Little My Wife

Little My Wife
Tapi tidak hari ini



Bab 71


.


.


.


Seakan tak mau membuat istrinya kecewa, Victor kembali dari bekerja sekitar pukul 2 siang.


Sambutan penuh keceriaan terlihat diwajah Nasywa.


"Kok sudah pulang ?? Katanya Sore berangkatnya ??"


"Iya, kita bersiap-bersiap dulu.."Ajak Victor seraya masuk kedalam rumah.


Tiba dikamar ternyata dua koper sudah terjajar rapi.


sudut bibir Victor terangkat. "Kau siapkan sendiri ??"


"Iya. Kau bilang tidak boleh bawa baju banyak-banyak.."Balas Nasywa.


"Dua koper itu banyak sayang.."Victor yang gemas memegangi kedua pipi Nasywa.


"Ya mau bagaimana lagi, aku bawa yang paling penting loh ini.."


Victor tersenyum lebar seraya melandaskan ciuman dibibir Nasywa.


.


.


Sekitar pukul 5 sore, Nasywa dan Victor tiba diBandara Jakarta. Dan sesuai janji, Anak buah Haikal sudah siap didepan guna menjemput Victor dan Nasywa.


Sengaja Nasywa tak mengabari sang mama, ia ingin memberikan kejutan untuk mama tercintanya.


"Hubby.. Apa aku boleh kemakam Papa ??" Entah ada angin apa Nasywa bisa teringat sang papa.


"Boleh. Tapi tidak hari ini. Aku tidak mau kau kelelahan. Besok pagi aku akan mengantarmu."Balas Victor.


Nasywa menggangguk pelan lalu bersandar kembali dalam dekapan Victor. Keduanya menikmati perjalanan menuju Panti sosial dimana Arina, sang mama saat ini tinggal.


.


.


"Victor KeJakarta ?? Untuk apa ??" Tanya Amara pada suaminya.


"Honeymoonlah.."Balas Haikal seraya melepas kemejanya untuk mandi.


"Ha..ha..ha..ha.." tawa Amara pecah seketika.


"Victor pelit sekali dengan istrinya ?!!! Masa Honeymoon keJakarta ?? Keluar negeri dong.. Astaga pria itu.." Tutur Amara.


"Jangan sembarangan, ini permintaan istrinya. Istrinya hanya mau keJakarta saja.."balas Haikal.


"Benarkah ?? Kenapa aku tidak percaya ??"


"Besok jika bertemu tanyakan saja pada Istrinya Victor..kau ini.."ucap Haikal seraya melangkah masuk kedalam kamar mandi.


Amara memayunkan bibirnya lalu kembali menempelkan benda pipih yang sejak tadi ia abaikan.


Sebuah teriakan memekik telinga Amara. "Amara !!!!"


"Apa sih Nin.. Kau teriak-teriak terus ?!!"


"Kau ini tuli ya, Masak telfonan dicuekin sih akunya.."Protes Nindi yang juga sahabat Amara.


"sorry.. Haikal baru pulang. Dia memberitauku jika Victor keJakarta."Balas Amara.


"Benarkah ?? Untuk apa bajingan itu kemari ?? Jangan-jangan mau merayumu lagi.."Ucap Nindi yang memang kesal pada Victor.


"Jangan sembarangan !! Victor sudah tidak seperti itu. Dia bersama istri mudanya."Timpal Amara.


"Kau harus hati-hati Am..Biar bagaimanapun kalian ini mantan suami istri, aku takut kau tergoda lagi dengannya.."Pesan Nindi seolah tak.ingin sahabatnya terganggu.


"Nindi.. Berhenti berkata hal seperti itu..Victor yang sekarang sangat berbeda dengan yang dulu..Kau jangan terus menghujat dia. Dan lagi, Dia sekarang sudah memiliki istri. Kehidupan dia sudah lebih baik."Tutur Amara.


"Aku sama sekali tidak menyangka, Kau bisa baik pada pria bajingan itu."Sanggah Nindi.


"Suamiku yang mengajariku Nin, Dan aku sangat berterima kasih padanya. Dia sangat hebat dalam membuat sebuah keutuhan persahabatan meski dulu saling membenci."Amara memuji Haikal dengan bangga.


"Terserah kau saja. Ya sudah aku tutup dulu.."Nindi langsung mematikan panggilannya. Amara sama sekali tak keberatan, ia pun langsung meletakkan kembali ponselnya dimeja.


Sebuah pelukan dirasakan Amara. Aroma sabun menyeruak membuat Amara yakin itu adalah aroma dari suaminya.


"Coba puji aku sekali lagi.."bisik Haikal ditelinga Amara


"Haikal.. Ini geli.."Amara menghindari.


"Ayo katakan sekali lagi.."Haikal semakin liar menciumi leher Amara.


"Eemm.."Amara yang tersentuh bagian sensitifnya langsung memejamkan mata, sensasi geli dan begitu tak bisa dijabarkan dengan kata-kata membuat Amara terbuai dan akhirnya keduanya mengarungi surga dunia disore hari.


.


.


.