
Tiga bulan sudah berlalu sejak saat itu, rumah tangga mereka pun terasa damai tanpa ada yang mengganggu.
"Oaaa ... oaaa ... eheee,"
Ara, bayi berusia 6 bulan itu sudah mampu merangkak. Walau masih pelan, tetapi sudah buat Ady khawatir hingga memasang pembatas pada area dapur dan tangga agar putrinya tak bisa merambat kesana.
"Sini sama ayah sayang, bunda lagi masak. Sini sayang," ujar Ady mengajak putrinya ke tempat lain.
Ara lebih tertarik melihat dapur di banding melihat sang ayah, dia berusaha untuk masuk walau terhalang gerbang pendek.
Terpaksa, Ady menggendong paksa putrinya sehingga Ara berteriak histeris.
"AAAAAA! AAAIIII!"
"Jangan teriak dek, pengang kuping ayah," ujar Ady yang tengah menutup satu telinganya dengan tangan kiri. Sedangkan tangan kanannya ia gunakan untuk menggendong sang putri.
Ady menurunkan Ara ketika sudah sampai di kamar bayi, dia segera memasang penjaga agar putrinya tak keluar kamar dan mengeluarkan mainan agar sang putri tak menangis.
"Yaaa, oaaa,"
"Iya ini mainan, Syuutt jangan berisik nanti bang Shaka bangun," ujar Ady.
Ady memberikan Ara mainan, bayi itu segera memainkannya dengan cara melemparnya. Ady tak masalah, karena ia bisa membeli lagi.
Dertt!
Dertt!
Ponsel Ady berdering, Ady pun berdiri dan mengangkat telponnya. Ara mendongak, ia melihat sang ayah yang sibuk bertelpon ria.
Dia pun merangkak membawa tubuh gempalnya ke arah nakas, tangan kecilnya menarik kain yang berada di nakas.
BRUGH!
"EKHEE EKHEE EKHEE,"
Mendengar suara barang jatuh dan tangisan putrinya membuat Ady langsung menoleh. Dia membulatkan matanya dan refleks melempar ponselnya ketika melihat lampu tidur yang ada di nakas menimpa sang putri.
"Aduuhhh cup ... cup ... sakit ya sayang?" Tanya Ady sambil membawa sang putri ke gendongannya, tangannya terulur untuk mengusap kening mulus sang putri yang memerah.
Ara menangis tanpa suara, dia malah menempelkan jidatnya di pundak Ady. Ady pun hanya bisa mengusap kepala sang anak sembari mengayunkannya.
"Ara kenapa Ady?" Tanya Naura yang baru saja masuk.
Ady menoleh, dia kembali melihat putrinya yang terisak.
"Ketiban lampu tidur," ujar Ady.
Tatapan Naura mengarah pada wajah merah Ara, dia mengusap pipi gembil anak itu.
"Berikan Ara pada eyang, kamu ambil cemilan atau susu dia gitu. Biar anteng lagi," ujar Naura.
Dengan tak rela, Ady langsung memberikan Ara pada Naura. Ia segera mencari cemilan putrinya yang ada di kulkas.
"Loh mas, Ara mana? tadi kan sama kamu?" Heran Alea saat melihat suaminya yang malah berada di dapur.
"Sama eyang," ujar Ady.
"Kamu ngapain?" Tanya Alea.
Ady mengambil kotak cemilan putrinya, ia menatap Alea sambil menunjukkan apa yang dia cari.
"Ini, Ara narik kain yang ada di nakas. Otomatis lampu tidur jadi jatuh terus nimpa dia," ujar Ady.
"Astaga maaasss, kok bisa?! kamu lagi dimana? bisa-bisanya gak liat!" Marah Alea.
Ady yang mendengar hal itu meringis, Alea pun menatap Ady tajam apalagi dengan pisau daging di tangannya.
"Na-nanti aku obatin kok benjolnya," ujar Ady.
"BENJOOL? PUTRIKU BENJOLL?"
Alea segera menaruh pisau dan mencuci tangannya, ia berlari ke arah kamar bayi meninggalkan Ady yang masih terdiam.
"Haduhhh, berabe nih." Gumam Ady.
Setibanya di kamar, ALea melihat putrinya yang sudah tenang di pangkuan Naura. Ia mendekati mereka dan melihat kening putrinya yang benar-benar merah.
"Di kasih minyak zaitun aja, nanti juga hilang merahnya ... gak masalah. Lampu tidurnya juga bahannya karet, jadi gak perlu khawatir. Mungkin Ara nangis karena kaget," ujar Naura.
"Kata Mas Ady benjol eyang," ujar Alea.
"Ck, suamimu itu terlalu takut. Gak benjol kok cuma merah aja, kulit bayi emang sensitif." Decak Naura.
Tak lama Ady masuk, ia menyerahkan biskuit yang dia patahkan menjadi dua bagian pada putrinya.
Ara melihat biskuitnya, dia menatap sang ayah dengan mata berkaca-kaca.
Dugh!
"Mas! kasih yang utuh, Ara tuh gak mau kalau bukan yang utuh!" ujar Alea.
