
"Ayunda!"
Ayunda yang akan menaiki tangga pun terhenti karena panggilan seseorang, dia membalikkan badannya dan melihat siapa yang memanggilnya.
"GRANDPA!" Seru Ayunda dan langsung memeluk sang kakek.
Pria paruh baya itu memeluk cucu kesayangannya dengan erat, dia sangat merindukan cucunya itu.
"Bagaimana kabarmu nak?" Tanya pria paruh baya itu yang bernama Rayhan Hernandez.
"Baik grandpa, aku sangat merindukan grandpa!" Ujar Ayunda sambil melepas pelukan mereka.
Rayhan mengajak cucunya untuk pergi ke ruang tamu, mereka pun akhirnya mengobrol di temani oleh secangkir kopi.
"Kenapa kau kembali? pasti ada sesuatu yang kau kejar disini bukan?" Curiga Rayhan.
"Yah grandpa, kau selalu tahu tentangku." Manja Ayunda sambil memeluk lengan sang kakek.
Rayhan mengelus rambut cucunya dengan sayang, kemudian dia menatap ke arah cucunya yang tiba-tiba murung.
"Ada apa?" Tanya Reyhan.
"Haahh ... aku kembali berharap kami dapat kembali seperti dulu. Ternyata aku terlambat, dia sudah menikah dengan mantan temanku," ujar Ayunda dengan lemas.
Kening Reyhan mengerut, dia memang tak tahu siapa yang cucunya maksud.
"Kau mencintai pria beristri maksudmu?" Tanya Reyhan yang di balas anggukan oleh Ayunda.
Ayunda pun menatap kakeknya dengan raut wajah memelas.
"Grandpa, aku sangat mencintainya. Rasanya, hatiku sakit melihat dirinya bersama yang lain. Apa yang harus aku lakukan grandpa?" Lirih Ayunda.
Reyhan terdiam, dia tak tega melihat cucu kesayangannya bersedih. Apalagi cucunya telah kehilangan orang tuanya saat kecil.
"Grandpa, aku kau dia grandpa," ujar Ayunda.
"Nak, tapi ...,"
"Aku tak bisa hidup tanpanya, bahkan rasanya aku tak memiliki semangat untuk hidup." Ujar Ayunda sambil menundukkan wajahnya menandakan kesedihan dirinya.
Reyhan menghela nafasnya pelan, dia pun menepuk kepala cucunya agar memberinya perhatian.
"Siapa pria itu?" Tanya Reyhan dengan serius.
"Adyatma Putra Dominic,"
JDERRR!
Bagaikan di sambar petir, Reyhan terkejut mendengar nama itu. Dia memegangi dadanya, terlihat dirinya seperti kesakitan.
"Granpa?" Khawatir Ayunda.
"GRANDPAAA!!!"
***
Ady tengah berhadapan dengan sang kakek, sedari tadi dia jengah karena kakeknya hanya menikmati teh tanpa membuka suara.
"Cepatlah katakan! kasihan Alea mengurus Shaka dan Ara sendiri!" Kesal Ady.
Ctak!
Robert menaruh cangkir dengan keras sehingga menimbulkan bunyi nyaring, netranya menatap ke arah Ady dengan serius.
"Dari awal kakek sudah curiga dengan Alea, dia sangat mirip dengan ibunya Tania. Setelah kakek cari tahu, ternyata benar kedua orang tuanya berpisah dengan membawa satu anak." Terang Robert.
"Permusuhan dua keluarga sudah ada sejak kamu bayi, dendam Reyhan pada keluarga kita akibat ia yang kehilangan putranya." Lanjut Robert.
"Maksud Kakek?" Bingung Ady.
Robert menghela nafas sebentar, tak lama ia pun menceritakan tentang masalah yang terjadi antara dirinya dan Reyhan.
Flashback On.
Robert dan Reyhan merupakan sepasang sahabat, bahkan mereka membangun usaha bersama-sama sedari nol.
Sampai mereka pun memiliki keluarga masing-masing sampai pun mereka memiliki cucu.
"Gimana ini pi?" Khawatir Amanda.
"Kita bawa ke rumah sakit!" Putus Robert.
Mereka pun akhirnya ke rumah sakit, Ethan berusaha untuk menolong sang anak yang kejang-kejang. Sementara Robert yang mengendarai mobil itu, bahkan kecepatannya sangat tinggi.
