Little My Wife

Little My Wife
Panggil paman saja



Bab 9


.


.


.


"Sialan !!!"Umpat Gabriel setelah tau semua anak buahnya mati kala.mengejar Nasywa.


"Tetap cari mereka. Dan kabarkan aku kembali kejakarta."Perintah Gabriel.


"Siap tuan."Balas anak buah Gabriel.


"Kau, Carikan aku tempat selain Apartemen ini ??!" Gabriel menunjuk satu lagi anak buahnya.


"Baik tuan. Mari.."Anak buah Gabriel segera membukakan pintu. Terlihat Gabriel keluar dengan buru-buru sembari menarik koper kecilnya.


Tak sengaja didalam Lift, Gabriel bertemu Victor. Namun karna memang tak saling kenal keduanya hanya saling diam. Apalagi anak buah Gabriel begitu melindungi atasan mereka.


"Tuan. Nona Ani juga tidak kembali Keapartemennya menurut laporan pengintai kita."Lapor anak buah Gabriel saat mereka didalam lift.


Victor cukup terkejut kala nama Temannya disebut. "diakah suami Arina ?? Papanya gadis tadi ??" Batin Victor.


Gabriel memelototi Anak buahnya yang bicara. Mengingat didalam lift ada orang asing.


Hingga Tujuan Victor sampai, Victor pun segera turun saat pintu Lift terbuka.


"Jangan katakan apapun jika ada orang !!"Sentak Gabriel.


"Maaf tuan. Kami terlupa."Balas anak buah Gabriel sembari menunduk.


Gabriel hanya mendegus kesal dengan tatapan tak sukanya.


.


.


Tiba dikamar Victoe memilih memberi kabar pada Ani.


Pria dewasa itu menempelkan benda pipih diTelinganya menunggu panggilan terhubung.


"halo An."


"Iya vic. Ada apa ??" tanya Ani


"Suaminya Arina. Aku barusan.bertemu dia didalam lift."Ucap Victor.


"benarkah ??" Ani amatlah terkejut.


"Iya. Aku lihat dia pergi membawa kopernya."Tambah Victor.


"kau tau dari mana jika yang bertemu denganmu suaminya kak Arin ??"Tanya Ani


"Oh.. Pantas saja. Vic, Tolong ya..pastikan pria itu sudah tidak diapartemen ?? Besok pesta Kantor akan diadakan diHallroom Hunian apartemen." Pinta Ani.


"Iya.. Aku rasa tadi dia hendak pergi. Karna membawa kopernya juga."Timpal Victor.


"Terima kasih Vic sudah menolong kami."balas Ani.


"Iya."Victor langsung mematikan panggilannya.


Sementara Ani juga memilih tidur disisi Nasywa saja. Ia mengistirahatkan tubuh serta Fikirannya yang baru saja terkuras habis Karna ulah sang kakak ipar.


.


.


Pagi Hari kembali menyapa. Sebelum matahari terbit, Ani sudah membuat sarapan untuk keponakannya yang masih terlelap. Karna memang dirumah pribadi Victor tidak ada pelayan, makanya Ani berinisiatif membersihkan rumah itu dulu tadi pagi.


beberapa menu sudah terhidang diatas meja. Ani segera menuju kamar guna membangunkan Nasywa.


Wajah polos Nasywa yang tenang saat tidur membuat Ani begitu terharu mengingat nasib gadis muda itu.


Setelah membuang nafas beberapa kali, Ani duduk ditepi ranjang menggoyang tubuh Nasywa agar terbangun.


"Nasy.. Bangunlah sudah Siang.."


Nasywa mengeliat dan menerbitkan senyum saat melihat wajah sang Bibi yang tersenyum kearahnya.


"Bibi.. Kita dimana ??" Tanya Nasywa saat Sadar itu bukan kamar bibinya.


"Kau lupa kemarin kita kenapa ??" Tanya Aninbalik.


Nasywa mengingat kembali. "Oh iya.. Ini rumah tuan itu ??"


"Iya. Namanya Victor. Dia rekan kerja Bibi. Nanti kalau kau bertemu dia jangan panggil Tuan ya, dia tidak suka dipanggil seperti itu, Panggil saja paman."Nasehat Ani.


Nasywa menggangguk patuh.


"Mandilah dan bersiap. Bibi tunggu dibawah."Ani segera beranjak.


Nasywa kembali menggangguk patuh, Ia segera beranjak daro tempat tidur, Perhatian Nasywa terpusat pada jendela kaca yang terbuka gordennya.


Nasywa bisa melihat hamparan laut luas disana.


"Rumah yang aku impikan.. Bagaimana paman itu memilikinya ??" Gumam Nasywa yang begitu senang bisa melihat indahnya Laut Dari dekat.


.


.


.