Love Binder's Baby

Love Binder's Baby
Episode 74: Kakak?



Ady memutuskan untuk kembali ke rumahnya dengan membawa Shaka, bukannya tidak ingin tinggal bersama orang tuanya. Hanya saja, Ady merasa ia sudah memiliki keluarga dan harus hidup mandiri.


Ya, saat ini Ady dan Alea sudah tiba di rumah. Kedua bayi itu sibuk merangkak ke sana dan kemari di ruang tengah tempat biasan Alea dan Ady bersantai.


"Bang." Panggil Edgar yang baru saja keluar dari kamar, remaja itu memang pulang lebih dulu karena suruhan Ady.


"Eh, baru bangun?" Tanya Ady karena dia bisa melihat jika Edgar masih memakai piyamanya.


Edgar mengangguk singkat, ia mengarahkan matanya ke jam dinding yang menunjukkan pukul 11 siang.


"Tadi jam 5 udah bangun, habis sarapan tadi aku kembali tidur," ujar Edgar.


Tatapan Edgar mengarah pada Shaka yang berada di dekat sofa, dia mengerutkan keningnya sambil menatap Ady.


"Shaka ikut?" Heran Edgar.


"Iya, Kak Siska bawa Bang Nando berobat ke Amerika. Shaka tidak bisa ikut sehingga di titipkan ke Kakak." Ujar Alea sambil berjalan ke arah dapur.


Edgar melotot tak percaya. "Yang benar saja, memangnya putranya itu barang yang dengan mudahnya di titipkan!" Kaget Edgar.


Ady menggelengkan kepalanya, anak remaja saja mengerti mengapa kakaknya tidak. Ady merasa kasihan dengan Shaka, walaupun bayi itu selalu memonopoli istrinya.


"Sudah, itu urusan abangmu dan Kak siska. Kita tak usah ikut campur," ujar Alea yang datang dengan dua botol susu di tangannya.


Alea berjalan ke arah Shaka dan Ara, kedua bayi itu yang melihat Alea membawa susu oun merangkak cepat mendekatinya.


"E-eehh sabar sayang, iya ini bunda kasih." Kaget Alea karena kedua bayi itu menerjang kakinya dan berusaha untuk menggapai susu yang ada di tangan Alea.


"OAAA!!!"


Alea memberikan mereka masing-masing botol itu, Shaka dan Ara mengambil posisi duduk dengan bersandar pada sofa.


"Aku akan siapkan makan siang dulu." Putus Alea dan melangkah ke arah dapur.


Mendengar perkataan istrinya, Ady melotot tak percaya dan mengejarnya.


"Alea!" Panggil Ady dengan keras.


Alea yang sedang membuka kulkas pun menjadi kaget.


"Apa sih mas? kagetin aja kamu!" Seru Alea.


"Ngapain kamu masak? kita baru pulang dari rumah utama loh, apa kamu gak capek? udah! mending sekarang aku pesan makan, gak habis uangku buat kita makan siang doang." Ujar Ady dengan nada kesal sambil menarik lengan istrinya itu menjauh dari kulkas.


Alea memutar bola matanya jengah, dia bersedekap dada dan memperhatikan Ady yang tengah memesankan makanan.


"Aku mau rujak sekalian," ujar Alea.


Netra Ady yang tadinya menatap ponsel akhirnya harus teralihkan karena ucapan Alea.


"Kamu ... bunting lagi?" Beo Ady.


Alea melototkan matanya ketika mendengar ucapan Ady, dengan kesal ia pun menabok pipi suaminya.


"EMANG KAMU PIKIR AKU KUCING APA!" Teriak ALea dan beranjak dari dapur.


Ady hanya melongo, bahkan setelah mendapat tabokan manis dari sang istri.


"Ya kan artinya sama aja, salahnya dimana?" Heran Ady.


Sementara Alea, dia pergi menuju ruang tengah Terlihat Shaka sudah tidur terlentang dengan botol susu yang sudah kosong di pelukannya. Netranya beralih menatap Ara, putrinya tertidur dengan posisi bersandar di sofa.


Tak terasa, Alea mengangkat sudut bibirnya. Dia tersenyum manis dan lembut pada kedua bayi itu, baginya melihat bayi itu tertidur damai ada rasa senang di lubuk hatinya.


"Anak-anak bunda pada tidur yah, kenyang yah sayang?" Ujar Alea sambil menggendong Shaka dan memindahkannya pada Sofa yang memang khusus untuk duduk selonjoran.


Setelah menaruh Shaka, Alea pun mengambil Ara dan menaruhnya di sebelah Shaka. Dia mengambil remot AC dan mengecilkannya, lagi pula Ara memakai pakaian pendek karena bayi itu gampang gerah.


