Love Binder's Baby

Love Binder's Baby
Episode 51: Lagi-lagi Shaka



"Sudahlah, bawa dia juga bersamamu Ady. Apa salahnya sih dia ikut, toh dia juga keponakanmu," ujar Siska pada Ady yang tengah merengut kesal memasang tampang datarnya.


Shaka menangis di gendongan Siska, ia sepertinya mau ikut melihat Alea yang seperti akan pergi.


Sedari tadi tubuh kecil itu meliuk-liuk di gendongan sang ibu berharap agar pamannya itu mengambilnya dan membawanya ikut.


"Apa kau lupa kak? putramu itu selalu mencari gara-gra dengan putriku, dia selalu main nyosor pipi gembul putriku," ujar Ady dengan nada kesal.


"Namanya juga bayi, mana ngerti dia nyosor yang kamu maksud. Udah bawa dia, dari pada aku beri tahu mas Nando jika putranya nangis akibat ulahmu. Kau tahu kan apa yang akan terjadi?" Ancam Siska.


Ady tak terima, sang kakak mengancamnya menggunakan kakak iparnya. Jika Nando sampai tahu, pasti banyak sekali pekerjaan yang akan di limpahkan ke dia. Bahkan bisa jadi Nando menyuruhnya bertemu klien di luar kota. Big No! Ady tidak mau itu.


"OKE! FINE!" Putus Ady.


Siska tersenyum riang, dia menyerahkan Shaka pada Alea yang di sambut baik oleh perempuan itu. Namun, netra Ady melotot seketika melihat Shaka yang berhenti nangis dan tertawa anteng di dekapan Alea.


"Dari kecil udah modus, yakin banget gede jadi playboy ikan teri nih," ujar Ady.


"SEMBARANGAN!" Sentak Siska.


Ady merengut kesal, dia berjalan mendekati Robert untuk mengambil putrinya yang berada di gendongan Robert. Setelahnya ia membawa Ara ke gendongan yang ia pakai sedari tadi.


Tatapan mata Ady mengarah pada Shaka yang berada di gendongan Alea dengan kepala yang bersandar pada dada istrinya.


"Bener-bener ini bocah." Geram Ady.


Ady mendekati Alea, dia bermaksud untuk menukar dua bayi itu agar Shaka tak modus dengan istrinya. Namun, sepertinya Alea mengerti maksud sang suami sehingga ia melototkan matanya.


"Gak usah cari gara-gara kamu mas! udah ayo berangkat," ujar Alea dan berjalan mendahului Ady.


Ady yang mendengar hal itu seketika tambah panas, apalagi melihat tatapan Shaka yang seakan mengejeknya.


Dia pun menyusul istrinya memasuki mobil, Siska dan Robert pun terkekeh melihat respon Ady.


"Anakmu sangat manja dengan bibinya," ujar Robert.


"Benar kek, padahal aku yang mengandung dan melahirkannya," ucap Siska.


Sementara itu, di mobil perjalanan mereka tampak adem tak ada masalah apapun. Kedua bayi di gendongan mereka tampak menikmati jalan, apalagi Ara yang sedari tadi di arahkan melihat jendela.


Maklum saja, Ara sangat di perbolehkan keluar rumah. Sekalinya keluar hanya beberapa kali saja, sehingga dia masih tampak asing dengan sekitarnya.


"Mas, tolong ambilkan botol di dalam tas itu." Pinta Alea sambil menunjuk tas yang ada di samping Ady.


Ady pun menyerahkannya, Alea mengambil botol susu dan akan menyerahkannya pada Shaka. Akan tetapi, lagi-lagi suara Ady membuat Alea berhenti.


"Eittss, mau ngapain kamu?" tanya Ady menghentikan Alea.


"Shaka menguap terus tadi, dia pasti ngantuk. AKu mau memberinya susu," ujar Alea dengan jengah.


Mendengar hal itu, Ady tak terima.


"Itu kan susunya Ara, biarin aja dia tidur tanpa susu," ujar Ady dengan ketus.


"Aku susuin dia kamu marah, aku kasih botol kamu juga marah? nanti kalau Shaka ngambek gak mau minum dari botol dan maunya langsung, aku gak tanggung jawab loh." Ancam Alea.


Ady mendelik, tentu saja dia tak terima Shaka yang semakin modus dengan sang istri.


"Yasudah, kasih aja dia susu botol itu. Dari pada jatahku dan Ara dia nikmati juga," ujar Ady yang kini tengah pasrah.


Alea menggelengkan kepalanya, suaminya sangat cemburu dengan Shaka bayi yang berumur 3 bulan. Bayangkan saja, Shaka yang belum mengerti mana benar dan mana yang salah harus di cemburui oleh Ady.


