Little My Wife

Little My Wife
Lebih baik mati



Bab 7


.


.


.


Aksi kejar-kejaran terus terjadi dipadatnya jalanan. Ani hampir menyerah karna kemana pun ia pergi selalu diketahui.


"Gabriel sialan..Awas saja kau.."Umpat Ani yang langsung membanting stir kearah kanan dan terus menambah kecepatan mobilnya.


Nasywa pun terus memperhatikan laju mobil yang semakin mendekat.


sesekali Nasywa menatap bibinya yang terlihat begitu berkonsentrasi.


Namun tiba-tiba sebuah peluru mengejutkan Ani dan Nasywa. Apalagi peluru itu menembus kaca mobil Ani.


Dorrr..


Pyar !!!


"Akkhhh !!!"Pekik Nasywa dan Ani bersamaan hingga keseimbangan mengendara Ani sedikit terganggu.


"Bibi.. Aku takut.."Rengek Nasywa wajahnya bahkan sudah berubah pucat. Ani sebenarnya juga begitu tak karuan perasaannya, namun demi menenangkan kepokanannya, Ani terus berusaha terlihat biasa.


"Kau bukannya sudah tau sifat papamu !!" Sentak Ani.


"Orangtua macam apa yang tega menembak anaknya sendiri.."Balas Nasywa.


"Bibi yakin. mereka hanya orang papamu. Papamu tidak ikut."Timpal Ani.


"Tetap saja bibi..Jika tidak diperintah seperti itu, apa mungkin mereka berani melukai kita..?!!" Balas Nasywa dengan mata yang sudah mulai perih.


Hanya karna sebuah ambisi sang papa melakukan segala cara agar bisa membawa pulang kembali Nasywa.


Dorr..


Dorr..


Criitt..


Dua mobil belakang Ani ditembak oleh anak buah Gabriel, hingga laju Kendaraan itu mulai tidak stabil, jika dipaksa pasti akan menyebabkan kecelakaan, hingga Ani memilih membanting stir kearah lain saja.


Hampir saja Mobil Ani terperosok ditepi jalan, namun untungnya kedua nya tidak mengalami cidera apa-apa.


Belum habis rasa terkejut pada Diri Ani dan Nasywa, Pintu mobil sudah digedor dengan kuat oleh anak buah Gabriel.


"Keluar !!! Jika tidak jendela akan aku pecahkan !!!" suara seperti itu terdengar dari luar.


Nasywa kalap dengan rasa ketakutannya. "Bibi.. Bagaimana ini ?? Aku takut sekali..."


"Tenanglah. Seperti yang bibi bilang tadi, kau harus tetap didalam mobil apapun yang terjadi. Bibi akan menghadapi mereka."Setelah berkata demikian Ani segera membuka pintu mobil.


Anak buah Gabriel tak menunggu waktu lama, kedua tangan Ani langsung dikunci dan ditodong pistol.


"Nona muda ada didalam kan ?? Suruh dia keluar !!!" Sentak anak buah gabriel.


"Jangan sembarangan !! Aku tidak tau dimana Nasywa.."Balas Ani yang juga begitu takut.


"Tidak akan pernah."Ani berucap demikian.


"Berarti kau ingin mati !!? Baiklah.."Hampir saja Anak buah Gabriel menekan pelatuk pistol yang tertempel dipelipis Ani. Ani langsung memejamkan mata.


Namun tiba-tiba saja..


Dagg.


dagg..


Pistol itu terjatuh akibat tendangan tak terduga dari Nasywa yang entah sejak kapan sudah keluar dari mobil.


Nasywa mengumpulkan tenaganya dengan memasang kuda-kuda.


"Jangan sakiti bibi Ani !!!"


Ani langsung membuka mata dengan terkejut. "Nasy.. Bibi bilang jangan keluar !!"


"Mana aku bisa diam melihat bibi disakiti begini. Majulah, lawan aku. Yang kalian cari aku kan ???" Ucap Nasywa dengan dada naik turun.


Pemimpin anak buah Gabriel menyerang Nasywa sungguhan. Nasywa dikeroyok 4 orang sekaligus.


"Ya Tuhan.. Lebih baik aku mati sekarang agar papaku sadar, dari pasa aku pulang dan menuruti kemauan arogan papa.."Gumam Nasywa. Yang segera memulai menangkis beberapa pukulan.


Dag..


Dag..


Dag..


Buk..


Bukk.


bukk..


Namun karna memang ilmu bela diri Nasywa masih belum sempurna. Nasywa terkena tendangan dibagian dadanya.


"Aakjh !!" Nasywa memegangi dada yang begitu teramat sakit akibat tendangan itu.


"Nona muda sebaiknya ikut kami saja. Agar luka Nona tidak bertambah."Ucap salah satu anak buah Gabriel.


"Lebih baik aku mati dari pada ikut dengan kalian !!" Nasywa berlari menghajar pria yang berucap itu.


Tendangan pukulan dilayangkan Nasywa, namun sayang. Nasywa kurang cepat hingga ia harus terkena kembali pukulan bertubi-tubi.


Nasywa hampir terjatuh akibat pukulan kuat itu.


Namun sebuah tubuh kekar menahan Nasywa dan memeganginya. Nasywa langsung menoleh kearah pria asing yang entah datang dari mana itu.


.


.


.