
"Gimana keadaan Nando?" Tanya Revan pada dokter yang sedang membacakan hasil lab.
Terlihat dokter tersebut menghela nafas pelan, dia menatap Revan dengan pandangan serius.
"Di temukan senyawa tak di ketahui yang masuk ke dalam tubuh pasien, sejenis senyawa ini belum pernah saya temui. Namun, akibat senyawa ini menjadi kan emosi dan juga pikiran pasien tak terkontrol. Dia akan terlihat emosi secara tiba-tiba dan juga kebingungan dengan apa yang ia lakukan. Hanya saja dirinya masih sadar walau tak sepenuhnya,"
Mendengar hal itu sontak saja Revan beserta keluarga lain yang mendengarnya pun terkejut termasuk Siska.
"Jadi maksudnya anak saya berusaha di celakai gitu dok?" Tanya Rosi.
"Bukan, lebih tepatnya di manfaatkan," ujar dokter itu.
Siska memikirkan apa yang terjadi dengan Nando, memang benar jika beberapa waktu terakhir sifat Nando sering berubah dan sedikit linglung setiap kali dia dan Siska bersama.
Bahkan beberapa kali Nando lupa hari sehingga ia masih berangkat ke kantor walaupun hari libur, dan hal itu membuat pertanyaan bagi Siska.
"Siska, kau kembali ke kamar Nando. Kami harus konsultasi mengenai keadaan Nando saat ini, kasihan dia tidak ada yang menjaga." Titah Rosi.
Siska menurut, ia keluar dari ruangan itu dan mendekati ruang rawat Nando. DIa membuka pintu dan melihat Nando yang sudah sadar, pria itu sudah duduk sambil menatap kosong ke arah depan.
"Mas," panggil Siska.
Nando menoleh, air matanya jatuh. Tubuhnya bergetar hebat, Siska yang melihat itu bergegas mendekat.
"Kenapa menangis?" Tanya Siska sedikit khawatir.
"Jangan tinggalkan aku." Lirih Nando.
***
"AAAA! OAAA!"
Ady tengah di buat pusing oleh kedua bocah yang menjadi putri serta ponakannya, moodnya buruk malah semakin burik karena bertemu dengan Dion.
Untung saja Alea langsung memutuskan pergi tampa mengobrol dengan Dion. Ady merasa lega, hanya saja dia kesal karena Dion menatap istrinya dengan rindu.
"Shaka, adeknya jangan di ganggu nak," ujar Alea dengan halus.
Shaka melihat Alea, ia merangkak ke arah Alea dan memegang dress yang Alea kenakan. Mengerti jika Shaka ingin di pangku, Alea pun mengambil bocah gembul itu dan mengambil biskuit bayi agar anak itu anteng.
Sedangkan Ara, dia kembali sibuk dengan mainannya. Ady memang sempat membelikan Ara sebuah mainan yang lentur dan mudah membentur.
"Eheee ...,"
Ara tertawa saat mainan itu menjauh, ia merangkak untuk mengambilnya. Lagi-lagi bocah itu melemparnya jauh sampai keluar pintu utama, dan orang tuanya pun tak sadar.
Ara akan kembali merangkak, tetapi bocah itu menoleh sebentar pada orang tuanya. Terlihat Alea tengah memperhatikan Shaka dan Ady tengah fokus pada laptopnya.
Ara kembali melihat ke arah mainan yang ia lempar, dia pun kembali merangkak menuju pintu utama.
Entah kenapa, tidak ada penjaga seperti biasanya. Mungkin sedang berganti sift, atau sedang ke tempat lain.
Ara hampir mencapai mainannya, ia berhenti merangkak kala melihat sebuah sepatu hitam. Bayi gembul itu duduk dan mendongak untuk melihat siapa yang menghalangi jalannya.
"Ehee ...,"
"Hei ... siapa ini? kenapa kau ada disini hm?"
Sedangkan di ruang tengah, Ady baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Dia melirik putrinya sebentar dan memindahkan laptopnya. Namun, dirinya baru sadar ternyata putrinya tidak ada di tempatnya.
Seketika Ady melotot, dia menoleh menatap Alea yang tak sengaja tertidur. Mungkin karena lelah, bahkan Shaka juga ikut tertidur dengan mulut yang cemong dengan biskuit.
Ady pun bangun, dia mencoba mencari Ara. Sampai netranya menatap arah pintu luar, ia menepuk keningnya seraya berlari.
