
Bab 31
.
.
.
"Huh.. Gara-gara siVictor ini aku sampai hampir tersedak."Ucap Wisnu yang sudah mulai bicara.
"Jangan salahkan orang lain. Itu salahmu sendiri, makan tidak pelan-pelan. Lagian Victor juga tidak disini !!?" timpal Ani.
"Eh An, tadi aku melihat kejadian yang langka."Wisnu begitu serius.
"Apa ?? Jika bukan hal penting aku akan memukulmu !!" Ancam Ani.
"ini penting sekali, Kau tau. tadi ada seorang gadis muda kekantor kita, dia mencari Victor"Tutur Wisnu.
Ani seketika menghentikan minumnya. Ia menatap wisnu seolah ingin tau lebih lagi.
"Victor terlihat akrab dengan gadis itu. Memang sih gadis itu cantik, tapi jika itu kekasihnya Victor terlihat tidka mungkin, Karna masih muda sekali An.."Tambah Wisnu.
Ani susah payah menelan ludahnya. Ia sudah menduga jika itu pasti Nasywa yang datang berkunjung.
"Em.. Untuk apa gadis itu menemui Victor ??" tanya Ani ragu-ragu..
"Katanya mengantar makan siang. Aneh kan ?? Untuk apa seorang gadis muda mengantar makan siang untuk Victor jika mereka tidak ada hubungan apapun ??! Kita kan tau, Victor tidak punya keponakan wanita."Tambah Wisnu lagi.
Ani benar-benar tidak tau harus bicara apa. Ia memilih langsung berdiri saja.
"Eh.. Eh.. Kau mau kemana ??" cegah Wisnu.
"Aku ingat ada pertemuan dengan Klien siang ini. Aku duluan."Ani segera meninggalkan Wisnu.
Wisnu mengingat-ingat. "Jika bertemu klien pasti bersama Victor. Ah, Aku tau Ani pasti penasaran dengan gadis yang aku katakan. Ikuti dia ah.."Wisnu segera melenggang mengikuti Ani.
.
.
Victor mengantar Nasywa sampai tiba diLobby. Senyum dibibirnya tak luntur sedikitpun bahkan jemarinya juga tak lepas dari pautan dengan jemari Milik Nasywa.
"Paman seharusnya tidak perlu repot begini. hanya turun aku bisa sendiri." ucap Nasywa sembari terus berjalan.
"Tidak apa. apa mau kuantar pulang dulu ??" Tawar Victor.
"Ah tidak usah. Paman kan harus kerja lagi. Aku mau mampir kesupermarket nanti."Nasywa membalas sembari meminta ijin.
"Oh ya ?? Baiklah. Tunggu.."Victor mengeluarkan dompetnya dan mengeluarkan sebuah card dan segera menyodorkan pada Nasywa.
"Nah Ambillah. Bukan blackcard, tapi jika hanya untuk kau senang senang dan belanja tidak akan habis."Ucap Victor.
Nasywa melihat card debit itu. Lalu beralih menatap Victor. "Sepertinya tidak perlu paman. Uang yang paman kasih untuk belanja masih kok."
"Biarkan saja. Ini memang jatahmu."Victor mencondongkan tubuh dan berbisik ditelinga Nasywa. "Kau istriku. Aku wajib menafkahimu. Terima saja. Jika sekarang tidak butuh, lain waktu kan akan berguna."Setelah berbisik seperti itu Victor meletakkan card ditangan Nasywa.
.
Nyeri sekali dada Ani, namun ia terus menyadarkan diri jika Victor milik keponakannya.
Nasywa tersenyum menunduk saat Victor menggodanya dengan candaan. Hingga saat Nasywa menatap kearah lain, Nasywa melihat Ani.
Sontak gadis itu langsung memanggil sang Bibi.
"Bibi Ani.."Nasywa berlari menghampiri Ani yang masih mematung.
Victor mengikuti Arah tujuan Nasywa. Ia hanya mengikuti Nasywa dari belakang.
Ani menerima pelukan dari Nasywa dengan kasih sayang.
"Kau naik apa tadi ?? Bisa sampai disini ??" tanya Ani saat pelukan terlepas.
"Naik taksi bik, Bibi sudah sehat ??" Tanya Nasywa.
Ani menggangguk dengan senyumannya. "jika belum pasti bibi belum ngantor."
"Syukurlah. Aku baru mau menemui bibi."ucap Nasywa.
keduanya saling berbalas senyum.
"Lalu sekarang mau kemana ??" TanYa Ani.
"Tentu saja pulang. Paman Victor kan harus kerja."jawab Nasywa penuh semangat
"Kau mau mengantar Nasy vic ?? Jika iya, aku akan menemui klien terlebih dulu, kau bisa menyusul."Ani beralih menatap Victor.
"dia menolak aku antar. Sebenarnya aku cukup kawatir padanya."Balas Victor.
"Aku hanya tidak mau merepotkan paman saja. Lagian paman kan juga harus bekerja."Nasywa menimpali.
"kau yakin ?? Hati-hati ya dijalan.."pesan Ani.
"Pasti bik.. Ya sudah aku pulang dulu ya.. Bye.."Nasywa segera melambaikan tangan berpamitan.
Victor terus menatap kepergian Nasywa dengan seksama. Meski Nasywa sudah cukup jauh, namun Victor masih tetap berdiri ditempatnya memperhatikan istri kecilnya. terlihat Victor tidak rela melepas Nasywa.
Ani yang melihat itu seketika tertunduk dengan senyum kecutnya.
"Jika tidak tenang. Ikuti saja dia."Ucap Ani.
"Kau ini. Ayo lah."Victor langsung membalikkan tubuhnya menuju ruangan mitting guna menyiapkan bahan pertemuannya dengan Klien.
.
.
.