Love Binder's Baby

Love Binder's Baby
Episode 71: Shaka sakit



Alea tengah menyusui Shaka, terlihat bayi itu dengan sangat rakus menyedot susunya. Alea pun sampai meringis akibat dadanya yang sakit, dia menahannya karena tahu jika bayi itu sangat lapar.


"Pakai botol susu aja yah Al, gak tega aku lihat kamu." Ujar Ady sambil menatap mata istrinya yang teduh.


"Tadi kan mas lihat sendiri, di kasih susu botol malah melengos. Kasihan mas, dia laper," ujar Alea.


"Huft ... hati kamu terbuat dari apa sih Al." Lirih Ady.


Sungguh Ady bingung, ketika dia melihat Shaka ada rasa kecewa dan juga rindu secara bersamaan. Dia kecewa karena Shaka adalah anak Nando, wajahnya yang mirip dengan Nando mengingatkan Ady dengan kesalahan pria itu yang berakibatkan dia harus kehilangan calon bayinya.


Ady belum mengikhlaskan kepergian calon buah hatinya, bahkan saat itu dirinya berharap ALea mengandung. Dia berencana akan mengajak Alea untuk periksa apakah istrinya beneran hamil ataukan tidak, tetapi naas dia harus kehilangan calon bayinya sebelum dia tahu.


"Mas, tolong bantu ganti baju Ara yah. DIa tadi keringetan, aku takut tidurnya gak nyaman." Ujar Alea sambil menepuk lengan Ady.


Ady mengangguk, dia bangun dari rebahannya dan berjalan menuju lemari. Memang dia menyisakan beberapa baju disini, termasuk baju putrinya.


Ady mengambil baju jumpsuit agar Ara tak kegerahan, dia membuka baju Ara dan memakaikan jumpsuit tadi.


Ady mengambil selimut tipis dan memakaikannya pada putrinya, walau Ara tak suka dia tetap memakaikannya agar putrinya tak terlalu kedinginan.


Netranya melirik jam tangan miliknya, waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam yang artinya sebentar lagi Siska akan pulang.


"Al, pulang yuk. Bentar lagi Kak Siska dan bang Nando balik," ujar Ady.


"Loh, tadi kata Razka Bang Nando di rawat lagi. Gak mungkin jiga Kak Siska pulang tanpa Bang Nando," ujar Alea dengan heran.


Ady kaget, dia belum tahu tentang hal itu. DIa kira minggu lalu Nando pulang karena sudah baikan, tetapi kenapa malah kembali di rawat?


"Razka bilang memang semenjak di rumah kondisi Bang Nando tak ada juga perubahan, malah semakin parah." Kata Alea.


"Kita nginep disini aja yah Mas, sekalian temenin Shaka. Aku rasa dia demam, badannya anget soalnya." Lanjut Alea.


Tak percaya, Ady oun mendekati Alea dan menempelkan tangannya di pipi Shaka. Benar saja, tubuh Shaka demam.


"Kalau gitu aku pindahin Ara dulu, bisa ikut demam dia nanti." Ujar Ady sambil berjalan mendekati putrinya yang tertidur tepat di samping Shaka.


Alea mengangguk, jika Shaka sakit Ara juga akan ikut sepupunya itu. Maka dari itu jika salah satu dari mereka sakit, Alea akan memisahkan mereka.


"Aku udah pompa asi jiga, tuh dapet dua botol. Takutnya Ara nangis, aku udah siapin susunya," ujar Alea.


Ady mengangguk, dia membawa Ara ke gendongannya. Sedikit menepuk punggung kecil itu agar kembali terlelap.


Ady keluar dari kamar, dia akan membawa Ara ke kamar bayi tetapi netranya melihat Arga yang baru saja masuk dari pintu utama.


"Ngapain lu kesini? minjem uang? apa numpang makan?" Cetus Ady dengan tampang datar.


"Enak aja! anak sultan dateng ke rumah orang minjem uang sama numpang makan? HELLOOW! MALU LAYAW!" Seru Arga.


"DIH! Homo lu setan!" Celetuk Ady dengan meringis.


Ingin rasanya Arga membuka sepatunya dan melemparkannya ke wajah Ady, hanya saja dia tak tega dengan ponakannya yang ada di gendongan iparnya itu.


Ady melengos, dia meninggalkan Arga ke kamar bayi. Ady menaruh Ara di box bayi dengan perlahan, tak di sangka ternyata Arga juga mengikuti Ady di belakang.


"Hot daddy dong lu yah." Celetuk Arga.


