
3 tahun berlalu, kini kedua bayi itu sidah tumbuh dengan sehat dan pintar. Shaka yang pendiam tetapi jail kepada adiknya dan Ara yang manja selalu menangis di kala Shaka menjailinya.
"CINI BONEKANA ALA! CHAKA! CINI!" Teriak seorang anak perempuan dengan pipi gembil dan rambut yang terkuncir dua membuat orang-orang gemas terhadapnya. Di tambah dirinya sedang berlari mengejar seorang anak laki-laki yang membawa boneka kesayangannya.
Bruk!
Anak perempuan itu terjatuh karena kakinya tersandung meja, tangisan pun terdengar yang mana membuat anak laki-laki itu menghentikan langkahnya.
"Astaga sayang, Ara kenapa nak?" Tanya Alea sambil mendirikan anak perempuan itu yang tak lain adalah Ara.
"Chaka bawa kabul mainan Ala hiks ... nda lek pokokna." Isak anak itu sambil memeluk sang bunda.
Shaka, anak laki-laki berwajah tampan itu mendekati adiknya. Dia menyerahkan boneka itu pada Ara tanpa sepatah kata pun.
"Tuh, bang Shaka udah kasih. Ambil gih," ujar Alea.
Ara memandang sinis ke arah Shaka sambil mengulurkan tangannya niat mengambil boneka kesayangannya.
Hap!
Boneka itu telah berpindah ke pelukan Ara, segera anak itu berlari menjauhi Shaka. Alea hanya mampu menggelengkan kepalanya melihat kelakuan putrinya yang sangat manja, Ady sanga memanjakannya begitu pula dengan keluarga Ady.
"Shaka sayang, kenapa adiknya di isengin terus? nanti dia ngambek gimana?" Ujar Alea sambil mengelus pipi anak itu.
"Ala na udah nda copan bunda, dia panggil Chaka nda ada abang na. Nda copan kan?" Adu anak itu.
Alea tertawa, dia menatap anak itu dengan senyum lembut nya.
"Iya, bunda ngerti. Coba Shaka bilang baik-baik, pasti dia ngerti," ujar Alea mencoba membujuk anak itu.
"Nda bica bunda, Ala itu kepala batu tayak ayah." Ketus Shaka.
Ady yang sedang menuruni tangga pun di buat terkejut karena penuturan Shaka, dia langsung berjalan cepat untuk menghampiri keduanya.
"Apa kamu bilang? kayak ayah? kamu tuh kayak kulkas berjalan, kok kayak ayah," ujar Ady tak terima.
Shaka hanya menatap Ady datar, itulah kelebihan anak itu dimana dia akan berbicara panjang lebar hanya dengan sang bunda tercinta.
"Mas." Peringat Alea.
"Cableng," ujar Shaka dan beranjak pergi dari sana.
Ady dan Alea tentu saja menjatuhkan rahang mereka, tak menyangka jika Shaka mengetahui bahasa itu dengan fasih.
"Yang anak kamu ...,"
"Ah, udah lah mas. Anak kamu anak kamu, gitu aja terus. Aku stop jatah nyengir kuda kamu!" Ketus Alea dan mencari keberadaan putrinya.
"Yah ... di tinggal?" Gumam Ady.
Alea berjalan ke arah taman belakang, dia melihat putrinya yang sibuk berpesta minum teh bersama dengan boneka yang putrinya miliki.
Ady tak membiarkan kedua anak mereka keluar dari rumah di karenakan banyaknya kasus penculikan yang kini banyak terjadi.
Apalagi wajah Ara dan Shaka sangatlah menggemaskan membuat siapa saja ingin mengarunginya dan membawanya pulang.
Sedangkan Shaka, anak itu tengah berjalan ke arah gerbang. Dia melihat sang satpam yang tengah tertidur sehingga memudahkannya untuk membuka pagar itu.
"Mau kemana kamu?"
Shaka terperanjat ketika mendengar suara berat Ady, dia membalikkan badannya dan melihat Ady yang tengah berkacak pinggang sambil menatapnya.
"Mau ngapain keluar huh?" Selidik Ady.
"Ke-kemalen teman-teman Chaka pelgi ke cupelmalket, dicana ada capit boneka. Chaka mau main, kalau dapet bonekana bica buat Ala." Terang anak itu.
