Love Binder's Baby

Love Binder's Baby
Episode 41: ketahuan



"Hanya ini? tidak ada yang lain?" tanya Alea pada Lena yang tengah meminum jusnya.


"Ya hanya itu, tapi akan ku bocorkan sebuah rahasia lain," ujar Lena pada Alea.


Alea terheran, rahasia apa sehingga Lena akan mengatakan padanya? Alea percaya pada Lena karena wanita itu pasti akan mendukungnya terlebih Alea telah membayar Lena dengan sangat mahal.


"Dia menjalin hubungan dengan bos," ujar Lena.


Alea sontak membulatkan matanya, apa tadi kata Lena? Keyla menjalin hubungan dengan bos mereka? pamtas saja Keyla sangat mudah memprovokasi bosnya itu.


"Dari mana kau tahu?" tanya Alea.


"Tentu saja aku tahu, setiap aku ke apartemennya pasti ada si bos. Untuk apa tengah malam bos datang ke apart karyawannya? masuk akal gak?" seru Lena.


Alea menganggukkan kepalanya, benar juga apa yang Lena katakan.


"Mungkin saja Keyla iri denganmu, kau mempunyai suami tampan. APalagi jika dia tahu kalau suami mu sebenarnya penerus Dominic," ucap Lena.


"Benar, oh iya ... bagaimana kabar Mila?" tanya Alea pada Lena yang telah selesai dari minumannya.


Lena mengusap sedikit bibirnya dengan tisu, dia melipat tangannya di meja dan menatap Alea.


"Aku tidak tahu, setelah kau keluar dia juga ikut keluar. Rumor yang beredar tentang Mila yang menyukai suamimu telah menyebar luas di kantor, siapa lagi pelakunya kalau bukan Keyla si mulut lemes," ujar Lena.


Mila merupakan teman kantor Alea, ketika Keyla menyindirnya pasti Mila yang akan membalasnya. Dia tidak tahu jika Mila menyukai Ady, Alea tidak tahu akan hal itu.


"Benarkah?" heran Alea.


Lena mengangguk tanpa ragu. "Coba kamu tanya dengan suamimu, apakah Mila sering bertemu dengannya? bahkan aku sering sekali melihat mereka berdua mengobrol dengan asik," ujar Lena.


Alea terdiam, tidak mungkin Ady dekat dengan Mila. Alea ingin tidak percaya, tetapi apa yang di katakan Lena ada benarnya juga. Bisa jadi Ady memang butuh teman ketika dia tak menjadi istri yang Ady harapkan.


"Alea, bukan maksudku menyakitimu. Hanya saja, Putra seorang pria yang butuh sosok wanita. Mila datang dan menjadi penghiburnya ketika kamu sibuk di kantor," ujar Lena.


"Tapi tidak seharusnya dia seperti itu dengan suami orang, kalau kayak gitu gatal namanya!" gerutu Alea.


Lena terkekeh, dua melirik ponselnya dan kembali menatap Alea.


"Al sorry nih, ibu gue udah nelpon. Gue balik duluan yah, bukti selanjutnya gue akan cari tahu," pamit Lena.


"Iya, makasih atas infonya. HAti-hati," ujar ALea.


Lena pun keluar dari Kafe, Alea memandang sebuah flashdisk di tangannya. Senyum miring tercetak jelas di bibirnya.


"Tinggal sebentar lagi dan boom!"


Seringaian Alea semakin tajam, dia mengambil tasnya dan bergerak keluar dari kafe.


Alea berniat ke kantor Ady, tetapi dia tidak tahu alamat Ady sehingga dia memutuskan untuk pulang karena Haru juga mulai sore.


Sesampainya di rumah, dia melihat Ady yang keluar rumah dengan tergesa-gesa. Alea turun dari mobil dan melihat Ady yang tergesa-gesa menghampirinya.


"Kau dari mama saja hah?!" marah Ady tepat di depan wajah Alea.


"Aku kan tadi izin sama mas kalau aku ada urusan di luar," ujar Alea membela diri.


"DENGAN MENINGGALKAN ARA SEORANG DIRI DI KAMAR?" bentak Ady.


Amanda datang dan menenangkan Ady agar tidak kelepasan menghadapi Alea. Dia takut Ady malah membuat Alea tertekan dengan sikapnya yang pemarah.


"Ady sudah Ady, tenangkan dirimu," pinta Amanda.


"Bagaimana aku bisa tenang mah, putriku jatuh dari tempat tidur! dan dia malah keluyuran tidak jelas!" ujar Ady pada Amanda.


Mendengar jika putrinya jatuh, Alea segera berlari masuk. Dia menghiraukan teriakan Ady memanggilnya untuk berhenti.