Tubuh Ady tersentak kaget, dia menoleh dan mendapati Arga tersenyum tanpa dosa.


"Eh monyong! kampret! kaget gue!" Kesal Ady.


"Hehe, sorry. Adek gue mana?" Tanya Arga.


"Lagi gak bisa di ganggu, udah sana pulang!" Seru Ady dan akan beranjak meninggalkan Arga.


Arga mendengus kesal, dia melirik Ara yabg dengan pulasnya tertidur tanpa terusik sedikit pun.


Tak lama Ady kembali dengan sebotol susu, pria itu mendekati box dan memasukkan dot itu pada mulut putrinya.


Arga mengamatinya, dia baru tahu jika bayi yang tertidur akan meminum susu dengan lahap seperti itu.


"Kau bukan seorang ayah, mana tahu hal seperti ini." Sindir Ady.


Merasa tersindir, Arga menepuk keras bahu Ady sehingga botol yang Ady pegang sedikit bergeser.


"E-ehhh,"


Ady menepuk kaki putrinya karena Ara sedikit bergerak gelisah kala botol itu bergeser.


"Si bambang! anak gue bangun, awas lu!" Seru Ady.


Dengan entengnya Arga berkata, "Ya tinggal tidurin lagi apa susahnya sih?"


"Kalau lu udah nikah, terus punya anak. Baru tuh rasain kesitanya waktu lu gara-gara anak nangis!" Ketus Ady.


"Kenapa begitu? anakkan kebahagiaan orang tua, justru lu seneng dong," ujar Arga.


Ady memutar bola matanya malas, sambil menunjuk Arga Ady pun berucap, "Ini nih, kebanyakan baca puisi lu! hidup gak sesederhana itu, lu juga butuh jatah dan jatah itu semakin sulit lu dapatkan ketika punya anak."


Arga mengerutkan keningnya, pria itu benar-benar belum paham apa maksud Ady.


"Jatah?" Heran Arga.


Ady membulatkan mulutnya, matanya menatap Arga tak percaya.


"Astagaaa ... lu masih polos ternyata?!!" Seru Ady yang mana membuat Arga bertambah bingung.


Berbeda dengan Alea, wanita itu kini tengah sibuk mengurus Shaka. Bayi itu selalu gelisah dalam tidurnya, seperti bergumam tak jelas atau terisak sebentar.


Alea rasa bukan hanya kali ini Shaka sakit, tetapi sudah dati kemarin-marin dan semakin mengkhawatirkan.


Bahkan Alea sedikit menekan perut Shaka dan bayi itu merasa sakit, perutnya terasa sedikit keras dan Alea yakin jika Shaka tengah masuk angin.


"Dimana minyak angin yah." Gumam Alea.


Alea berdiri, ia membuka laci nakas yang berada di samping tempat tidur untuk mencari minyak angin.


Setelah dapat, Alea kembali ke tempat tidur dan menyingkap baju yang Shaka kenakan.


"Sakit yah nak?" Tanya Alea ketika mendapati Shaka yang membuka matanya.


Shaka memandang Alea dengan mata sayunya, kepalanya pasti terasa pusing dan juga mengantuk. Namun, karena merasa tak enak badan dirinya tak bisa merasa tidur nyenyak.


"Nda ...."


"Iya sayang? Shaka mau apa nak?" Tanya Alea ketika mendengar lirihan Shaka.


Shaka memukul pelan perutnya, Alea belum memahami maksud ponakannya itu.


"Sakit? perut Shaka sakit?" Tanya Alea.


"Cu ... cu." Tunjuk Shaka pada Alea.


Alea mengerutkan keningnya, bukankah baru saja dia menyusui Shaka. Kenapa anak itu kembali lapar?


"Apa karena tak enak badan Shaka jadi selalu lapar?" Gumam Alea.


Cklek!


"Al, ayo kita ... loh, kok belum tidur si datar?" Ady yang baru masuk memandang Shaka dengan bingung.


"Demamnya naik mas, sedari tadi lapar terus. Perutnya kembung, angin kayaknya. Apa kita perlu ke rumah sakit? aku khawatir sama dia." Ujar Alea sambil bangkit dari duduknya.


Ady menghela nafas pelan, dia melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 9 malam. Bahkan orang tuanya belum juga pulang, begitu pun dengan Siska.


"Ara tidur, gak mungkin kita ninggalin dia. Begini saja, lebih baik aku panggil dokter kesini. Gak baik juga bawa Ara ikut ke rumah sakit, dia bisa tertular nanti." Putus Ady.