Saat serius mengendarai mobil, tiba-tiba saja dari arah berlawanan ada motor yang menghadang mereka. Tak sadar, Robert pun menabraknya hingga orang yang mengendarai motor itu terlempar lumayan jauh.
BRAK!
Flashback Off.
"Dan orang yang kakek tabrak waktu itu adalah Naufal, anak laki-laki satu-satunya Reyhan." Jujur Robert.
"Kakek sudah tanggung jawab, tetapi dari pihak kepolisian di nyatakan kakek tidak bersalah. Naufal mengendarai motor melawan arah, bahkan ia mengemudi di kala ngantuk. Karena pencahayaan yang saat itu masih minim, kakek tak melihatnya." Lanjut Robert.
Ady pun terkejut mendengar kenyataan itu, dia tak pernah tahu apa yang terjadi pada dua keluarga dan masalah apa yang membuat mereka bertengkar.
"Terus Naufal mati kek?" Tanya Ady.
"Dia koma, tetapi tepat dirinya 1 bulan koma. Dia pun akhirnya meninggal, dan di susul oleh istrinya yang depresi akibat melihat suaminya seperti itu." Jawab Robert.
Robert sudah mengajukan dirinya bersalah, tetapi setelah di telusuri lebih jauh ternyata kecelakaan itu akibat kelalaian pengendara bermotor yang melawan arah. Tak selamanya penabrak yang salah, untuk itu Robert tak bisa di kenakan hukuman.
Namun, Robert tetap bertanggung jawab. DIa membiayai pengobatan Naufal bahkan mendatangkan dokter terbaik.
"Reyhan akhirnya tahu dan melemparkan kesalahan itu semua pada kakek. Dia sangat menaruh dendam, dan mengatakan jika kakek pembunuhnya." Ujar Robert sambil menatap ke arah lain.
"Untuk itu, rahasiakan ini. Jika Reyhan tahu kalau Alea adalah salah satu cucunya, dia akan memaksa Alea untu bercerai darimu. Sebab, dirinya sudah mengatakan tak akan ada ikatan di antara kami." Pinta Robert.
Ady mengangguk patuh, dia tak ingin hubungannya dan Alea menjadi renggang dan hancur karena dendam.
Selang beberapa saat, Ady pun memutuskan untuk pulang. Di perjalanan, dia mampir dulu ke supermarket untuk membelikan putri dan keponakannya cemilan.
"Strawberry atau coklat?" Gumam Ady sambil menatap pilihan rasa kue kesukaaan kedua bayi.
"Semua aja deh!" Putus Ady.
Keranjang yang Ady bawa sudah penuh dengan cemilan, dia pun membayarnya. Setelah itu Ady kembali ke mobilnya, tetapi ada satu hal yang membuatnya terdiam.
Ady melihat seorang gadis kecil yang berlarian ke arah mobilnya, anak kecil itu terlihat di kejar oleh dua orang preman.
Dengan gesit, Ady membuka pintu mobilnya dan menarik anak kecil itu dengan cepat.
Nafas anak kecil itu memburu, sepertinya dia lelah karena berlari. Dengan segera Ady menjalankan mobiknya, sehingga kedua orang tadi tak mampu mengejar dirinya.
"Hiks ... hiks ... hiks ...,"
Di rasa aman, Ady pun kembali menepikan mobilnya. Dia menatap anak kecil yang duduk di pangkuannya itu.
"Hei, tak apa ... kau aman," ujar Ady.
Anak kecil itu mendongak, wajahnya terlihat sangat kotor. Ady pun mengusap nya dengan pelan, bahkan ia melihat darah yang mengering di ujung bibir anak itu.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Ady.
Dengan takut, anak itu mengangguk.
"Dimana rumahmu?" Tanya Ady kembali.
Dengan lirih, anak kecil itu pun berkata,"Jalanan,"
"Maksudnya?" Bingung Ady.
"Lumah Opi di jalan, tidul juga di jalan. Opi nda punya lumah hiks ...,"
Ady semakin bingung, di tambah anak bernama Opi itu menangis kencang.
"Terus om balikin kamu kemana?"
"Aku takut olang jahat itu mukul aku lagi hiks ...,"
Ady pun menjadi bingung harus bagaimana, jika dia membawa Opi oulang bagaimana tanggapan istrinya.
"Gimana ini, aduh!"