Alea memberikan ujung dot itu di bibir Shaka, karena haus dan mengantuk Shaka pun menerimanya dengan tenang. Mata nya pun tertutup, Alea yang melihat itu langsung mengelus kening Shaka.


"Ara gak mau tidur juga mas?" tanya Alea.


Selang beberapa lama, mobil mereka memasuki sebuah halaman rumah. Rumah ini tampak sangat besar menyaingi rumah Ady, dan hal itu membuat Alea bingung.


"Orang kaya juga ternyata," ujar Alea dengan sedikit lirih.


"Kenapa? kamu tertarik sama Arga karena dia kaya? kamu lupa kalau suamimu juga ini kaya, bahkan aku bisa membeli rumah ini jika kamu mau." Sinis Ady.


Alea mengerutkan keningnya, dia hanya sekedar berpendapat, tetapi mengapa suaminya menuduhnya menyukai Arga?


Mobil terhenti tepat di depan pintu utama, mereka di bukakan pintu oleh bodyguard kediaman itu.


"Di rumah kita gak ada tuh bodyguard yang membukakan pintu mobil," ujar Alea dan menyaingi langkah Ady berjalan memasuki rumah.


"Ck, aku akan menyuruh bodyguard ku untuk melakukan hal itu. Jangan puji dia ataupun yang lain berhubungan dengannya, aku benci hal itu," ujar Ady.


Alea membulatkan mulutnya, dia salah kondisi karena sedari tadi Ady sudah kesal dengan Shaka dan kini dengan Arga.


"Selamat datang di kediaman Wijaya nyonya dan tuan Dominic yang terhormat," ujar Arga yang keluar dari pintu utama menyambut kedatangan mereka.


"Tutup mulutmu, kau membuatku ingin melempar sepatuku padamu," ujar Ady dengan sinis.


Arga tertawa ringan, netranya beralih menatap Alea yang menggendong Shaka.


"Wah, baru juga lahiran sudah ada lagi? hebat juga kamu Ady," ujar Arga.


"Dia bukan putraku! dia anak bang Nando, tadi merengek ikut yang berakhir modus." Ketus Ady.


Arga menggelengkan kepalanya, dia mengajak Ady dan ALea masuk kedalam kediamannya. Dia membawa mereka duduk di ruangan tamu sambil menikmati hidangan yang sudah Arga persiapkan menyambut kedatangan mereka.


Ady melepas Ara dari gendongan, dia menghadapkan Ara ke depan untuk melihat sekelilingnya. Berbeda dengan Shaka yang masih pules tertidur dengan mulut sedikit terbuka.


"Oh iya, kita kesini ingin menanyakan kabar adikmu. Apa dia sudah sadar? ku dengar, dia di rawat di rumah saat ini," ujar Alea.


"Benar, dia sudah sadar seminggu yang lalu. Namun, kondisinya masih belum stabil. Tubuhnya masih lemas," ucap Arga.


Alea mengangguk, dia melihat jus jeruk di meja dan mengambilnya. Alea meminumnya dengan pelan. Ady yang melihat hal itu segera menyambar minuman Alea dan meminumnya.


"MAS! itu kan ada, kenapa harus punyaku?!" ucap Alea tak terima.


"Hah ... biar berkah," ujar Ady dan menaruh gelas kosong itu ke meja.


Arga menggelengkan kepalanya, suami istri di depannya membuat ia serasa ingin menikah cepat.


"Ady, bolehkan aku menggendong putrimu?" tanya Arga dengan hati-hati, sedari tadi dia menahan kegemasan untuk tidak mencubit pipi gembul bayi itu.


Ady melirik putrinya, dengan berat hati ia pun menyetujuinya.


"Baiklah, bersihkan tanganmu dulu. Aku tidak mau putriku terkena virus yang di bawa olehmu," ujar Ady.


Tanpa pikir panjang, Arga langsung memakai hand sanitizer. Setelah Ady memastikan tangan Arga bersih, dia pun memberikan Ara pada Arga.


"Ringan banget." Gumam Arga.


"Ehhh ... ada tamu, kok gak bilang-bilang si ga," ujar seorang wanita.


Ady tersenyum menatapnya, Alea lun membalikkan badannya dan terkejut ketika melihat wanita itu.


Mereka sama-sama terdiam, suasana menjadi hening dan waktu seakan berhenti. MAta mereka bertemu, kemiripan terlihat dari keduanya.


"Tidak mungkin." Lirih wanita tersebut.


_______


Sesuai permintaan kalian, katanya mau double up. Karena kemarin-marin author sibuk banget dan sekarang lagi senggang, oke cuss double up nih. Buat up satu jam, like sedetik dan komen kurang dari semenit. Jangan ampe gak like dan komen loh, double up nih?past