
Bab 68
.
.
.
Mematung karna terlalu fokus membuat Ani tak menyadari jika Roger yang tengah membereskan ruangan melihat dirinya.
"Nona ada apa ??" tegur Roger.
Seketika Mata Ani berkedip beberapa kali. Dan Ani segera mengalihkan tatapannya.
Roger perlahan menghampiri Ani yang masih berdiri didepan pintu.
"Apa ada yang bisa saya bantu ??" Tanya Roger lagi.
"Oh.. Em.. Tidak, aku..aku hanya terkejut. Kenapa kau membereskan ruangan ini ?? siapa yang menyuruhmu ??" Ani mengeluarkan uneg-unegnya.
"saya disuruh tuan Victor. Mulai hari ini saya dipekerjakan dikantor ini. Tuan Victor bilang Kantor sedang membutuhkan arsitek dalam proyek-proyeknya yang lain."Terang Roger.
"Victor ?? Kapan dia memberitaumu ??" Ani sangatlah terkejut.
"Kemarin Nona..Tuan menghubungi saya bersama Tuan Haikal CEO Horison Group."Balas Roger.
"Victor..kenapa tadi dia diam dan tidak memberitauku ??" Batin Ani dengan kesal
"Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik Nona.. Saya minta bimbingannya."Roger menunduk memberi hormat.
"Sudah...sudah.. Jangan seperti itu..Em, teruskan saja pekerjaanmu, aku mau kepantry."Ani yang begitu tak mengerti memilih langsung pergi dari sana saja.
Roger hanya tersenyum geli saat melihat betapa lucunya ekspresi wajah Ani.
.
.
Kembali dari pantry, Ani membawakan secangkir kopi juga untuk Roger. Entah mengapa Ani sendiri tidak tau.
"Mau kopi ??" tawar Ani dari pintu.
Roger memutar tubuhnya dan membalas dengan senyuman manis. "Nona baik sekali.."Dengan antusias Roger menerima secangkir kopi buatan Ani.
"Biasa saja. Kita bersebelahan ruangannya. semoga kau betah."Balas Ani.
"aku keruangan dulu.."Pamit Ani.
Roger menggangguk dengan tenang pula.
.
.
Nasywa terbangun sekitar pukul 3 sore. Ia cukup terkejut saat mendapati dirinya tertidur dengan berbalut selimut tebal.
"Ya ampun..bagaimana bisa kami melakukannya disini ??" gumam Nasywa.
"Aaa...malu sekali aku.."Nasywa menutupi wajah dan kepalanya.
"Lalu dimana hubby ??" Nasywa buru-buru membuka selimutnya dan menggulung selimut itu guna menutupi tubuhnya.
Niat hendak keluar urung dilakukan Nasywa saat terdengar suara Wisnu diruangan suaminya.
"Aku mandi dulu saja..Bisa diejek Paman Wisnu jika aku keluar seperti ini.."gumam Nasywa yang berlaru kecil menuju kamar mandi.
Nampak piyama sudah disiapkan oleh Victor disana. Dan Nasywa begitu menikmati mandi sorenya diruang pribadi Suaminya.
.
.
Ceklek..
sontak Mata Victor terarah pada Pintu kamar pribadinya, dimana Nasywa baru keluar.
"Kau sudah bagun ??" Victor pun segera berdiri menyambut istri kecilnya.
"Kenapa aku tidak dibangunkan ??"protes Nasywa.
"Kau terlihat lelah sekali.. Mana aku tega membangunkanmu.."Victor mengusap surai rambut Ayana.
"Itu semua kan karna kau hubby.. Kau ini tidak punya rasa lelah ya ??!! Lagi dan lagi.. Aku sampai lemas.."Celoteh Nasywa yang menimbulkan gelak tawa Victor.
Victor pun menarik pinggang Nasywa dengan posesif. "Ya mau bagaimana lagi.. Kau ini seperti candu, jika dekat aku ingin terus melakukannya.."
Mata Nasywa pun mendelik seketika. Buru-buru Nasywa mendorong dada Victor agar sedikit menjauh. "Kalau begitu jangan dekat-dekat dulu.. Aku masih lelah.."
Tawa Victor kembali terdengar. "Aku juga masih punya aturan baby.. Kau ini.."Victor gemas sekali dengan Nasywa.
"Aku jaga-jaga saja, kau ini seperti monster.."Gerutu Nasywa bernada kesal.
"Iya..iya.. bagaimana kalau kita jalan-jalan ?? Agar lelahmu hilang ??" tawar Victor.
"Memang pekerjaanmu sudah selesai ??" Tanya Nasywa balik.
"Tidak akan ada selesainya pekerjaanku.. Bagiku kau yang utama.."Balas Victor dengan suara lembutnya.
"Baiklah.. Tapi aku pilih tempatnya ya ??" Nasywa begitu senang.
"Apapun untukmu honeyku.."Balas victor lagi.
Nasywa segera mengalungkan tangan dilengan Victor dan membawa suaminya itu keluar.
.
.
.