Love Binder's Baby

Love Binder's Baby
Episode 61: Bunga siapa?



"Aku menikahi nya karena terpaksa, ia seperti orang yang putus asa dan hampir membunuh dirinya beserta anaknya. Aku membuat perjanjian, pernikahan ini hanya sampai Qiqi putri dia sembuh dari sakitnya saja."


Siska yang tengah berbaring dengan perban di kepalanya hanya bisa diam sambil memalingkan wajahnya, dia seperti enggan mendengar penjelasan suaminya.


"Maaf, sebenarnya aku mau ceritakan ini padamu. Hanya saja aku takut kau sakit hati, jujur saja aku bingung dengan posisiku saat ini," ujar Nando dengan kepala tertunduk.


Lama sekali Siska diam, dan Nando hanya bisa menunggu respon istrinya itu.


"Aku ingin kita pisah." Setelah lama terdiam, Siska malah mengatakan sesuatu yang malah membuat Nando terkejut.


"Enggak! aku enggak mau! aku sudah ceraikan dia, dan lagi pula aku tidak tahu jika dia dan alu saudara. Aku di jebak!" ujar Nando membela dirinya.


Tatapan Siska mengarah pada suaminya, dia terkekeh sinis ketika sang suami berkata demikian.


"Di jebak, tapi kau menikmatinya bukan?"


"TIDAK! SAMA SEKALI AKU TIDAK PERNAH MENYENTUHNYA! AKU HANYA MENGIRIM UANG DAN BERMAIN DENGAN QIQI, ITU SAJA! TIDAK LEBIH,"


Nando berteriak kala Siska menuduhnya, memang benar apa yang di katakan Nando. Dia hanya memberi uang untuk pengobatan Qiqi yang memiliki riwayat jantung bocor, hanya itu.


Menikahinya, entahlah apa yang di pikiran Nando saat itu.


Melihat ekspresi Siska, Nando jatuh berlutut. DIa menangis, yah ... dia menangis dengan terisak. Siska yang melihat itu memalingkan wajahnya karena ia takut hatinya akan luluh.


"Aku tidak tahu, aku tidak tahu ke apa aku menikahi nya. Sungguh, aku tidak tahu, tapi yang jelas aku tak pernah sama sekali menyentuhnya hiks ...,"


"Sungguh, saat itu pikiranku buntu saat melihat ia akan melompat dari jurang beserta anaknya. Aku reflek mengucapkan itu. Aku mohon ... veri aku kesempatan, sekali saja. Kasihan Shaka, apa kau tega dia menjalani masa kecilnya tanpaku?" Nando mencoba membujuk Siska, dia hanya tak mau jauh dari putranya dan juga istrinya.


***


Ady tengah memapah Alea untuk berbaring ke tempat tidur, kondisi Alea masih lemah dan belum benar-benar sembuh.


Bahkan ke kamar mandi pun Ady harus menggendongnya karena Alea mengelus dirinya lemas dan susah berjalan.


"Ara mana?" Tanya Alea dengan mata yang terpejam.


"Lagi sama eyang, udah kamu fokus aja untuk pulih. Ada eyang yang jagain," ujar Ady yang tengah menyelimuti sang istri.


Alea membuka matanya, dia menatap suaminya yang kini menatapnya sembari menghela nafas.


"Aku gak enak loh sama eyang ma, ngerepotin terus," ujar Alea.


"Justru Eyang seneng bisa main sama cicitnya, dia harus ngalah loh saat kakek pulang dia terus main sama Ara." Terang Ady.


Alea tersenyum, dia sedikit lega mendengarnya. Tak lama ia merasakan Ady tengah mengusap kepalanya dan mengecup kening sang istri cukup lama.


"Sudah, jangan terlalu di fikirkan. Jika kau banyak berpikir, kelancaran asimu akan terganggu. Kasihan Ara, nanti pipi gembilnya hilang," ujar Ady setelah menjauhkan wajahnya.


Alea mengangguk, dia menepuk sebelah kasurnya. Ady yang mengerti segera merebahkan dirinya di samping Alea, ia menjadikan tangan kekarnya bantalan sang istri.


Alea semakin merapatkan dirinya dengan Ady, dia menaruh tangannya di dada Ady yang terlapis kaos merah sambil menggambar pola abstrak.


"Bagaimana hubungan Kak Siska dan Bang Nando?" Tanya Alea sambil mendongak menatap suaminya yang tengah menatap langit-langit kamar.


Ady menunduk, dia melihat wajah istrinya yang sangat penasaran. Dia pun mengecup hidung istrinya sekilas dan tersenyum.


"Barus saja aku bilang padamu, jangan di pikirkan. Kau harus cepat pulih," ujar Ady.


