Little My Wife

Little My Wife
Apa yang kau lakukan



Bab 48


.


.


.


"Nasywa,kau berhak Bahagia. Mama tidak apa-apa nak jika memang harus berkorban."Ucap Arina pada putri satu-satunya.


"Tapi ma.."Nasywa sungguh dalam keadaan bingung sekali.. Bagaimana ini.


"Ayo Victor. Tembak aku !!! Aku siap mati !!" Gabriell terhuyung-huyung berdiri dengan senyum kelicikannya.


Victor pun juga kebingungan. ia harus bagaimana sekarang.


Haikal yang fokus pada Gabriell dan Victor sampai melupakan Morgan yang segera kabur saat melihat Haikal tak konsentrasi.


Melihat itu Haikal tak begitu peduli. Yang ia fikirkan adalah bagaimana menemukan Bahan peledak dalam tubuh Arina.


"Papa.. Aku mohon.. Jangan begini,"Nasywa terduduk memohon.


"Aku menyayangi kalian, aku ingin papa dan mama bersama denganku.."Tambah Nasywa.


"Jika kau ingin begitu. Kau tinggalkan saja Duda tua itu !! Dan menuruti kemauan papa !!"balas Gabriell.


"Tapi aku tidak mau dijodohkan pa.. Please pa.. Sadarlah.."Nasywa terus memohon.


Hati Victor begitu teriris saat melihat Nasywa memohon dengan begitu menyedihkan.


Namun sesuatu yang mengejutkan terjadi. Timah panas dilayangkan Haikal tepat dikepala Gabriell hingga membuat semuanya terkejut dan ketakutan.


Dorrr !!!


"Aakhh !!" Gabriell tergeletak bersimbah darah dan langsung ambruk ditempat. Karna peluru Haikal bukanlah peluru biasa.


"Haikal.. Apa yang kau lakukan ??!!" Tegur Victor. Nasywa bahkan mematung seraya memegangi mulutnya.


Haikal berlari pada Arina dengan cepat. "Nona Arina. Mohon maaf. Dimana dia memasang bahan peledak itu."


"Dipunggung saya tuan Haikal."Arina segera menunjukkannya.


Tak butuh waktu lama, Haikal berusaha menjinakkan bahan peledak itu.


Victor yang tak mengerti tentang hal-hal seperti itu hanya fokus pada Nasywa saja. "Ayo sayang.."


"mama bagaimana Hubby.."Tanya Nasywa.


"Kit doakan Haikal bisa menjinakkan bahan peledak itu."balas Victor.


"Vic, Kau punya Gunting ??" Tanya Haikal.


"Tidak ada !!" Balas Victor.


Buru-buru Nasywa menyodorkan gunting itu dengan tangan gemetar.


"Tenanglah. Aku akan berusaha semaksimal mungkin."Ucap haikal berusaha menenangkan istri temannya.


Nasywa hanya mampu menggangguk.


Dan..


Akhirnya, Haikal.bisa menarik bahan peledak itu. Walau harus melukai punggung Arina.


"Maaf Nona. Anda sedikit terluka."Ucap Haikal.


"7Tidak masalah Tuan. Terima kasih.."balas Arina.


"Haikal. Gabriell sebentar lagi meledak. Bagaimana ini ??" tanya Victor yang turut kawatir juga.


Dan sesuai ekpektasi, Sebuah mobil sudah berhenti disana.


"Lihatlah istriku, dia datang tepat waktu. Segeralah masuk kemobil dia. Cepat !!!?" Ucap Haikal saat bisa melihat Amara dari kaca spion.


Victor dan Nasywa juga Arina berlari menuju mobil.


Haikal meletakkan Bahan peledak tadi disisi Gabriell yang memang masih sekarat


"Kau..k..au.. Pe..m..bu..nuh.."ucap Gabriell dengan terbata.


"Iya. Jika kau tau sejak awal seharusnya kau tidak usah melakukan hal aneh seperti ini."balas Haikal.


"Ta..nganmu san..gat ba..nya..k do..sa..n..ya.."Ucap Gabriell sebelum menghembuskan nafas yang terakhir.


Haikal tersenyum tipis seraya menatap Gabriell yang sudah tak berdaya. "Bukan hanya tangan. Tapi aku memang penuh dengan dosa."


"Baby !!! cepatlah ?!!" panggil Amara.


Haikal segera menoleh dan berlari menuju mobil. Saat ia masuk kedalam mobil dan mobil berputar, ledakan mulai terjadi dari tubuh Gabriell.


Domm !!!


Amara dengan cepat menekan pedal gas lalu kemudian meninggalkan tempat itu.


Domm !!!


Lagi, Dentuman terdengar. Arina hanya bisa memejamkan mata. Sakit dan nyeri sekali melihat suaminya harus mati seperti itu. Namun apalah daya dia, dan semua juga karna perlakuan suaminya.


Nasywa memeluk sang mama dengan erat. Meski Gabriell adalah pria arogan mereka berdua tetap merasa sangat kehilangan.


.


.


.