Little My Wife

Little My Wife
terlihat muda dan menggemaskan



Bab 85


.


.


.


Nasywa dan Victor berkeliling Mall dan juga pusat oleh-oleh untuk membeli beberapa barang.


tak luntur sedikitpun senyum diwajah kedua orang itu. Bahkan Victor tak malu sedikitpun saat Nasywa memintanya mengenakan Bandok Bergambar boneka.


Seolah tak mau menyakiti hati istrunya, apapun permintaan Nasywa Victor selalu menurutinya.


Tanpa sengaja, ternyata Haikal Dan Amara serta kedua anak mereka juga ada disana.


Gea yang melihat papinya buru-buru memberitau Haikal. "Daddy.. Itu papi Victor bukan ??" tunjuk Gea.


"Mana.."Haikal mengikuti telunjuk Gea.


"Ya ampun pria tua itu.. Bagaimana bisa dia memakai bando seperti itu.."Ucap Amara


Haikal menyeringai karna tau pasti itu permintaan istri Victor yang sedang hamil muda.


"Yuk kita temui papi.. "Ajak Haikal. Gea menggangguk dan menggandeng lengan Gea mendekati Victor dan Nasywa.


.


.


"Baby... Bisa tidak bandonya sudah, ?? Em..aku Sedikit pusing.."Ucap Victor merayu Nasywa. Ia sadar banyak orang memperhatikan dia.


"masa hanya bando sampai membuatmu pusing..biarkan dulu.. Kau lucu jika memakai itu.."balas Nasywa.


"Papi.. Mami.."sapa Gea.


"Gea sayang.. Disini juga.."balas Nasywa yang begitu antusias saat melihat Gea dan kedua orangtuanya.


"Bibi.."sapa Nasywa.


"hay nasy.. Kalian jalan-jalan ya.."Balas Amara.


"iya bik. Soalnya besok kami sudah kembali."Nasywa pun begitu bersemangat.


Haikal terus menatap Victor dengan tatapan ejekannya. Meski tak terlontarkan, Victor faham betul maksud tatapan temannya itu.


"Papi lucu sekali pakai bando itu.."Ucap Gea.


"Iya Vic, kau terlihat muda."tambah Amara


Victor kesal bukan main.


"Iya, Aku yang memintanya memakai itu. Terlihat lucu.."Senyum lebar Nasywa muncul.


Victor kali ini hanya bisa pasrah menjadi bahan ejekan semua orang tersayangnya.


.


.


.


Disisi lain, Ani dan Roger lama kelamaan juga menjadi dekat. Karna memang Roger sekarang bekerja diKantor dan sering menemani Ani saat menemui Klien.


Wisnu dipercaya mengelola Apartemen, Hingga Ani tak punya Pilihan lain selain membawa Roger. Meski begitu Roger selalu bisa diandalkan. Dalam diam, ternyata Ani cukup menganggumi kepandaian Roger. Padahal Roger hanya seorang arsitek, namun nyatanya pekerjaan kantor bisa diselesaikan olehnya hanya beberapa hari saja.


Siang itu, Setelah menemui Klien, Roger mengajak Ani makan siang bersama. Mereka yang kini sudah akrab, seolah tak merasa canggung lagi sesekali bercanda dan bertukar fikiran.


"Aku yakin, Jika Victor kembali dan mendapat laporan tentang kau, pasti kau akan naik jabatan dengan cepat."Ucap Ani seraya menikmati makanannya.


"Kau terlalu berlebihan. Tuan Victor bukan orang yang mudah."balas Roger.


"Kau benar. Aku juga tidak ragu jika kau pilihan dia. Karna semua pilihan dia adalah yang terbaik."timpal Ani dengan senyumnya.


Roger begitu menganggumi senyum manis Ani. Hingga ia tak henti-hentinya menatap lekat Ani.


"Berhenti menatapku seperti itu. Aku jadi tidak enak mau makan.."Ucap Ani saat sadar diperhatikan oleh Roger.


"Kau terlalu cantik. Aku sampai bingung bagaimana caranya mengungkapkannya."balas Roger.


Ani menjadi salah tingkah dengan ucapan Roger.


"Sejak kapan kau pandai menggombal ?? Aneh.."wajah Ani tiak bisa dikondisikan. Pipinya memerah dengan ucapan Roger tadi.


"Kurasa sejak aku mulai mengenalmu."Roger dengan berani meraih jemari Ani. "Apa aku boleh bicara jujur ??".


"Ya bicara saja. Ada apa ??" Balas Ani. Jantungnya berdetak dengan cepatnya.


"Jujur, aku mulai menyukaimu. Mungkin karna kita terbiasa bersama dan juga karna kau bisa meruntuhkan tembok yang menghalangi hatiku, setelah penghianatan dari mantan istriku dulu. Sejak kemarin aku ingin mengungkapkannya, tapi aku ragu apa aku pantas denganmu ?? Aku hanya seorang duda, dan hanya seorang arsitek. Sementara kau, Kau direktur keuangan disebuah Perusahaan ternama. Kau memiliki karir yang cemerlang, Tapi Akan lebih baik diungkapkan seperti ini dari pada terpendam."Terang Roger dengan tenang dan Jelas.


Ani menggigit bibir bawahnya seraya tertunduk. Ia bingung harus menjawab apa. Perkataan Roger begitu banyak sekali. Sampai membuat Ani terpatung dalam kebingungan.


.


.


.