Love Binder's Baby

Love Binder's Baby
Episode 39: Romantisnya Ady



episode sebelumnya rame banget like & komen nya 🀩🀩🀩, jadi author up lagi deh🀭🀭😍😍😍


"Kita mau kemana mas?" tanya Alea yang tengah bingung.


Bayangkan saja, tengah malam Ady membawanya ke belakang rumah. Dengan wajah yang masih mengantuk Alea disuruh berdandan dan memakai baju pilihan suaminya.


"Aku ngantuk banget loh mas," ujar Alea dengan lemas.


"Sebentar aja," ujar Ady.


Akhirnya Alea menurut, tangannya di genggam Ady menuju kolam renang, seketika matanya yang tadi mengantuk langsung segar ketika melihat betapa indahnya apa yang jadi penglihatannya saat ini.


"Ini ...,"


"Happy anniversary yang ke tiga sayang,"


Alea tak sanggup menahan air matanya, tangannya pun dia gunakan untuk menutup mulutnya ketika melihat sebuah kotak yang terbuka dan memunculkan banyak balon.


"Mas," lirih Alea.


Alea di tambat buat terkejut ketika melihat Ady yang membawa bunga sangat besar untuknya, dia semakin terisak ketika melihat apa yang di lakukan Ady.


"Maaf untuk satu tahu yang terlewat, setelah ini kita jalani hari yang baru." ujar Ady sambil menaruh bunga itu di depan Alea.


Alea langsung berhambur ke pelukan Ady, dia pun merasakan jika suaminya membalas pelukannya dengan tak kalah erat.


"Sudahlah, jangan menangis. Aku ingin membuatmu tersenyum, bukan nangis lagi kayak gini," ujar Ady yang tengah mengelus punggung istrinya.


Alea dan Ady melepas pelukan mereka, keduanya kini mendekat. Ady mencium kening Alea dengan cukup lama.


"Maaf jika selama selama ini aku menyakitimu, aku selalu berkata kasar padamu," ujar Ady.


Alea menggeleng, dia mengelus wajah tampan suaminya. Netranya dan Ady saling mengunci satu sama lain.


"Seharusnya aku yang meminta maaf, aku sudah menjadi istri yang egois. Seharusnya aku tidak menyalahkanmu karena pernikahan itu, seharusnya dari awal aku sadar jika aku menyukaimu. Maaf," lirih Alea


Alea meraih tangan Ady, dulu tangan itu sangatlah kasar. Alea bisa merasakannya ketika dia memegang tangan Ady dulu.


"Mas selalu cuciin baju aku, selalu cuci piring, masak dan beres-beres rumah. Tubuh mas kurus bahkan sangat kurus, seharusnya mamah dan papah marah sama Alea karena udah bikin putranya jadi pembantu karena istrinya sendiri," isak Alea.


"Kamu ngomong apa sih," kesal Ady.


"Kan emang bener, aku baru ngerasain itu saat kamu udah gak ada. Ternyata kamu berharga di hidup aku, sangat," ujar Alea.


Sedangkan di balkon kamar, terlihat Siska sedang menggigit jarinya menahan kegemasan pada pasangan tersebut.


"Punya suami gak peka emang susah!" gerutu Siska.


"Kamu ngapain?" tanya Nando yang sepertinya baru selesai mandi.


"Mancing kuyang mas," celetuk Siska.


Nando mengerutkan keningnya, dia baru saja habis mandi setelah acara pergi meeting tadi. Dia juga tidak tahu apa yang menjadi pusat perhatian sang istri.


"Kok sewot begitu?" heran Nando.


"Mas, gak bisa apa romantisan dikit gitu, peluk tiba-tiba kek! masa iya haris aku pancing dulu, kalo mau jatahnya doang mesra," gerutu Siska.


"Dari awal sebelum kita nikah aku juga bilang kalau aku bukan pria romantis, kamu aja yang bilang gak papa kok aku tetep tresno. Mana tuh ucapannya?" ujar Nando.


Siska tertawa sumbang, bener juga apa yang katakan suaminya.


