
Bab 95
.
.
.
Roger dan Ani bisa mendengar dengan baik bagaimana Victor menerangkan semuanya pada Klien mereka. Tak diragukan memang Victor benar-benar pemimpin yang sangat bisa diacungi jempol.
Tanpa perdebatan dan banyak pertanyaan, Klien dengan mudah menanda tangani kontrak kerja mereka.
Selesai bertemu Klien, Victor mengajak Ani dan Roger melihat proyek mereka yang akan segera selesai.
keheningan terlihat jelas didalam mobil itu, Roger yang menyetir, sementara Ani disisi Roger dengan Victor yang duduk dibangku belakang.
Ani dan Roger hanya bisa saling lempar pandang saja. Dan hal itu bisa diketahui Victor.
"Kalau mau ngobrol ya ngobrol saja. Anggap saja aku tidak ada."Ucap Victor dengan mudah.
"Kau ini.."Balas Ani.
"Kalian kan memang berhubungan."Sanggah Victor.
"Tapi jangan terus mengejek kami !!? Kau ini menjengkelkan, Apa aku dulu mengejekmu saat bersama Nasywa.."Celoteh Ani.
"Yang mengejekmu itu siapa ??!! Aku kan hanya bicara." timpal Victor.
"Itu sama saja !!? Kami sama-sama dewasa Vic, Tidak selebay anak muda.."Protes Ani.
"Kalau kalian sadar sudah dewasa kenapa tidak cepat menikah saja ??!! Mau sampai kapan kalian berhubungan tanpa status ??"Ucapan Victor sontak membuat Ani diam. Tenyata suami keponakannya itu menghawatirkannya.
"Maaf tuan, Kami tengah memikirkan kesrriusan itu. Tidak akan lama."Roger menjawab.
"Apa lagi yang mau kalian fikirkan ?? Ingat, berpacaran malah akan menambah dosa, apalagi kalian terlalu sering berciuman. Bisa-bisa kalian juga akan melakukan hal yang lain."Sanggah Victor.
Ani menelan ludahnya susah payah. Bahkan mereka berdua semalam sudah tidur bersama.
Begitupun dengan Roger, Roger malah berfikir jika Victor adalah cenayang yang bisa mengetahui hal apapun.
.
.
Entah mengapa, Nasywa ingin sekali mengunjungi makam wanita yang bernama Miranda. Sesuai apa yang yang ia temukan.
Tiba disana, Nasywa turun dari taksi dengan membawa buket bunga dan segera mencari makam Yang bertuliskan Miranda.
Namun saat Nasywa menemukannya, ternyata disisi makam itu tengah duduk dikursi roda seorang wanita renta yang diam menatapi Makam Miranda.
"Maaf, apa ini benar makamnya Nona Miranda ??" Nasywa memberanikan diri bertanya.
Wanita tua renta itu mengangkat wajahnya melihat Nasywa. "Kau siapa Nak ?? Apa kau juga memiliki dendam pada keponakanku ??"
Balas Bibi May dengan suara bergetar.
"Oh.. Tidak Nek..Saya hanya mau berkunjung saja."balas Nasywa dengan cepat.
"Benarkah ?? Baru kali ini ada yang datang hanya berkunjung saja. Biasanya yang datang selalu meminta pertanggung jawaban atas apa yang dilakukannya dulu."tutur Bibi May seraya kembali menatap Makam Miranda.
Nasywa terduduk dibawah Bibi May lalu meletakkan buket bunga yang ia bawa. "Aku memang tidak mengenalmu, Tapi kau bagian dari masa lalu suamiku, Terima kasih telah menyadarkan suamiku, semoga kau tenang dialam sana."batin Nasywa.
"Keponakanku memang jahat. Dia wanita yang arogan, Berambisi dan Tamak. Makanya diusia muda dia sudah meninggal."Ucap Bibi May.
"Meninggal itu takdir Allah Nek, Bukan karna sifat atau sikap seseorang."balas Nasywa.
Bibi May menatap lekat wajah Nasywa. Hingga kedua mata mereka beradu. "Jadi kau ini siapa ?? Kenapa kau mengunjungi Keponakanku ?? Jika memang kau korban penghianatan dari keponakanku, aku mohon jangan mengumpat dan mendoakanMiranda yang buruk-buruk. kasihan dia, Dia meninggal secara tragis.."
Nasywa menggenggam jemari Bibi May. "Saya bukan korban atau apapun Nek. Saya mutlak kemari karna ingin berkunjung saja. Nenek jangan bersedih seperti itu ya,"
Keduanya saling tatap dengan senyum haru masing-masing.
.
.