
"EKHEE EKHEEE,"
Ucapan Alea terhenti, ia menoleh pada Shaka yang menangis kencang. Dia melihat pipi gembil Shaka yang terlihat kemerahan, netranya langsung menatap Ady dengan tajam.
"Kamu cubit Shaka kan! ngaku kamu!" Sentak Alea.
"Abisnya aku kesel, mukanya kayak ngeledek banget sandaran sama kamu," ujar Ady.
Alea menggelengkan kepalanya, dia menghembuskan nafas kasar dan berdiri untuk menimang Shaka.
"Maaf yah tan, Mas Ady jail soalnya. Jadi berisik deh," ujar Alea merasa tidak enak.
"Gak papa, santai aja. Namanya juga bayi," ujar Tiara. Dia sedikit kecewa karena gagal tahu siapa ayah Alea.
Ady melihat ponselnya, dia berdecak dan menepuk pinggang sang istri yang masih berdiri.
"Pulang yuk, kakek udah suruh pulang." ujar Ady sambil menatap manik mata sang istri yang juga tengah menatapnya.
"Kenapa?" Heran Alea.
"Ck, kamu kayak gak tau aja ama sifatnya kakek. Dia gak bisa lama jauhan ama cicitnya, ampe bela-belain pindahin kantornya ke negara ini karena cicit kesayangannya ini," ujar Ady.
Alea tersenyum lalu mengangguk, Ady pun berdiri dan kembali membenarkan gendongannya. Dia menatap Tiara dengan senyum.
"Maaf tan, kami harus pulang. Pak tua itu sedari tadi menanyakan perihal keterlambatan kami pulang," ujar Ady.
"Tak masalah, lain kali kalian bisa kesini. Ajak istri dan anakmu juga, tante senang rumah ini jadi rame." Sahut Tiara sambil berdiri dari duduknya.
"Maaf, om sedang banyak pekerjaan jadi tak bisa menemui kalian." Lanjutnya.
Ady memakluminya, ia sangat tahu jika ayah dari Arga sangat pekerja keras. Mereka pun berpamitan, Arga juga bersalaman dengan Ady walau dengan tatapan mereka bermusuhan.
"Gehna, kakak pulang dulu. Jaga dirimu baik-baik, semoga lekas sembuh," ujar Alea dan mengelus bahu Gehna pelan.
Gehna tersenyum, dia mengangguk dengan pelan. Alea dan Ady pun akhirnya pulang meninggalkan kediaman Wijaya.
"Sering-sering ajak mereka kesini Ga," ujar Tiara pada putranya itu.
"Kenapa sih mom? sih Ady ngeselin loh, aku gak suka terus ketemu dia," ujar Arga dengan ketus.
"Kamu gak boleh begitu! siapa dulu yang kalau Ady gak jadi main nangis hah?! setan huh?" Sentak Tiara.
Arga mengerucutkan bibirnya, dia sudah terlanjur malu karena sering membuat Ady kesal. Di tambah saat pertama kali ia bertemu Alea, dirinya melontarkan kata-kata tak enak hati.
"Untungnya Ady gak bikin jontor bibirmu saat kamu bilang kalau anaknya anak haram," ujar Tiara.
"Salah paham mom, Arga cuman iseng doang," ujarnya.
"Isengnya kok sampe kelewatan, bisa kena pidana kamu! atas pasal pencorengan nama baik!" Ketus Tiara.
Tangan Tiara di genggam oleh Gehna, dia menoleh pada putrinya dengan senyum manisnya.
"Kenapa sayang?" Tanya Tiara pada Gehna.
Gehna mengucap sesuatu, tetapi Tiara tak mendengarnya sehingga ia mendekatkan telinganya di depan bibir Gehna.
"Gehna seneng bersama kak Alea,"
Begitulah kira-kira yang Gehna ucapkan, Tiara yang mendengar itu semakin tersenyum lebar.
"Tuh kan! ajak mereka Sering-sering kesini Gehna sangat menyukai Alea," ujar Tiara.
Arga mendengus sebal, dia pergi dari kedua orang itu menuju kamarnya. Tiara pun hanya bisa menggeleng melihat tanggapan sang anak.
***
"Kamu tuh kenapa sih suka banget bikin Shaka nangis?" tanya Alea.
DI perjalanan Ady kembali membuat ulah, dia menyandarkan dirinya di bahu Alea sehingga membuat Shaka menangis karena terhimpit.
"Bukan gitu, aku suka kesel liat mukanya kayak songong! mending kamu jangan deket-deket dia lagi deh, gak usah juga susuin dia. Kan ada emaknya," ujar Ady.
Shaka yang seperti mengerti apa maksud sang paman dengan kesal tangan mungilnya mencakar wajah Ara yang berada di gendongan Ady dan tengah tertidur.