Kegiatan Alea tak lepas dari pantauan Ady yang berada di ambang pintu dapur, bibirnya berkedut tak kuat untuk menahan senyum.


"Sepertinya keputusanku untuk kembali denganmu tidak salah, kini kamu menjelma menjadi sosok bidadari tak bersayap. Menjadi seorang ibu dengan hati yang sangat tulus, bahkan dengan bayi yang bukan darah dagingmu sendiri." Gumam Ady.


"Shaka, adeknya jangan di gangguin sayang. Ayo sini, jangan kesana lagi. Nanti di culik om-om loh." Seru Alea pada kedua bayi yang tengah bermain di teras rumah.


Shaka berbalik dan merangkak mendekati Alea, sedangkan Ara ... bayi itu malah menatap pagar sambil mengayunkan tangannya.


Alea mengerutkan keningnya, dia membawa Shaka ke gendongannya dan menatap apa yang putrinya lihat.


"Anak itu ...,"


Netra Alea kembali menatap Ara, sepertinya Ara ingin bermain dengan sosok anak laki-laki yang mengintip di lubang pagar.


Alea mendekati pagar, ia membukanya dan melihat anak laki-laki itu yang menatapnya datar.


"Ayo masuk, kau ingin bermain dengan Ara kan?" Ajak Alea dengan ramah.


Anak itu yang tak lain adalah Rangga pun mengangguk.


"Terima kasih kakak," ucap Rangga dan masuk kedalam halaman Alea.


Rangga mendekati Ara yang terduduk di teras, dengan mudah ia menggendongnya dan menimangnya.


Ara terlihat sangat senang, bahkan bayi itu menepuk tangannya dengan berceloteh ringan.


Alea kembali menutup pagar, dia berjalan mendekati Rangga dan duduk di bangku yang berada di teras.


"Apa kau anak tetangga depan rumah?" Tanya Alea.


Rangga mengangguk singkat.


"Sering-seringlah main kesini, kakak akan buatkan mu kue yang enak. Sekarang sedang tidak buat, tapi jika kau kesini besok maka akan kakak buatkan." Ujar Alea sambil tersenyum.


Dengan ragu Rangga pun mengangguk kaku, dia tersenyum tipis dan Alea pun dapat melihatnya.


"Sering-seringlah tersenyum, kau tampan ketika tersenyum." Celetuk Alea.


Rangga tersenyum malu, Bahkan wajah datarnya tak lagi tampak. Hanya wajah ramah dengan wajah seperti anak seusianya.


"Sayang! aku mau ... ANAK JADI-JADIAN! NGAPAIN KAMU DISINI?!"


Ady yang baru saja muncul di teras pun terkejut melihat Rangga, di tambah anak itu tengah menggendong putri kesayangannya.


"HAAA ... LEPAS DARI KANDANG KAN KAMU!" Seru Ady sambil menunjuk-unjuk Rangga.


Rangga menatap datar Ady, tampang manisnya tadi sudah tak berlaku kembali jika itu adalah Ady.


"Mas ...." Peringat Alea.


Ady menoleh, dia mendengus ketika istrinya itu menatap tajam padanya.


Netra Rangga mengarah ke luar, dia melihat sebuah mobil yang memasuki rumahnya.


"Kak, aku harus pulang karena kedua orang tuaku sudah pulang." Ujar Rangga sambil menaruh Ara seperti awal sebelum ia menggendongnya.


"Kakak?" Beo Ady sambil menatap Rangga tak percaya.


Rangga hanya menatap sebentar Ady dan berlari keluar rumah. Tatapan Ady pun terarah pada Alea yang juga tengah menatapnya.


"Bocah itu memanggilmu kakak, sedangkan dia memanggilku ... om, pak tua. Apakah umur kita jauh berbeda? perasaan kita hanya berbeda satu tahun saja," ujar Ady dengan wajah bingungnya.


"Mas udah keliatan tua kali, maka dari itu dia kira aku keponakan kamu," ujar Alea dengan enteng.


"Ha-hah?"


____


Maaf sedikit kawan, baru sampai di rumah dan langsung buat chapter ini๐Ÿ˜Œ๐Ÿ˜Œ.


Oh iya untuk kakak dengan akun YEOJAX SWAG. Makasih banget udah bantu tandai Typo, udah aku lihat yang kakak tandai tinggal aku revisi๐Ÿ˜๐Ÿ˜.


Mohon maaf bagi kalian yang merasa banyak sekali typo, revisian nyusul yah๐Ÿค—๐Ÿค—