Ady kembali memberikan yang utuh dan mengambil yang setengah, ia melihat putrinya yang asik memakan biskuitnya.
"Kita bawa ke rumah sakit yah Al, ronsen gitu takutnya ada yang retak," ujar Ady.
"Ngawur kamu! dulu aku kalau ketiban ampe benjol gak ada tuh di nawa ke rumah sakit, paling di kempesin pakai pisau sama ibuku," ujar Alea dengan nada sewot.
Ady meringis, dia malah memikirkan hal yang di luar dugaan.
"Benjolnya di iris gitu, ampe rata lagi?" Tanya Ady.
Alea membulatkan matanya, begitu juga dengan Naura. Sampai-sampai mereka loading.
"Hahaha, iya mas. Di iris, ampe menyeng palanya! gedeg aku lama-lama sama kamu, udah ah aku mau lanjut bikinin Ara bubur dia dulu,"
Alea pun keluar dari kamar, sedangkan Ady menatap sang eyang dengan pandangan bertanya. Maklum saja, selama hidupnya Ady tinggal di kota dan tak pernah mendengar pengobatan tradisional ala kampung.
"Oaaaa, eheee,"
"Ketawa kamu, seneng ngeliat ayah habis di omelin bunda huh?!" ujar Ady sambil mengunyel pipi sang putri.
Ara tertawa lepas, Naura juga ikut tertawa kecil melihat tingkah kegemasan sang cucu.
***
"Bunda ... bundaaa,"
"Yah ... yah ...,"
"Bundaaa ... bundaaa,"
"Yah yah,"
Alea mendengus, sedari tadi dia mengajarkan putrinya memanggilnya bunda. Namun, lagi-lagi bahasa yang putrinya keluarkan adalah ayah. Hal itu membuat Alea kesal, padahal Ady jarang mengajak main sang putri.
"Ayo sayang coba sekali lagi, bundaa ... bundaaa," ujar Alea.
"Yah ... yah,"
Ara hanya mengucapkan kata ayah, netra polos nya menatap sang bunda yang tengah menahan kesal.
"Da ... da ... da ...,"
Alea menoleh, ternyata Siska tengah membawa Shaka memasuki kamarnya. Shaka memang sudah bisa memanggilnya bunda walau hanya dua kata saja, sementara untuk memanggil Siska Shaka masih berusaha.
"Sedati tadi dia memanggilmu, aku bingung. Padahal aku yang mengandungnya, tapi kata pertama yang dia ucapkan selalu bunda," ujar Siska dengan kesal.
Siska menaruh Shaka di tempat tidur sama seperti Ara, mereka kemudian berceloteh ria ala bahasa bayi.
"Bukan hanya kau saja kak, aku juga pun sama kesalnya. Ara memanggil ayah terus, padahal aku yang mengandungnya. Aku yang melatih ia untuk berbicara. Ini tidak adil." Keluh Alea.
Di samping itu, dia saat para ibu tengah bergosip ria. Kedua bayi itu tengah berceloteh, entah ala yang mereka katakan.
"Oaa ... oaa,"
"Eheee ... ehee ...,"
Tatapan Shaka mengarah pada rambut Ara yang terkuncir satu seperti air mancur. Dengan penasaran, ia mencoba menggapainya. Namun, Ara selalu menghindar hingga merangkak ke tempat lain.
Shaka mengejarnya, mereka merangkak di atas tempat tidur. Tak sadar, jika mereka tengah berada di tepi, Shaka malah menjatuhkan tubuhnya di atas bada Ara. Sehingga mereka berdua terjatuh secara bersamaan, beruntung Ady sudah memberikan karpet bulu yang tebal agar jika seaktu-waktu putrinya terjatuh tak akan sakit.
Brugh!
"Aaaaa! oaaaa!"
Ara berusaha menyingkirkan tubuh gempal Shaka, tetapi bayi laki-laki itu malah mengemut pipi tembam Ara.
"YAHHHHH ... YAAAHHH,"
Alea dan Siska tersentak kaget, mereka menoleh dan membulatkan matanya ketika melihat posisi jatuh bayi itu.
"Astaga, kalian jatuh kok gak bilang bilang," ujar Alea dan menghampiri kedua bayi itu. Begitu pula dengan Siska.
Alea menarik tubuh Shaka, sehingga bayi itu menatap kesal pada Alea. Alea pun menyerahkan Shaka pada kakak iparnya, kemudian dia membawa Ara ke gendongan miliknya.
"Sakit?" Tanya Alea yang di balas gelengan oleh Ara seolah bayi itu mengerti.
Pipi Ara lagi-lagi merah, jika Ady sampai melihat pasti dia akan tahu jika itu adalah ulah keponakannya.
"OAAAA! OAAA!"
"YAAAA!"
Ara dan Shaka saling berteriak, entah apa yang mereka teriakkan.
"Sudah kak, mending sekarang kita ke ruang makan saja. Sudah waktunya makan, bubur Ara dan Shaka sudah aku masakkan tadi," ujar Alea.
"Mam! mam!"
"Iya, mam," ujar Alea menanggapi celoteh Ara.