Little My Wife

Little My Wife
Kalian yang ceroboh



Bab 89


.


.


.


Setelah menyelesaikan sarapannya, Victor kembali memulai aktivitas rutinnya kekantor. Nasywa melambaikan tangan saat mobil sang Suami meninggalkan rumah. Ia berniat berjalan-jalan disekita rumahnya, dimana Dibelakang rumah Nasywa sudah bisa menikmati keindahan laut kota Jogjakarta.


"Aaahhh.. Ini segar sekali.. Aku akan minta Hubby membuatkan rumah singgah dibelakang sini.. Disini nyaman sekali.."Ucap Nasywa seraya menikmati deru angin disana.


.


.


Wajah cerah Victor begitu menambah ketampanannya meski usianya memang sudah tidak muda lagi. Sapaan didapat Victor saat ia mulai memasuki kantor lagi.


Dan para karyawan juga dibuat keheranan karna Victor membalas sapaan mereka dengan senyuman lebar.


"Tuan Victor.. Tumben sekali tersenyum selebar itu ?? Biasanya hanya diam.."Bisik salah satu karyawan.


"Kau lupa, Tuan kan pengantin baru, pasti sedang bahagia-bahagianya ini."Balas yang lain.


"Ada baiknya juga tuan menikah. Kita tidak terlalu takut kalaunmelihat wajah tuan Victor. yang biasanya menyeramkan, kali ini begitu menyenangkan."Keduanya terkekeh bersama yang kemudian memilih langsung keruangan mereka.


.


Tujuan Victor adalah lantai dimana Ruangan Ani berada. Ia langsung ingin melihat berapa banyak laporan yang harus ia periksa.


Tanpa ragu Victor menapaki kaki menuju ruangan Ani, Dan karna sudah biasa keruangan Ani, Victor tak mengetuk pintu terlebih dulu.


Dan..


Ckleekkk !!


Pemandangan mengejutkan terlihat jelas.


"Ehem..."Victor berdehem dengan wajah datar tanpa ekpresinya.


Sementara Ani dan Roger yang sedang berciuman langsung terjengit dan melepas pangutan mereka.


Keduanya mengatur nafas masing-masing dengan rasa gugup dan takut, Ani begitu malu sekali.


"Kau tidak bisa mengetuk pintu ya ??" protes Ani tanpa berani menatap Victor.


Dengan santai Victor melangkah masuk setelah menutup pintu ruangan Ani.


Roger tertunduk, ia cukup takut pada Victor mengingat kedudukan Victor yang cukup tinggi.


"Kapan kau pulang ?? Katanya masih betah diJakarta ?? Kufikir kau melupakan pekerjaanmu ???!!" Ani berusaha mengalihkan topik.


"Bagaimana aku melupakan pekerjaanku, Kalian saja yang aku beri tanggung jawab malah asik pacaran terus."Timpal Victor dengan enteng.


"Maafkan kami tuan.. Kami tidak akan mengulanginya."Ralat Roger dengan cepat.


Ani bisa melihat kecanggungan Roger terhadap Victorm biar bagaimanapun memang Victor adalah pemimpin pengganti diKantor besar itu. Ia pun juga harus patuh dengan aturannya.


"Bagaimana proyek ?? Berjalan lancar kan ??" Tanya Victor.


"Iya. Sudah 75%. Selebihnya akan dilanjutkan."Balas Ani. Ani menyodorkan berkas pada Victor.


"Lihat ini dan kau harus survei sendiri."Ucap Ani.


Victor pun menerimanya dengan tegas, seraya berdiri. "Berkas yang lain nanti antar saja keruanganku. Aku tunggu."Ucapnya sebelum keluar.


"Kau mau kemana ??" Tanya Ani.


"Kembali keruanganku lah !!? Masa iya aku disini dan menjadi obat nyamuk untuk.kalian. Menyebalkan sekali.."Balas Victor seraya melanjutkan langkah kakinya.


Ani hanya menyunggingkan senyum mendengar jawaban dari Victor. Meski tak melontarkan dengan Jelas, namun Ani sudah bisa memastikan jika Victor mendukung hubungan mereka.


"Kenapa kau tersenyum begitu ?? Kau tidak takut tuan Victor marah ??" tegur Roger.


Ani mendekati Roger dan mengalungkan kedua tangannya dileher Roger. "dia memang pemimpin dikantor. Tapi dia adalah keponakanku, diluar kantor. Dia tidak akan mengganggu kita lagi.."


"Tapi tadi tuan Victor terlihat tidak suka."Timpal Roger.


"justru sikapnya tadi menandakan dia membiarkan hubungan kita. Jarang-jarang Victor tak peduli begini."Balas Ani.


"Semoga saja. Ya sudah, aku keruanganku dulu ya.. Aku takut dimarahi tuan Victor lagi."Pamit Roger.


"Iya. Selamat bekerja.."


Roger mengangguk setelah melabuhkan ciuman dikening Ani.


Iya, Ani dan roger telah resmi.menjalim hubugan dan dalam waktu dekat mereka akan meresmikan hubungan mereka. Meski hubungan singkat, namun keyakinan keduanya tidak melunturkan niat baik mereka.


.


.


.