
Malam ini Sky di larikan ke rumah sakit, suhu tubuhnya sangat tinggi bahkan sampai kejang-kejang. Alea sudah menangis-nangis sambil mendekap putranya, sedangkan Ady sedang fokus menyetir mobilnya.
Mereka masih mengenakan piyama tidur dan belum sempat ganti karena Sky keburu drop. Ara dan Shaka bahkan masih tertidur, mereka di titipkan pada Edgar sebelum berangkat.
"Mas, bisa cepet lagi gak? Sky udah gak sadar." Ujar Alea sambil terisak.
"Kamu bangunin Sky Al, bangunin!!" Bentak Ady.
Alea segera menepuk pipi putranya, dan tak lama mata Sky terbuka walau sayu.
"Sky bangun mas," ujar Alea.
"Jangan biarin Sky tidur." Titah Ady.
Alea mengangguk, dia mencoba untuk membuat Sky tak tertidur. Perjalanan yang di landa ras kepanikan terasa sangat lama.
Hingga tiba lah mereka di rumah sakit, Ady mengambil alih Sky dan membawanya lari ke dalam rumah sakit.
"Dokter!"
"Maaf tuan, ini ada apa yah?" Tanya seorang suster menghampiri mereka.
"Putra saya demam tinggi, tadi sempat kejang-kejang juga sus!"
Suster itu mengambil brankar, dia menyuruh Ady menaruh Sky di brankar itu. Para suster dengan sigap memasukkannya ke ruang UGD.
Alea menarik lengan Ady, dia meremas piyama yang suaminya kenakan. Isakan tangis Alea memasuki gendang telinga Ady, dia pun kini tengah menahan air matanya untuk tidak menangis.
Di peluknya sang istri, Ady meletakkan kepalanya di atas kepala Alea. Mereka sama-sama menangis dan memohon untuk kesembuhan putra mereka.
Selang lama menunggu, mereka memutuskan duduk. Dengan masih berpelukan, mereka berdoa dan memohon atas kesembuhan anak mereka.
Cklek!
Pintu ruang UGD pun terbuka, Ady dan Alea segera bangkit dan menghampiri dokter.
"Gimana dok keadaan putra saya?" Tanya Ady yang lebih dulu membuka suara.
"Kami haru saja memasangkannya infus dan mengambil darahnya. Kami harus mengecek nya saat ini, dugaan sementara adalah tipes," ujar dokter.
"Tipes?" Gumam Ady.
"Kalai begitu, kami permisi dulu pak. pasien akan segera do bawa ke ruang perawatan." Izin dokter.
Ady mengangguk, setelah dokter itu pergi dan berbalik menatap istrinya.
"Mas urus dulu adminitrasi nya, kamu tunggu sini." Pamit Ady.
Alea menurut, dia menunggu di depan ruang UGD. Dan tak lama, brankar putranya keluar. Beberapa suster membawanya ke luar menuju ruang rawat.
***
Pagi hari, Ara dan Shaka sedang sarapan bersama Edgar. Mereka sebenarnya kebingungan karena tidak ada Ady dan Alea.
"Ayah sama bunda mana uncle?" Tanya Ara.
Edgar yang sedang menyelesaikan tugas kuliahnya di laptop oun seketika mendongak dan menatap Ara.
"Di rumah sakit, semalam Sky demamnya naim," ujar Edgar.
"Sky cakit mulu, banyak calah cama ALa itu dia. Jadina cakit mulu," ujar Ara.
Shaka yang tak terima menoleh. "Ara juga banyak salah sama abang, tapi abang gak pernah minta Ara sakit." Ujar Shaka sambil mengangkat bahunya.
Ara cengengesan, dia pun kembali memakan rotinya. Sejenak dia berpikir, jika sang ayah tak mengantar nya berarti siapa yang mengantar?
"Telus, kita belangkat cekolah naik apa dong?" Tanya Ara.
"Nanti Uncle antar," ujar Edgar tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop.
"Naik motol?" Tanya Ara dengan mata melirik tajam.
Edgar menatap Ara dengan kening mengerut.
"EMang kenapa?" Tanya Edgar.
Ara melirik Edgar tak suka sambil melipat tangan di depan dadanya. "Nda level," ujar ARa.
Edgar melongo tak percaya, motornya bahkan lebih mahal dari mobil pajero milik Rangga. Bahkan dengan motornya dia bisa membeli BMW.
"Kamu meragukan motor uncle?! motor uncle bisa beli kamu tau gak!!" Seru Edgar tak mau kalah.
