
Bab 6
.
.
.
Jabatan tangan mengakhiri pertemuan Victor, Wisnu dan Ani guna meresmikan tanda kerja sama mereka dengan perusahaan asing itu.
Senyum lebar jelas terlihat dari semua orang yang disana.
Apalagi Wisnu, Goal dalam tender yang ia begitu inginkan akhirnya terwujud dan akhirnya akan ada party diApartemen Mewah Horison.
Saat Klien mereka sudah pergi, wisnu berjingkrak ria.
"Aahh.. Akhirnya, party time "
"party Time ?? Siapa yang akan party ??" Tanya Ani.
"Tentu saja kita. Ini tendder besar loh An, Kau pelit sekali sih.."Balas Wisnu.
"Memangnya dia mau ??" Ani menunjuk Victor dengan wajahnya.
" Tentu saja. Iya kan Vic ??" Wisnu merangkul pundak Victor.
"Terserah kalian. Aku mau melihat proyek."Victor langsung berdiri dan meninggalkan Wisnu juga Ani.
Ani hanya bisa menatap kepergian Victor, seperti itulah Victor saat ini.
"An..Victor kenapa jadi seperti itu ya ?? Aku heran ada apa dengan anak itu ??" Wisnu berceloteh.
"Kau bilang berteman dengannya sudah lama. Kenapa masih tanya !!? Kau yang akan mengadakan party, Urus semuanya, aku hanya tinggal bayar saja."Ani berkata demikian kemudian segera berdiri dari duduknya.
Meski ditinggalkan wisnu begitu girang. Idenya diterima ia pun langsung sibuk dengan ponselnya merancang acara party yang akan dilaksanakan.
.
.
Sementara Diapartemen Nasywa dibuat terkejut dengan kedatangan sang papa. Untung saja saat dia jalan-jalan ia tak sampai berpapasan dengan papanya.
Nasywa bersembunyi dibalik pilar besar mengawasi kemana sang papa akan pergi.
"Bagaimana dia tau aku disini ?? pria itu.. Aku menyesal menyebutnya papa.."Gumam Nasywa yang terus memperhatikan.
Bisa terlihat jelas ada yang menunjukkan arah kepapanya Nasywa. Hingga mereka semua menaiki lift.
.
.
Ani mempercepat langkahnya memasuki apartemen huniannya. Setelah dikabari Nasywa, Ani menjadi tidak tenang. Ia sangat takut jika sang kakak ipar menemukan Nasywa mengingat sifat arogan kakak iparnya itu. Untung saja, pertemuan dengan Klien tadi tidak begitu jauh dari Apartemennya hingga Ani tiba dengan cepat.
"Bibi.." panggil Nasywa yang melihat Ani.
Aninlangsung menoleh dan mendekati Nasywa yang terus bersembunyi dibalik pilar.
Ani tak banyak bicara, Ia memilih menarik Nasywa dan membawa keponakannya itu keluar dari Ampartemen.
"Bibi kita akan kemana ??" tanya Nasywa.
"Pergi dari sini. Jika kau tetap disini., papamu pasti mudah menemukanmu."Ucap Ani yang terus menarik lengan Nasywa.
Patuh, Nasywa langsung masuk kedalam mobil setelah tiba bersama Ani.
Tak ada yang bisa Ani lakukan selain menghindar terlebih dahulu.
Nasywa sesekali melihat kebelakang, takut jika mereka sampai diikuti. Dan benar saja, Sebuah mobil hitam terlihat mengikuti laju mobil Ani.
"Bibi.. Kita diikuti.."Nasywa begitu ketakutan.
"Lihatlah, Papamu langsung tau kau aku bawa pergi.."Ani menambah kecepatan mobilnya.
Meliak liuk diantara padatnya jalanan.
Terus dan terus mobil itu terus mengikuti hingga Ani hampir frustasi.
"Ingat satu hal. Jika sampai kita terhadang, apapun yang terjadi jangan keluar. Usahakan mencari celah untuk kabur selama Bibi menghalau mereka."Pesan Ani.
"Bibi.. Anak buah papa menyeramkan semuanya.. Masa Bibi mah menghalau mereka ??" balas Nasywa yang tau betul bagaimana orang-orang sang papa.
"Bibi sudah biasa dengan semua itu.Pokoknya kau harus patuh, jika memang kau tidak mau dibawa pulang dan dinikahkan."Timpal Ani.
Nasywa dalam dilema besar. Ia begitu kawatir pada sang Bibi, namun ia juga tidak mau sampai tertangkap.
.
.
.