
"Jangan di kobok sayang, amis," ujar Alea ketika menaruh ikan cup4ng tersebut kedalam wadah. Ara sedari tadi terus menatapnya dan mencoba untuk memasukkan tangannya.
"Aku kan udah bilang, buang ikan murahan itu. Memangnya ikan di kolam kurang? apa kurang mahal? aku akan membeli yang lebih mahal dan lebih bagus dari ikan itu," celetuk Ady yang sedari tadi duduk di bangku tak jauh dari istri dan putrinya.
Bukannya Alea tidak suka ikan yang ada di kolam rumah, hanya saja putrinya lebih tertarik segala sesuatu yang cantik di bandingkan dengan yang mahal.
Namun, Ady tak paham itu. Pria tersebut terlalu overprotektif pada putrinya, mungkin karena Ara adalah anak yang Ady impikan sedari mereka menikah.
"Udah yuk sayang, kita bobo ciang aja. Lebih pada dengerin ayah kamu yang gak jelas," ujar Alea pada putrinya.
Alea kembali masuk ke dalam kamar meninggalkan Ady yang terkejut mendengar ucapan istrinya.
"Benar-benar!" geram Ady.
ketika Ady akan beranjak dari duduknya, netranya melihat Edgar dan Razka yang baru saja memasuki rumah. Keningnya membentuk sebuah kerutan dan kakinya melangkah mendekati keduanya.
"Apa ini Edgar? kenapa dengan keningmu? apa anak itu kembali membulimu? katakan!" Ady terus mencercanya dengan pertanyaan dan hal itu membuat Edgar semakin pusing.
"Aku sudah membalas nya bang," ujar Edgar dan melanjutkan langkahnya. Meninggalkan Ady yang menatap kepergian adik iparnya dengan kesal.
Razka tersenyum ketika melihat raut wajah sang abang, kelakuannya membuat Ady menoleh kepadanya.
"Ngapain senyum-senyum? buat merinding aja kamu," celetuk Ady.
Senyum Razka luntur, dia mendelik menatap abangnya yang tengah menatapnya heran.
"Emangnya gak boleh kalau aku senyum? pantas yah sekarang Ara tuh gak suka lengket ama abang, baru tau kalau kelakuan bapaknya gak jauh beda ama kingkong di ragunan," seru Razka dan berlari sebelum Ady meneriaki namanya.
"RAZKAAA!" teriak Ady dengan nafas memburu.
Siska yang kebetulan baru dari dapur sehabis mencuci botol Shaka oun terheran dengan Ady yang berteriak sendiri. Dia menggendikkan bahunya dan berjalan menuju kamarnya.
Siska membuka pintu kamar, dia melihat putranya yang tengah menatap ke arah mainan di atasnya.
"Eh, kok belum bobo?" heran Siska.
Siska merasa jika putranya telah tidur ketika dia mencuci botol, tetapi kenapa sekarang putranya terjaga?
Beruntung Shaka berada di tengah-tengah tempat tidur yang telah Siska berikan pembatas.
"Tidur gih, nanti sore malah tidur. Terus malam begadang, kasihan papah kamu." bujuk Siska sembari merebahkan dirinya di samping putranya.
"Brlll, oaaaa," Shaka menyemburkan ludahnya, Siska dengan telaten membersihkan ludah sang anak.
TRING!
Ponsel Siska berdering, Siska mengambilnya dan ternyata suaminya mengirimnya chat.
"Mas Nando lembur lagi? Perasaan dari kemarin lebur mulu deh, emang gak capek apa?" heran Siska.
Siska membalas pesan suaminya yang berkata pada dirinya jika ia lembur, Siska oun mengiyakan tapi tanpa disangka NAndo menyuruhnya ke kantor agar menemani dirinya nanti sore.
"Lupa kali yah udah punya anak? terus si Shaka gimana?" frustasi Siska pada suaminya yang selalu manja dengan perisai datar.
***
"LAH AL?! KOK NIH BAYI TRIPLEK ADA DISINI?!" kaget Ady.
Pasalnya, Ady akan tidur karena waktu yang telah menunjukkan pukul 9 malam. Namun, dirinya heran ketika melihat ada dua bayi di atas kasurnya.
"Syuutt, bisa diem gak sih mas? udah pada mau tidur jadi kaget kan!" kesal Alea karena sedari tadi dirinya mencoba untuk membuat keduanya tertidur. Namun, bukannya tertidur mereka asik berceloteh satu sama lain.
