
"Ntar dulu, jadi maksudnya tante Tiara itu tante lu. Terus istri gue itu kembaran lu gitu," ujar Ady dengan sedikit bingung.
"Maka dari itu gue memastikan sesuatu, wajah Alea sangat mirip dengan ibu kandung gue." ujar Arga sambil mengetuk jarinya di meja.
Ady mulai sangkut pautkan semuanya, dia mulai mencerna apa yang Arga katakan.
"Bokap gue dan nyokap itu menikah, mereka tak di restui oleh keluarga sehingga mereka memilih membangun bahtera rumah tangga sendiri. Namun, sayang sekali karena ketidak cocokan akhirnya mereka memutuskan untuk pisah. Gue di bawa nyokap dan kembaran di bawa bokap, nyokap gue meninggal saat umur gue 5 tahun. Gue baru tahu tentang semuanya saat tahun lalu." Terang Arga.
"Apa lu yang taruh sebuket bunga setiap akhir pekan di kuburan Andi Herman?" Tanya Ady.
Arga menegakkan duduknya, dia mengerutkan keningnya dengan dalam.
"Bagaimana lu bisa tahu?" Heran Arga.
Ady menyandarkan tubuhnya di sandaran bangku ia melipat tangannya sambil mengangguk-anggukan kepalanya.
"Itu mertua gue," ujar Ady.
BRAK!
Ady spontan terkejut ketika Arga menggebrak meja, dia sungguh kesal dengan orang yang ada di depannya. DIrinya tahu jika Arga kaget, tapi bukan berarti ia harus ikutan kaget bukan?
"Jadi bener kan, kalau Alea kembaran gue?" ucap Arga meyakinkan dirinya.
"Gue gak tau yang jelasnya, mungkin lu bisa lakuin tes. Tapi, jangan sekarang. Keluarga gue sedang tidak baik-baik aja, belakangan ini istri gue terlalu banyak pikiran. Sampai-sampai Ara selalu lapar karena kekurangan asi hingga harus di bantu susu formula, gue takut dia drop setelah mengetahui fakta barusan," ujar Ady.
Arga terduduk dan melemas, padahal dia sangat ingin memberitahu Alea. Namun, apa boleh buat? keadaan Alea memang tidak baik-baik saja, banyak beban pikiran yang sedang dia pikul.
"Selain Alea, kau juga memiliki seorang adik," ujar Ady.
Seketika Arga menatap Ady. "Siapa? perasaan aku tak pernah tahu jika Alea memiliki adik," ujar Arga.
"Dia Edgar, remaja berumur 16 tahun. Memang selama kehamilan Alea, aku tak ada bersamanya. Edgar lah yang menjaga Alea, bagaimana pun juga Edgar telah menjadi sandaran untuk Alea selama ini," ujar Ady.
Mendengar hal itu Arga kembali berpikir, memang ia tak tahu apapun tentang keluarga ayah kandungnya. Dia telah mencari tahu, tetapi sayangnya sang ayah sudah tiada bahkan rumahnya sudah terjual.
"Tunggu saatnya tiba, aku sendiri yabg akan menjelaskannya. Sekarang keadaan masih sangat rumit, jika di tambah dengan berita ini pasti akan membuat suasana semakin runyam," ujar Ady.
"Baiklah, aku mengerti," ujar Arga.
Tok!
Tok!
Tok!
"Bang, boleh aku masuk?"
Ady mendengar suara itu, itu adalah suara Edgar. Arga menatap Ady dengan pandangan bertanya, Ady lun berkata nama Edgar tanpa suara.
"Masuk dek!" Seru Ady.
Cklek!
"Maaf, apa Ed mengganggu?" Tanya Edgar sambil memunculkan kepalanya.
"Tidak, kemarilah. Apa kau butuh sesuatu?" ujar Ady.
Perlahan Edgar masuk, dia juga kembali menutup pintu dan melangkah ke arah Ady. Masih mengenakan pakaian sekolah, Edgar duduk di samping Ady. Sempat dia tersenyum ramah pada Arga karena menghargai sebagai tamu Ady.
"Ada apa? kau butuh sesuatu?" Tanya Ady.
"Begini bang, sekolah akan mengadakan study tour ke jepang. Aku sudah izin sama kakak, tapi doa tak mengizinkanku. Padahal ada Razka yang juga ikut, tolonglah bang bantu aku bujuk kakak," ujar Edgar dengan memelas.