Edgar melirik sini. "Bicara L aja belum bisa, so soan ada investasi masa depan." Dengusnya.
ARa menatap tak suka Edgar, mereka berdua saling menatap dengan tajam. Sedangkan Shaka, hanya menumpu kepalanya dengan tangannya. Dia jengah dengan perdebatan om dan adiknya.
"ARAAA!! BERANGKAT BARENG YUUUKKK!!"
Wajah Ara yang tadinya masam seketika sumringah, dia menatap Edgar yang kini terlihat kebingungan.
"Tuh calah catu halta Ala dateng, by uncle kelee!!" Seru Ara sambil turun dari kursinya dan menggendong tasnya.
Edgar bahkan sampai berdiri dan menatap cengo pada keponakannya itu. Karena penasaran, Edgar pun ikut keluar rumah dan melihat Ara yang menaiki mobil yang sangat bagus.
"Harta apaan? punya orang itu mah." Gumam Edgar.
"Mobil itu akan menjadi milik Ara uncle saat gede," ujar Shaka yang sudah berada di sebelahnya.
"Maksudnya?" Tanya Edgar.
"Itu Tio, dia suka sama Ara. Kalau Ara nya cuman manfaatin aja, investasi katanya." Jelas Shaka.
Edgar menepuk keningnya, dirinya jadi ingat siapa yang memiliki sifat Ara.
"Nurun emaknya ini." Gumam Edgar.
"Terus, kamu gak ikut Ara?" Tanya Edgar saat melihat Shaka yang diam di sebelah Edgar.
"Nda ah, sama uncle aja." Jawab Shaka.
Sedangkan di mobil, Ara duduk di tengah-tengah anatar Tio dan Rangga. Wajah Rangga sudah masam sebab sepupunya itu ikut. Padahal Rangga yang menebeng Tio.
"Kamu bisa gak sih geseran dikit duduknya!" Rangga yang mulai jengah pada Tio yang selaku menempel pada Ara.
"Gak!" Cuek Tio.
Ara tak sadar jika keduanya adu tatapan, dia hanya tersenyum senang sambil menatap depan.
"KAU!!"
Rangga dan Tio saling berteriak dan hal itu membuat Ara terkejut.
"Kalian kenapa cih?! mau belangkat kok belantem, janan malah-malah. Cabaalll, kalian ke catu dan dua kok. Tenang aja," ujar Ara dengan pedenya.
"Ha? maksudnya?" Tanya Rangga.
"Kak Langga cintana Ala ke catu, telus Tio Cintanan Ala kedua. Telus ...,"
"Banyak banget pacar kamu sampe terus-terus, aku siapa kamu sih?!" Sela Rangga dengan raut wajah kesalnya.
Sama halnya dengan Tio, hanya saja saat ini Tio tengah berbunga-bunga karena Ara menyebutnya cintanya.
"Kak Langga pacal ketujuh Ala," ujar Ara dengan tatapan polosnya.
"APA?!" Teriak Rangga terkejut.
"Gue di duain sama bocil? jadi ketujuh lagi?" Batin Rangga berteriak.
"Te-terus Tio ke berapa?" Tanya Tio yang mulai khawatir akan posisinya.
Ara terdiam sejenak, dia memikirkan urutan Tio. Sambil mengetuk dagunya dan memiringkan kepala nya sehingga wajah Rangga dekat dengan rambut yang terkuncir anak itu.
"Wangi." Lirih Rangga sambil menghirup aroma sampo dari rambut Ara. Bahkan sesekali memainkannya karena gemas dengan rambut kecoklatan anak itu.
"Kayakna Tio Kedua puluh deh. Cebental, Ala hitung dulu," ujar Ara dan menghitung jarinya.
Rangga menghela nafasnya pelan, dia baru ingat jika Ara belum pandai berhitung. Bahkan anak itu sangat membenci matematika. Berbeda dengan Shaka, dia sangat pintar dan jenius.
"Kau salah bertanya padanya Yo," ujar Rangga pada Tio sedikit berbisik di belakang Ara.
"Dia hanya mengarang saja," ujar Tio dan terkekeh.
Keduanya kembali menatap Ara, saat melihat hal yang Ara lakukan mereka melototkan matanya.
Ara sedang membaca sebuah kertas dengan rentetan nama, bahkan ada nama Rangga dan juga Tio. Di buku itu banyak tertulis nama dengan urutan nomor.
"I-ini be-beneran?!" Pekik keduanya.
Semalem mati lampu, batrai low banget jadi gak bisa up. Gantinya hari ini double up yah😁