Ady mengerucutkan bibirnya sebal, dia menutup pintu kamar dengan sedikit keras. KAkinya di hentak-hentakkan menuju kasir dan menatap Shaka tajam.
"Eh si botak, main nyosor anak gue aja lu!" sentak Ady ketika melihat Shaka mengemut pipi putri kesayangannya.
"Ekheee, ekheee hiks oeee,"
Ara menangis ketika merasa tak nyaman, Alea menggendongnya dan berusaha menenangkannya. Berbeda dengan Ady yang menatap tajam bayi yang belum pernah tau kesalahan.
"Kan! biar rusuh dasar! anak gue nangis kan!" kesel Ady sembari mencubit paha gemuk Shaka.
Shaka hanya bisa berceloteh, dia menatap Ady dengan mata tajamnya. Ady pun tak takut menatap tajam mata bayi itu.
"Ekhee ekhee ekheee,"
"MAS ADY!"
Ady terkesiap ketika Shaka menangis, biasanya bayi itu tak pernah menangis jika dia melototinya. Bukankah Ady hanya membalas pelototan Shaka? kenapa sepertinya dia yang salah disini?
Ady mengambil Ara dari tangan Alea, dia tidak mau menangkan bayi caper itu.
"Masih bayi tapi udah punya niat jadi pebinor," celetuk Ady.
Alea menenangkan Shaka, dia memberi botol susu tetapi Shaka malah melengoskan wajahnya. Bayi itu semakin keras menangis, dia menolehkan kepalanya dan tangisannya pun reda.
Tangan kecilnya menepuk-nepuk dada Alea, dia kembali menangis saat tak kunjung di respon.
"Kamu mau nen?" tanya Alea.
Seperti mengerti, Shaka menghentikan tangisannya. Dia menepuk dada Alea dan mendekatkan mulutnya.
"Ehhh nen apa nih maksudnya? tanya Ady ketika melihat adanya bahaya.
" Mau susu aku," ujar Alea
Ady semakin kesal, dia mencomot wajah Shaka dengan tidak berperasaan. Beruntung comotan itu tidaklah kencang, tetapi mampu membuat Shaka semakin menangis.
"Modus! masih bayi jiwa modusnya ada, jangan-jangan lu nurun dari bapak lu buaya darat!" kesal Ady.
"Ekhee ekhee ekheee,"
"MAS!" Peringat Alea.
Alea akan mengeluarkan nutrisinya, tetapi Ady yang melihat itu langsung melototkan matanya.
"KAMU MAU NGAPAIN?" sentak Ady.
"Mau nyusuin Shaka lah," Polos Alea.
Ady langsung menarik kembali baju yang istrinya singkap, dia menatap tajam Alea yang tengah kebingungan.
"Gak ada gak ada! apaan, dia tuh mau modus Al. Nurunin bang Nando dia, buaya darat plus lelaki karpet, lelaki kardus!" Kesal Ady.
"Kan aku udah biasa nyusuin Shaka mas?" heran Alea.
Shaka sudah terbiasa menyusu dengan Alea sebab asi yang di hasilkan Siska tak terlalu banyak. Shaka bayi laki-laki dan dia sangat kuat menyusu, terlebih Shaka tidak mau di beri susu formula.
Sangat di sayangkan, tetapi Alea menawarkan diri. Siska sudah merundingkan dengan suaminya dan Nando setuju dari pada putra mereka kelaparan dan kehausan.
Alea memang belum menceritakannya ke Ady, dia berpikir mungkin Ady tidak akan marah karena Shaka adalah keponakannya. Lagi pula bukankah saat itu mereka sudah ada pembahasan seperti ini? walau Ady belum memberi pendapatnya.
"APA!! BAYI CAPER INI UDAH NYUSU SAMA KAMU?!" teriak Ady pada Alea yang mengangguk kaku.
Ara dan Shaka menjerit, mereka terkejut atas teriakan Ady.
"Iy-iya mas," takut Alea.
Ady menatap tajam Shaka yang masih menangis, dia kesal dengan keponakannya itu.
"Enak kamu yah, om kamu aja belum buka puasa udah di ambil duluan ama kamu!" Kesal Ady.
_______________
Hai-hai
Sorry banget yah kemarin gak up, aku lagi down banget gaes😓.
Ragu buat lanjutin disini, ada rasa gimana yah ... kayak pengen udahlah gak usah di lanjut udah capek🙍♂️.
Tapi karena ada kalian yang komen up, ampe author rasanya ... merasa di cariin, jadinya yasudah. lanjut yok😁