"Ada di taman belakang bersama mas Nando," ujar Siska yang kelihatan bingung.


Alea berlari menuju taman belakang, netranya melihat Ara yang tengah di gendong Nando sambil di ayunkan.


"Bang, tolong berikan Ara padaku," pinta Alea.


"Oh, kau sudah pulang?" tanya Nando dengan alis terangkat.


Alea mengangguk, dia mengambil Ara dari gendongan Nando. Dia mengecek kepala Ara, takut ada benjolan dari kepalanya itu akibat terbentur lantai.


"Tenang saja, Ara tidak sampai terjatuh karena Ady masuk ke kamar kalian tepat waktu. Lain kali, titipkan Ara pada kakakmu. Jika seperti ini, aku khawatir pada Ara," ujar Nando dengan datar tersirat nasehat.


Alea mengangguk, dia menciumi pipi sang anak sambil menggumamkan kata maaf berulang kali.


"Berikan Ara padaku!" sentak Ady dan mengambil Ara dari gendongan Alea.


"MAS!" teriak Alea merasa tidak terima.


Ady menyerahkan Ara pada Amanda, setelahnya dia menarik tangan Alea dan membawanya masuk dengan kasar.


Ady membawa Alea ke kamar, dia mengunci pintu dan menghempaskan Alea begitu saja.


"Jika kau pikir aku akan menunggumu dan menanyakan kau dari mana? Seperti dulu, itu salah! aku bukan Putra! aku Ady!"


"Katakan dari mana saja kamu hah?! sebelumnya juga kau menghindar dari pertanyaan ku?! jelaskan sejujurnya Alea! aku benci sifat ketertutupanmu itu!" bentak Ady sambil mencengkram dagu Alea dengan keras.


Alea tidak bisa berkata-kata, dia takut dengan Ady yang sekarang. Jujur, dia merasa bersalah pada dirinya. Dia melupakan putrinya yang tertidur di kamar, apalagi kamarnya kedap suara sehingga tangisan Ara tidak terdengar dari luar.


"Maaf mas," isak Alea.


"APA JIKA PUTRIKU TERJATUH DAN DI LARIKAN KE RUMAH SAKIT, KAU HANYA AKAN MEMINTA MAAF HAH?! JAWAB AKU!" bentak Ady.


Ady menyuruh Alea duduk di kasur, dia mengambil tas Alea dan membongkarnya. Di Sana terdapat dompet, ponsel dan Flashdisk yang menjadi tatapan Ady.


"Apa ini?" gumam Ady.


Saat Ady akan mengambilnya, Alea terlebih dulu mengambilnya. Hak itu membuat Ady memaksa Alea untuk menyerahkannya sehingga Flashdisk itu berpindah tangan pada Ady.


Ady berjalan menuju laptopnya, dia menduduki sofa dan memasukkan flashdisk itu ke dalam laptop miliknya.


"DIAM DISITU!" titah Ady.


Alea yang tadinya akan beranjak menghampiri Ady seketika berhenti, dia hanya mendudukkan dirinya di tepi kasur sembari memilin tangannya.


"Ya, gue benci sama dia ... lu tau kenapa? dia selalu rebut apa yang gue mau ...,"


"Terus apa rencana lu?"


"Gue udah buat dia di keluarkan oleh kantor karena korupsi, padahal itu ulah gue hahaha. Terus nih, gue yang bayar orang buat nabrak dia biar dia dan bayinya mampus sekalian!"


Itu adalah suara Keyla yang sepertinya mabuk, Alea memejamkan matanya karena dia duga pasti Ady akan kembali memarahinya.


"Jadi saat itu kau bukan kecelakaan? tapi percobaan pembunuhan?" tanya Ady dengan nada dingin.


Tak kunjung menjawab, Ady mendekati Alea dan menatap marah ke arah wanita itu.


"Kenapa kau tidak bilang padaku?! andai saat itu putri kita bisa saja tidak selamat, apa kau akan tetap diam menutupi ini semua dariku? JAWAB ALEA!"


"IYA! AKU MENUTUPI SEMUANYA DARIMU KARENA AKU INGIN DIA HANCUR SEHANCUR-HANCURNYA DAN AKU TIDAK MAU MAS MENGHANCURKAN RENCANA KU!" bentak balik Alea dan menatap Ady dengan nafas memburu.


Ady tertawa keras, entah karena apa dan itu membuat Alea bingung. Tak lama Ady puas dengan tertawanya, dia menatap Alea yang tengah terlihat bingung.


"Kau pikir aku pria bodoh? menggagalkan rencanamu? sebenarnya istriku kamu atau dia? siapa yang harus aku hancurkan hm?"