"Ck, kenapa tidak ada penjaga disini," ujar Ady dengan kesal.
Telinganya mendengar kicauan seseorang, dia melihat ke arah air mancur yang berada di halaman. Dan benar saja ada seorang pria yang tengah menggendong putrinya, ia segera berlari menghampiri orang tersebut.
Tanpa berpikir panjang, Ady langsung merebut putrinya tanpa melihat siapa orang itu. Karena dia tahu bukan keluarganya sebab hanya dia dan Alea yang berada di rumah, selebihnya ada di rumah sakit dan di kantor.
"Berani sekali kau membawa putriku keluar!" Sentak Ady.
"Hei! putrimu sendiri yang keluar, jangan salahkan aku!" Sentak orang itu balik.
Tentu saja Ady sangat hafal suara itu, dia menatap tajam sang pelaku. Siapa lagi kalau bukan Arga, dia yang selalu membuat Ady kesal dan panik.
"Ngapain lu kesini?" Tanya Ady yang tengah mengusir Arga secara halus.
"Ck, kan tadi gue chat lu ... kata gue, gue mau kesini sekarang untuk bahas hak penting. Emang dasarnya lu pikun aja," ujar Arga.
Ady tampak mengerutkan keningnya, dia tengah mengingat kapan Arga mengirimkannya pesan. Tak lama ia pun mengingat dan mengangguk.
"Iya, gue lupa. Ayo masuk, lu langsung ke ruang kerja aja. Gue mau urusin keluarga gue dulu," ujar Ady.
"Lama?" Tanya Arga.
"Enggak, cuman pindahin istri ama ponakan ke kamar. Mereka ketiduran di ruang tengah. Gak usah kebanyakan cincong deh, mending masuk aja." Kesal Ady.
Ady berjalan masuk dengan Ara yang berada di gendongannya, sedangkan Arga merutuki nama Ady.
Singkat waktu, Ady telah memindahkan ALea ke kamar beserta Shaka. Namun, Ara masih ikut dengannya karena putrinya belum juga mau tertidur.
"Disini dulu yah princess, ayah ngobrol dulu bentar sama pak tua yah." ujar Ady sambil menurunkan putrinya di karpet tebal yang ada di ruang kantor di temani dengan mainan yang tadi sempat Ady ambil untuk sang putri.
Arga mendengar Ady menyuruh Ara untuk memanggilnya pak tua seketika mengerucutkan bibirnya sembari mendumel.
"Apa?!" Sewot Ady, seakan-akan Arga tengah merutuki dirinya.
"Apaan sih, sinis aja," ujar Arga.
Ady kembali ke kursinya sambil sesekali melirik putrinya yang asik bermain dan terkadang sesekali merangkak ke tempat lain.
"Kau ingin menyampaikan apa?" Tanya Ady dengan mode serius.
"Aku hanya ingin bertanya, siapa nama ayah dari Alea," ujar Arga.
Pertanyaan Arga membuat Ady bingung, tentu saja karena Arga tak ada sangkut pautnya pada istrinya. Kenapa pria itu malah menanyakan tentang kehidupan sang istri.
"Kau mau melamar istriku huh? dia sudah menjadi milikku bodoh!" Seru Ady.
Arga memutar bola matanya malas. "Aku tahu, dengan melihat Ara memperjelas semuanya. KAu kira aku anak kecil yang memperebutkan mainan huh?!" Jengah Arga.
Arga mulai menceritakan maksud kedatangannya, dia hanya mencurigai sesuatu. Maka dari itu dia bertanya tentang nama asli Ayah dari Alea.
"Jawab dengan jujur, sebenarnya apa yang kau cari tentang istriku?" Tanya Ady dengan cepat.
"Aku curiga jika istrimu adalah kembaranku yang memang terpisah saat kami masih berumur 2 tahun," ujar Arga.
Mendengar hal itu sontak saja Ady membulatkan matanya, dia kembali mengingat berbagai kejanggalan yang ada. Seperti sebuah buket bunga di kuburan ayah mertuanya, dan juga tatapan ibu Arga.
"Jadi maksudmu, istriku anak tante ...,"
"Bukan! dia bukan ibu kandungku, melainkan kembaran ibu kandungku atau ibu kandung kami," ujar Arga yang mana membuat Ady tambah di buat terkejut.
"A-apa?!"