"Karena aku penasaran makanya aku banyak pikiran, ayo cepat katakan bagaimana dengan mereka," ujar Alea mendesak Ady.


Ady menghela nafas panjang, sebenarnya dia berat mengatakannya. Namun, dia juga tak ingin sang istri tambah beban pikiran.


"Mas tidak tahu, tapi yang jelas mas gak rela jika mereka sampai kembali," ujar Ady.


"Kok gitu?!" Tanya Alea tak terima.


"Mas, kamu gak boleh berandai-andai. Semua itu sudah takdir, contohnya ... saat pertengkaran kita dulu, ada Ara yang membuat ikatan cinta kita. Itu merupakan takdir yang indah, mungkin saja Kak Siska lagi mengalami proses itu," ujar Alea memperingati Ady.


Ady tak kembali membuka suara, dia takut dirinya dan Alea akan berdebat. Sebisa mungkin dia harus menghindari perdebatan dengan sang istri, bukan hanya karena keharmonisan tetapi dirinya takut putrinya akan merasa orang tuanya sedang tidak baik-baik saja.


"Lupakan, aku ingin menanyakan sesuatu," ujar Ady.


"Apa?" Tanya Alea.


"Apa kau memiliki saudara? maksudku saudara ayahmu." Ady bertanya hal yang membuat Alea bingung.


Dia tak memiliki saudara, sepupu ataupun saudara jauh karena ayahnya hanya anak tunggal dan kakek neneknya Alea tak tahu karena orang tuanya tak pernah memberitahu.


"Tidak, kami tidak memiliki sanak saudara sama sekali bahkan dari aku kecil," ujar Alea.


Ady mengerutkan keningnya, dia sepertinya sedang berusaha berpikir keras.


"Kau tahu kan jika setiap minggu aku akan mengunjungi makam kedua orang tuamu hanya sekedar membersihkannya. Setiap kali aku kesana pasti ada buket bunga, dan anehnya bunga itu hanya ada di makam bapak saja," ujar Ady menjelaskan kebingungannya selama ini.


keanehan ini membuat Ady bingung, apakah ada teman dekat ayah Alea? Jika iya, pasti ibu alea akan di beri juga bukan? Dan teman dekat mana yang setiap minggu ke sana hanya memberi bunga?


"Masa sih? kok bisa yah? mungkin salah kuburan kali," ujar Alea mencoba berpikir positif.


"Ya kali salahnya ampe berbulan-bulan," ucap Ady.


Alea kembali termenung, benar juga yang di katakan Ady. Siapa orang itu? kenapa ia selalu memberikan bunga, kenapa dan apa maksudnya?


Tok! Tok! Tok!


"Alea, ini Ara nangis nih," ujar Naura dari luar kamar.


Alea dan Ady mendengar jelas tangisan putri mereka, Ady segera menarik tangannya dan turun dari ranjang menghampiri pintu.


DI bukanya pintu itu, bisa ia lihat putrinya menangis dengan sesenggukan.


"Kenapa Eyang?" Tanya Ady sembari mengambil putrinya dari gendongan Naura.


"Ini, di galakin kucing liar gak tau dari mana. Untungnya si Shaka langsung gigit ekor tu kucing, terus karena kesakitan kabur deh kucingnya." Terang Naura.


Mendengar hal itu Ady langsung memeriksa kondisi putrinya, apalagi Ara tengah memakai gaun tanpa lengan sehingga terlihatlah tangan putih putrinya itu.


"Kamu bawa masuk sih, kasihan tuh nangisnya udah kayak tersiksa banget," ujar Naura.


"Iya, makasih eyang," ujar Ady.


Ady kembali masuk kamar, tak lupa dia juga menutup pintu. Ara masih menangis dengan kepala yang ia sandarkan di dada bidang sang ayah.


"Ekheee hiks ...."


"Sakit yah sayang yah, cup ...,"


Ady akan menaruh Ara di ranjang, tetapi putrinya malah mengeratkan pegangannya pada kaos sang ayah.


Ady menjadi bingung, dia menatap Alea yang tengah menatap Ara khawatir.


"Gak mau lepas Al," ujar Ady.


"Yasudah kamu bawa aja ke balkon, di ayun aja nanti juga tidur," ujar Alea.


Ady mengangguk, dia menuruti perkataan sang istri. Alea lun kembali mengistirahat kan pikirannya dan juga tubuhnya yang masih belum fit.


________


maaf banget kawan, baru buat sinyal lagi susah nih. Untuk komen yang belum di balas, sabar yah data lagi gratisan multimedia susah masuk Nt nya prosesnya lama😌😌😌