
Ady turun dari mobilnya, dia memutari mobil dan membuka pintu penumpang untuk mengambil Opi.
"YAH! YAH! YAH!"
Ady terkejut mendengar suara putrinya, dia menoleh dan terlihat putrinya yang berada di teras rumah.
"kamu ikuti om!" Titah Ady pada Opi.
Ady pun langsung berjalan cepat, dirinya takut Ara turun tangga yang lumayan tinggi.
"Hap! anak ayah, sayangnya ayah kenapa.di luar hm? udah wangi lagi, pasti kabur yah dari bunda." Ujar Ady sambil menciumi pipi gembul putrinya.
Opi melihat bagaimana Ady sangat menyayangi anaknya, dia pun tersenyum perih. Hatinya tak pernah merasakan bagaimana kasih sayang seorang ayah, bahkan sedari kecil dirinya harus menerima pukulan dan kemarahan dari orang lain.
"Hei! ayo masuk!" Seru Ady saat melihat Opi yang terbengong.
"Eh, iya om." Sahut Opi.
Opi mengikuti langkah Ady memasuki rumahnya, netranya menatap takjub rumah Ady yang sangat bagus menurutnya.
"Sayang!" Seru Ady.
Tak lama Alea keluar dari kamar dengan Shaka yang masih berbalut handuk.
"Iya mas? hais ... Araaaa!!! untung aja! dia keluar yah mas?" Seru Alea.
Alea langsung mendekati suaminya, dia mencubit pelan hidung mancung putrinya karena sedikit kesal.
"Pagarnya gak kamu pasang?" Tanya Ady.
Alea menggeleng sambil menatap Ady dengan rasa bersalah.
"Lupa mas, maaf yah." Lirih Alea.
"Hah ... lain kali jangan lalai, gimana kalau misalnya aku belum pulang. Di depan ada tangga loh, bahaya buat Ara dan Shaka," ujar Ady.
"Iya-iya maaf, aku lagi mandiin Shaka mas. Baru beres kerjaan rumah tadi," ujar Alea.
Ady sungguh heran dengan Alea, uangnya sangat cukup bahkan lebih hanya sekedar menyewa pembantu. Namun, istrinya tak pernah mau ada orang asing di rumah.
"Aku pakaikan Shaka baju dulu yah, takut dia kedinginan." Pamit Alea, sepertinya wanita itu belun menyadari kehadiran Opi di belakang Ady.
Ady pun mengajak Opi ke ruang bermain putrinya, karena jam segini biasanya ARa bermain di kamar yang Ady buat khusus.
Sesampainya di sana, Ady langsung menurunkan Ara. Bayi itu sangat hafal dengan mainannya, dia langsung merangkak dan bermain seperti biasa.
"Ini putri pertama om, namanya Chiara Elmira Zeinaya Dominic. Biasa di panggil Ara," ujar Ady pada Opi yang duduk di sebelahnya.
Opi yang mendengar nama Ara pun menggaruk pelipisnya, pasalnya nama itu sangatlah panjang dan membuat Opi bingung menghafalnya.
"Namana panjang banget ya om? nda bica pendek?" Ujar Opi.
"Panjang yah, kalau gitu panggil Ara aja," ujar Ady.
Opi menganggu sembari tersenyum, dia melihat Ara yang bermain dengan begitu menggemaskan. Ingin rasanya Opi menyentuh pipi bulat bayi itu, hanya saja dia merasa tangannya kotor.
"Udah, Shaka main sama Ara yah. Jangan di isengin lagi adeknya, nanti Ara nangis gak mau main lagi sama Shaka." Ujar ALea sambil berjalan memasuki kamar dengan Shaka yang berada di gendongannya.
Alea menurunkan Shaka tepat di samping ARa, kemudian netranya beralih menatap Ady dan Opi.
"Eh?" Kaget Alea saat melihat Opi.
"Sayang, duduk sini deh." Pinta Ady sambil menepuk sampingnya.
Alea menurut, dia duduk di samping Ady sehingga kini Ady berada di tengah-tengah antara Opi dan istrinya.
"Tadi di jalan ...,"
Ady menjelaskan dengan detail apa yang terjadi di jalan, Alea pun menyimak dengan baik apa yang suaminya itu jelaskan.