Ady yang mendengarnya pun sedikit tersentuh, dirinya tahu seberapa besar rasa sayang Shaka pada Ara.
Padahal Shaka tahu jika Ara hanyalah Ady sepupu serta sepersusuannya. Seringkali Alea memperkenalkan Siska dan juga Nando sebagai orang tua asli Shaka, karena dirinya tidak ingin Shaka merasa di bohongi saat dia sudah besar nanti.
"Ayo masuk, nanti malam kita pergi ke mall dan main capit boneka sepuas Shaka." Ajak Ady sambil menggandeng tangan anak itu kembali memasuki rumah.
***
"Sudah ada kabar?" Tanya Reyhan pada Arga yang tengah sibuk dengan laptopnya.
"Belum," jawab Arga dengan singkat.
"Seharusnya kamu kasih tahu kakek dari awal jika Alea adalah kembaran kamu! kenapa kamu kasih tahu itu setelah mereka pergi 3 tahun lamanya huh?!" Sentak Arga pada cucu laki-lakinya itu.
Arga menghentikan kegiatannya, dia menatap sang kakek yang tengah menatapnya tajam.
"Kalau Arga tahu jika Ady akan membawa Alea pergi, tentu Arga akan cegah. Kakek tahu sendiri kondisi Arga saat itu seperti apa? terbaring lemah, saat bangun Arga di kasih tahu oleh mamah," ujar Arga dengan kesal.
Belum lama, Arga mengabarkan pada Reyhan mengenai siapa Alea sebenarnya. DIa telah lelah memendam semaunya dari Reyhan dan berharap Reyhan dapat membantunya menemui dimana keberadaan Ady dan juga Alea.
"Setelah kita menemukan Alea, kakek akan membawa dia pergi. Tidak ada ikatan keluarga kita dengan Dominic sampai kapanpun itu!" Tegas Reyhan.
Reyhan tentu saja terkejut, harapannya agar Reyhan membantunya bukan membuat masalah semakin runyam.
"Kakek udah gila yah? mereka punya anak kek! jangan sampai keponakan aku mengalami hal yang sama denganku, berpisah dengan orang tua kandung! itu sangat sakit kek," ujar Arga dengan sedikit emosi.
"Anak?" Heran Reyhan.
"Yah, anak mereka sudah berumur hampir 4 tahun. Apa kakek tega merenggut kebahagiaan anak sekecil itu? yang dimana dia sudah mengerti siapa orang tuanya dan mengingat perlakuan kakek terhadap orang tuanya nanti! Berbeda denganku, kakek memisahkanku dengan ayahku saat aku masih bayi." Tegas Arga.
Arga pergi dari ruangan itu meninggalkan kakeknya yang termenung dengan perkataan Arga.
***
Kembali lagi dengan keluarga Ady, kini kedua balita itu tengah asik memakan es krim mereka sambil melihat kupu-kupu yang berada di taman belakang.
Sambil bersantai, Shaka mendekati kupu-kupu itu dan mengganggunya.
Ara melihat apa yang abangnya lakukan, ia dengan cepat menghabiskan es krimnya dan menyusul sang kakak.
"Telbangna cepet yah bang?" ucap Ara.
"ABANG! ADEK! MASUK DULU NAK, CUACA MAKIN PANAS!" Seru Alea dati teras rumah.
Ara dan Shaka langsung berlari kecil ke arah sang bunda, mereka merangkul tangan Alea dan memasuki rumah.
"Sayang, mas pergi ke kantor dulu yah. Ada urusan mendadak, cuman 3 jam doang. Nanti minta bibi bantu kamu ngurus mereka yah." Pamit Ady yang entah kapan muncul dari samping mereka.
Alea terlihat mengerutkan keningnya, dia mengangguk singkat dan menatap kepergian sang suami dengan heran.
"Bunda, ayah kok pake lok cih? katana mau ke kantol?" Ujar Ara dengan polosnya.
"Itu rok bunda sayang, kayaknya ayah kamu buru-buru deh sampe gak sadar. Tapi gak sadarnya kebangetan yah, masih ada muka buat pulang gak yah?" Bales Alea.
"Ada mukana bunda, cuma ulat maluna kejepit nanti." Sambung Ara