Ady tersenyum, tentu saja dia tahu sifat istri dan adik iparnya. Alea memang selalu overprotektif saat menjaga sang adik, dan Edgar selalu mengadu padanya.
"Iya, nanti abang bilang. Apa ada hal lain?" Tanya Ady.
"Abang yang bayar yah, aku mau minta sama kak Alea hanya saja dia tak mengizinkanku dan uang sudah pasti tidak akan di beri," ujar Edgar.
Ady menggelengkan kepalanya sembari tersenyum, dia mengambil kertas itu yang bertuliskan total biaya yang harus di keluarkan.
"Tak masalah, sana istirahatlah. Malam nanti abang minta tolong jaga Ara dan Shaka, soalnya nanti malam abang dan kakakmu akan ke rumah sakit kembali," ujar Ady.
Edgar mengangguk antusias, dia berdiri dan mengucapkan terima kasih berulang kali. Baru habis itu dia keluar dengan senang.
Setelah kepergian adik iparnya, Ady hanya mampu terkekeh. Netranya melihat Arga yang ternyata juga ikut sepertinya.
"Coba saja sedari dulu kami kumpul bersama, pasti akan sangat seru bukan?" ujar Arga.
"Bukan seru lagi, sudah ramai seperti pasar," ujar Ady.
Mereka berdua tertawa, hingga tak sadar jam sudah menunjukkan pukul 4 sore.
Ady baru sadar jika Ara ada di ruangannya, dengan panik ia pun mencari keberadaan putrinya.
"Eh, ana gue kemana?" Tanya Ady sambil mencari Ara kesana dan kemari.
"HA? iya yah, gue baru inget ama tu bayi," ujar Arga.
Mereka bahkan mencari di kolong meja karena takutnya Ara berada di sana, tetapi keadaannya tak juga di temukan.
"ADY!" seru Arga.
Dengan terburu-buru, Ady pun langsung menghampiri Arga yang berdiri di sofa pojok.
"Anak lu, tidurnya pulas banget dah," ujar Arga.
Ady menjatuhkan rahangnya, putrinya tertidur di belakang sofa panjang dan tertutup oleh meja kecil. Mungkin saja tadi putrinya bosan, maka dari itu dia tertidur tanpa tau tempat.
Ady pun mengambil putrinya dengan perlahan, Ara juga hanya melenguh sebentar dan kembali nyenyak di dada bidang sang ayah.
"Udah pulang sono, gue mau bawa Ara ke kamar dulu," ujar Ady dan berlalu pergi.
Arga mendengus sebal. "Di usir gue," ucapnya.
***
"GAK YAH! AKU GAK MAU KAKAK BALIKAN AMA BUAYA CAP KERBAU KAYAK DIA!" Sentak Ady pada kakaknya yang berdiri di hadapannya.
"Mas!" Peringat Alea yang ada di belakang Ady sambil menyuruh suaminya diam.
Sebenarnya Alea tidak enak, apalagi keadaaan Nando masih belum pulih. Pria itu masih selaku takut apabila Siska mengatakan pisah darinya, seperti histeris dan bergumam tak jelas.
"Ady, tapi ini bukan kesalahan Mas Nando sepenuhnya. Dia hanya di celakai Dy," ujar Siska.
Ady menggelengkan kepalanya, dia mengangkat tangan dan menatap sang kakak dengan pasrah.
"Aku nyerah, terserah kakak mau apa. Tapi yang jelas, aku gak terima dengan semuanya. Aku akan membawa istriku keluar dari rumah, dan terserah kakak mau apa. Itu keputusan kakak, karena keputusanku tak pernah kakak hargai!" ujar Ady dengan nada marah.
"Mas ...,"
Alea berhenti berbicara kala Ady menarik tangannya pergi dari hadapan Siska, mereka pun pulang dari rumah sakit dalam keadaan Ady yang sangat marah.
Di dalam mobil, Ady pun hanya diam tanpa membuka suara. Alea menjadi canggung dan merasa serba salah.
"Besok kita pindah, aku sudah menyiapkan rumah untuk kita berdua," ujar Ady setelah lama terdiam.
"MAS!" Kaget Alea.
"Aku kepala keluarga, dan aku yang memutuskan. Kau istriku, dan kewajibanmu hanya mengikutiku!" ujar Ady dan hal itu membuat Alea tak lagi membuka suara.