"Hah ... seorang suami itu mencintai istrinya dengan cara berbeda-beda," ujar Nando.


"Kalau kamu mencintai aku caranya gimana?" tanya Siska dengan raut waja berbinar.


Nando mengangkat satu sudut bibirnya, dia mendekat ke arah Siska dan menyelipkan tangannya di belakang leher dan lutut Siska.


"Jangan berteriak, nanti Shaka akan terbangun," ujar Nando.


"Mas mau ngapain?" tanya Siska.


Nando tak menjawab, dia membawa Siska memasuki kamar dan menutup pintu balkon. Setelahnya Nando membawa Siska menuju ranjang dan merebahkan nya perlahan.


Jantung Siska sudah berdebar-debar, dia melihat wajah Nando yang semakin dekat dengan dirinya. Siska pun memejamkan matanya, tetapi wajah Nando malah melewatinya dan mendekati bibirnya pada telinga Siska.


"Pegal, pijetin dong," ujar Nando dengan wajah tak bersalah nya.


Siska membuka matanya sambil melongo tak percaya, dia kira suaminya ingin berbuat romantis. Namun, dugaannya salah malah kini Nando merebahkan dirinya di samping SIska.


"Ayo pijetin, badan aku pegel banget," ujar Nando.


Mau tak mau, Siska memijat Nando. Sesekali dia menggerutu dan mengepalkan tangannya menahan kegemasan.


***


Pagi ini Alea dan Ady memutuskan untuk membawa Ara ke rumah sakit untuk tindik telinga, karena selama ini Alea belum sempat untuk menindik telinga putrinya.


Berhubung sekarang hari minggu, Ady tidak ke kantor dan akan menemani istri serta anaknya itu.


"Kalian mau berangkat sekarang?" tanya Robert ketika melihat cucu serta cicitnya yang sudah rapih.


"Iya kek, apa kakek mau ikut? lihat Ara di tindik," ajak Alea


Robert tampak berpikir, kemudian dia mematap Alea yang tengah menunggu jawabannya.


"Boleh?" tanya Robert.


"Boleh dong, kan Ara cicit nya kakek. Masa gak boleh," canda Alea.


Siska melihat putranya yang berada di gendongan suaminya, bibirnya mengerucut karena dia tak bisa seperti Alea.


"Punya suami sama anak datar begini, hidup kurang berwarna," cicit Siska.


"Umur Shaka satu tahun kita buat lagi yang baru, kalau keluarnya laki-laki lagi kita buat lagi. KAlau keluarnya laki-laki lagi kita bakal buat lagi. Teruuus ampe dapet cewe," ujar Nando dengan enteng.


Siska menatap tajam suaminya, memangnya suaminya pikir dia kucing?


"Buat sana pake tepung!" kesal Siska dan pergi meninggalkan Nando yang terlihat bingung.


Alea dan Ady oun berangkat ke rumah sakit, Robert duduk di sebelah Ady dengan menggendong cicit kesayangannya itu.


"Oh iya Ady, akhir bulan ini ada kumpulan keluarga besar. Kau tahu bukan jika selama dua tahun kau tidak ada pada acara itu, dan untuk tahun ini kau harus ikut," ujar Robert.


"Ck, gak ah kek. Ketemu sama penjilat semua buat aku pusing sendiri," tolak Ady.


"Mereka itu saudara kamu loh!" tekan Robert.


kedua orang itu tampak berdebat, Alea tak mengerti apapun. Dia hanya bisa menurut keputusan Ady nanti.


"Sekalian kenalin Alea dan Ara," ujar Robert.


"Mereka akan mengucilkan istriku kek, mereka itu mandang orang dari dompetnya!"


"Kayak kakek dulu, untung aja udah tobat," cicit Ady dengan suara rendah.


Robert menajamkan matanya, dia menatap kesal karena Ady mengungkit sifat lamanya.


Ponsel Alea berdering, notifikasi di ponselnya muncul sebuah perekam suara.


Tampak senyum terbit di bibir ALea, dia menyeringai dan menatap pesan itu dengan tatapan dingin.


"Well ... permainan akan segera di mulai," batin Alea.