
Bab 15
.
.
.
Selesai membersihkan diri, Nasywa berinisiatif untuk keluar kamar menuju dapur. Siapa tau ia bisa membantu Victor menyiapkan makanan untuk mereka. Namun saat tiba didepan meja makan, ternyata Victor sudah menatap rapi makanan diatas meja.
"Paman masak semua ini ??" Tanya Nasywa terperangah tak percaya jika pria yang berstatus suaminya itu bisa memasak.
"Iya. Duduklah. Kita harus sarapan sekaligus makan siang."Victor membukakan kursi untuk Nasywa, hingga Nasywa sedikit tak enak. Ia menunduk sembari perlahan duduk.
"Makanlah, jangan sungkan. Kita akan terbiasa seperti ini setiap harinya."Ucap Victor dengan lembut.
Nasywa menggangguk pelan sembari melirik Victor yang hendak mengambilkan Nasi untuk Nasywa.
"em.. Paman, biar aku ambil sendiri saja."Nasywa segera mencegah.
"Kau yakin ?? Nanti kau malu tidak ??" Balas Victor.
Segera Nasywa menggeleng seraya menerbitkan senyum tipisnya.
"Iya sudah."Victor mengambil untuk dirinya dan membiarkan Nasywa mengambil sendiri.
Keduanya makan bersama dalam keheningan. Sesekali Nasywa melirik pria dewasa yang kini menjadi suaminya, Semua seolah Bagai mimpi.
.
.
Ani melamun didepan cermin kamarnya. Dia harus bagaimana ?? Perasaan yang ia pendam dan belum terungkap harus pupus seketika karna Pria yang ia sukai telah menjadi suami orang.
Ani membuang nafas dengan kasar sembari mensyugarkan rambut kebelakang. Dering ponsel membuat Ani segera beranjak menraih ponsel yang terus berbunyi itu.
Tertera nama sahabat karib Ani dilayar ponsel itu. Hingga dengan segera Ani menggeser tombol hijau dilayar dan segera menempelkan benda pipih ditelingannya.
"Ani.. Kau kemana sih ??!! Sejak tadi aku menghubungimu !!?"Baru saja terhubung, suara Amara sudah terdengar ditelinga Ani.
"Astaga Amara, pelankan suaramu, telingaku bisa pecah !!?"Balas Ani.
"Kau kemana saja ?? Sibuk bekerja terus ??! Jangan terlalu diforsir An, Fikirkan juga kesehatanmu, jika suamiku terus menyuruh dari sini katakan saja padaku, aku akan memukulnya !!"celoteh Amara.
"Kalau bicara satu-satu Amara..Aku hari ini tidak bekerja kok. Aku dirumah."Timpal Ani.
"Tidak. Hanya lelah saja."
"Ku dengar kemarin ada pesta disana ?? Kau menang tendder lagi An ??"
"Bukan aku, Victor yang menang. Para karyawan minta diadakan pesta, dan Suamimu Haikal menyetujuinya. kau tau, aku sangat menyesal memberi mereka Dana, Karna ternyata party yang dimaksud itu seperti party anak muda."Cerita Ani.
"Benarkah ?? Victor suka party seperti itu dulu.."ucap Amara.
"Tidak untuk sekarang Am, Victor sudah banyak berubah. Dia benar-benar merubah dirinya."
"Syukurlah jika begitu.. Berarti dia benar-benar seriua dengan ucapannya."
"Kudengar dari Haikal kalian menjadi couple pembisnis yang disukai Banyak klien ya ?? wah..Semoga saja sampai couple pasangan ya ??" Canda Amara.
"Jangan sembarangan. Victor tidak mungkin seperti itu. Dia selalu menjaga jarak dengan semua wanita."raut wajah Ani seketika meredup. Mengingat Pria itu sudah beristri sekarang
"Apa salahnya, kau pepet saja terus dia. Kalian sama-sama single An, dan lagi usia kalian sudah tidak muda. Sudah waktunya berumah tangga. Lihatlah aku dan Sindy, Kami sudah punya dua anak."Nasehat Amara
"Dan kau ingin aku terlihat seperti wanita penggoda ?? Sudahlah jangan bicarakan hal seperti itu."
"Ok..ok.. Sudah dulu ya An, anakku menangis.. Bye.."Amara langsung mematikan panggilannya. Ani juga meletakkan kembali Ponselnya diatas meja dan merebahkan tubuhnya diatas ranjang.
"bahkan aku sudah kalah sebelum berjuang Am..pria itu sudah beristri sekarang.."Gumam Ani seraya memejamkan mata.
.
.
selesai membereskan meja makan, Nasywa memilih membersihkan Apartemen Victor. Dari mulai menyapu, ngepel sampai mencuci pakaian.
Satu persatu dilakukan Nasywa mengingat Victor baru saja keluar, hal itu digunakan Nasywa untuk mempercepat pekerjaannya.
Saat Nasywa mengelap meja-meja diruang tengah, Terlihat foto seorang gadis kecil yang tersenyum lebar penuh bahagia.
Nasywa menerbitkan senyum saat meraih foto itu. "Anak ini lucu sekali ?? Siapanya Paman ya ??" tanya Nasywa pada dirinya sendiri.
.
.
.