"EKHEE EKHEE EKHEEE HHHH,"
"Anak Mummy emang ya lo!" Sentak Ady pada Shaka yang tak menghiraukannya.
Alea panik, dia langsung meraih jari Shaka dan ternyata kuku bayi itu belum terpotong. Ady membalikkan tubuh Ara, dia melihat pipi putrinya yang terdapat bekas cakaran yang masih merah.
"Bayi gak ada akhlak ya lu! anak gue ini! gue jaga pipi dia layaknya berlian, masa ama lu main nyomot aja kayak adonan. Lu pikir anak gue kue apa! kecil-kecil dah jadi beban lu,"
"MAS! Ngomongnya di jaga, nanti mereka bisa niru," ujar Alea yang merasa tak terima ucapan Ady.
Ady hanya acuh, dia masih sibuk menenangkan putrinya yang tak kunjung tenang.
Alea menurut, mereka bertukar posisi. Ady menaikkan kaca tengah mobil selama Alea menyusui.
"Paket jaket aku buat nutupin aset." ujar Ady sambil menyerahkan jaketnya yang tadi ia buka.
Alea mengambilnya, dia menutupi dadanya. Sementara Ady, dia kini menatap tajam Shaka yang sedari tadi hanya menatap datar padanya.
"E-EH PAK! PAK! BERHENTI DULU PAK!" Seru Alea sambil menepuk bangku supir.
Mobil pun langsung menepi, Ady terlihat bingung ketika Alea membuka jendela mobil.
"Pak, rujaknya dua yah. Pedes," ujarnya pada penjual Rujak.
"Kamu beli rujak?" Heran Ady.
Alea menoleh dan mengangguk antusias.
"Kamu kan nyusuin, kalau susu kamu jadi pedes juga gimana?" Khawatir Ady.
"Kamu dapet teori dari mana?" Heran Alea.
Ady menjelaskan ketika ia mendengar percakapan abang iparnya dengan sang kakak jika apa yang ibu makan anak juga merasakan perbedaan rasanya melalui Asi.
"Kemarin aku makan jengkol, Ara sama Shaka masih suka kok. Rujak pasti tambah suka." Seru Alea yang mana membuat Ady melongo.
"Gak usah parno deh mas, gak ada yang kayak gitu. Aneh aja kamu," ucap Alea menepis teori Ady.
Rujak yang Alea beli telah jadi, wanita itu mengeluarkan uang hijau dan memberikannya pada pedagang itu. Mobil pun kembali melanjutkan perjalanan menuju mansion.
"Nyonya suka rujak yah?" Tanya sang supir memecah keheningan.
"Enggak juga pak, biasanya gak tertarik. Tapi tadi tergiur banget ngeliatnya." Jawab Alea yang sedang mengelus kening putrinya.
Ady mengambil botol air, dia meminumnya dan sang supir melanjutkan pembicaraannya.
"Oohh, isi lagi toh?" ujarnya.
BYURR!
"UHUK! UHUK!"
Alea menepuk bahu Ady, suaminya tersedak ketika lagi minum entah apa alasannya.
Alea mengambil tisu, dia membersihkan wajah Shaka yang juga terkena air cipratan Ady. Dia sungguh kasihan dengan wajah basah bayi itu.
"Kalau minum pelan-pelan mas, kasihan Shaka jadinya," ujar Alea.
"HAMIL?! KAMU HAMIL LAGI?! KOK BISA?!"
Alea seketika melongo, sang supir pun tertawa mendengar kelucuan tuan muda nya.
"Tuan ini gimana sih? kan punya pabriknya, ya bisa lah," ujarnya.
"DIAM KAMU!" Kesal Ady.
Sang supir langsung melipat mulutnya walau ia terlihat sangat menahan tawa.
"Yang bener Al, Ara masih kecil. Masa iya udah nambah," ujar Ady dengan memelas.
"Apaan sih mas, orang aku halangan kok," ujar Alea.
Ady menghela nafas lega, dia mengelus dadanya pelan sambil membenarkan Shaka yang telah tertidur kembali di pangkuannya.
Satu detik ... dua detik ... tiga detik ...
Ady masih merasa lega, sampai akhirnya dia menyadari sesuatu.
"Halangan ... menstruasi bukan sih?" Tanya Ady pada istrinya.
"Ya iyalah mas, emang kamu kira halangan aap?!" Kesal Alea.
"Puasa lagi dong? Baru aja buka semalem Al, masa puasa lagi. Kita ke rumah sakit yah, paksa berhenti," ujar Ady dengan aneh.
Ingin rasanya Alea melempar suaminya dari mobil, dia kesal dengan saran sang suami.
"Boleh, ke rumah sakit jiwa yah ... kita periksa kejiwaan mas. Okay sayang,"
"Ha-hah?!"
_______
Bagi kalian yang tengah menjalani romadhon
Semangat ibadahnya, semoga kita bisa mendapat malam kemuliaan lailatul Qadar.