang," ujar Ady dan menyerahkan plastik itu.
Alea langsung mendekatkan plastik itu pada mulut Shaka, sedangkan Ady memijat belakang leher anak itu.
"Sudah?" Tanya Alea ketika Shaka menatap ke arahnya.
Shaka mengangguk lemas, dia hanya bisa bersandar dengan Alea yang sibuk membenahi bekas muntahannya.
Shaka melihat baju sang bunda yang terkena muntahannya, dia menangis karena merasa tak enak badan dan juga merasa bersalah.
"Maaf bunda," ujar Shaka dengan isakannya.
"Hei, kenapa menangis hm? mas, ambilin minyak angin mas," ujar Alea dan beralih pada Ady.
Ady mencari minya angin di tas perlengkapan kedua bocah itu, setelah itu dia menyerahkannya pada Alea.
Alea membuka baju Shaka beserta celananya, dia menggantikan pakaian Shaka dengan pakaian baru. Setelah itu dan meminta Ady untuk memangku Ara sebentar karena ia harus ganti baju, sedangkan Ara anak itu sudah menjauh karena terkejut.
"Nona kenapa ada disini?" Heran Aciel, pasalnya Ara memegang lengannya sambil menatap khawatir pada Shaka.
"Pinjam cebental paman, lagi teltekan cekali pelacaanku," ujar anak itu yang mana membuat Aciel tersenyum tipis.
Selang beberapa lama, akhirnya mereka sampai di bandara indonesia. Ady keluar dengan Shaka yang berada di gendongannya, karena bocah itu tertidur sangat pulas apalagi tadi Shaka sempat mabuk udara.
"Ara, jangan nakal. Di bandara banyan orang, kalau Ara hilang ayah gak mau cari Ara loh," ujar Ady memperingati putrinya.
Ara hanya mendelik tak suka, dia memegang tangan Alea dengan erat.
Mereka sudah banyak di sambut oleh awak media, hal itu membuat Ara panik begitu juga dengan Alea dan Ady.
"Mas, kok banyak banget sih?" Bingung Alea.
"Aciel, kamu bantu gendong Ara." Titah Ady.
Aciel mengangguk, dia membawa Ara ke gendongannya. Mereka pun memasuki kerumunan awak media itu dengan penuh desakan.
"Tuan tolong katakan, mengapa anda kembali ke indonesia?"
"Apakah ada pekerjaan penting disini?"
"Berapa lama anda menetap disini?"
Ady tak membalasnya, ia ingin segera keluar dari kerumunan itu. Dia merangkul pinggang istrinya dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya dia gunakan untuk menggendong Shaka.
"Kenapa banyak cekali olang? cumpek tau gak! huh, teltekan cekali pelacaanku," ujar Ara dengan judes.