"Begitu ceritanya, dia disini cuman sementara aja kok sampe aku dapet panti asuhan yang tepat buat dia. Kamu jangan marah yah," ujar Ady pada istrinya.
Alea hanya diam sambil menatap putra-putrinya, melihat hal itu pun Ady langsung menggenggam tangan Alea dan mengelus nya pelan.
"Yaudah, bentar lagi aku akan bawa ...,"
"Kenapa kamu tega?" Tanya Alea dengan nafas tercekat.
"Dia dateng ke kamu agar kamu bisa lindungin dia, kalau kamu bawa dia ke panti asuhan sama aja kamu ngebuang dia lagi." Ujar Alea dengan suara bergetar.
Ady menepuk keningnya pelan, hati istrinya sangatlah lembut setelah dia menjadi seorang ibu.
"Terus kamu maunya gimana?" Tanya Ady sambil mengelus punggung sang istri.
Alea tak menjawab, dia berdiri dan duduk di samling Opi. Netranya menelisik wajah Opi, tangannya juga terulur untuk menyentuh pipi kurus anak itu.
"Namanya siapa cantik?" Tanya Alea dengan lembut.
Opi yang sedari tadi mendengar percakapan mereka sedikit takut, dia takut karena khawatir Alea akan memarahinya.
"O-opi tan-tante," ujar anak itu.
Alea tersenyum, dia mengusap rambut panjang Opi yang terikat satu.
"Kenalkan, nama tante Alea dan dia suami tante om Ady," ujar Alea memperkenalkan dirinya dan Ady.
Opi mengangguk dengan ragu, dia merasa gugup saat ini. Takut, malu dan khawatir bercampur menjadi satu.
"Ehm ... Opi bersih-bersih dulu yuk, abis itu makan yah. Pasti Opi laparkan?" Ajak Alea.
"Ta-tapi, Opi nda bawa baju tante," ujar polos anak itu.
Alea tersenyum dan menepuk pelan kepala Opi.
"Tenang aja, badan kamu terlihat kecil.Ara punya baju yang kebesaran, pakai duku aja sama kamu." Bujuk Alea.
Memang Ady dan keluarganya telah memberikan Ara kehidupan yang sangat layak, bahkan baju saja di sediakan tidak main-main. Dimana Ady membelikan Ara baju yang di pakai saat nanti usia Ara satu tahu ke atas, bahkan ada baju yang di pakai anak berumur 5 tahun.
Akhirnya Alea mengajak Opi memasuki kamar mandi, sementara Ady memantau kedua bayi itu sambil membuka jas beserta dasinya.
"Yah ... yah!" Seru Ara sambil merangkak ke arah Ady.
"Iya sayang." Sahut Ady.
"Net net!" Seru Ara sambil menunjuk Shaka yang sedang serius bermain.
"Net? net apa?" Bingung Ady.
Ara menarik jari ayahnya, dia mengarahkan jari sang ayah ke arah gambar yang ada di karpet.
Seketika netra Ady membulat, dia tak sanggup menahan tawa sehingga kini Ady tertawa lepas.
"HAHAHAHA!"
Shaka dan Ara tersentak kaget, terlebih Ara yang langsung menjauh karena takut dengan Ady.
Tampak raut wajah keduanya terlihat takut dan kaget melihat Ady yang seperti orang kesurupan tertawa. Dimana Ady tertawa tak berhenti sambil memukul karpet.
"Kenapa kau sangat pintar putriku, kau menunjukkan gambar yang bagus!" Seru Ady kembali tertawa.
"Net, yah net!" Seru Ara kembali dengan wajah yang masih terlihat bingung.
Tiba-tiba Ady menghentikan tawanya, dengan kaku dia menatap putrinya yang masih berkata seperti tadi.
"Yah net," ujar Ara.
"Nyet, ayah?" Perjelas Shaka.
Ady mengambil boneka berbentuk bola dan mengarahkannya pada wajah Shaka yang terlihat polos meledek.
"JANGAN DI PERJELAS GENTONG!"
______.
Maaf yah belum sempat balas komenan kalian๐ฅบ๐ฅบ๐ฅบ.
Author lagi sibuk-sibuknya, kerja dll๐ฃ๐ฃ
Mau up banyak, cuman udah keburu capek๐๐๐ด๐ด
maaf dan terima kasih banyak sudah setia๐๐๐๐๐