
Bab 35
.
.
.
.
Layaknya seorang istri, Nasywa kembali keruang kerja Victor dengan membawa secangkir kopi.
Balasan senyuman dari Victor membuat Nasywa sedikit salah tingkah.
"Diminum dulu kopinya paman.."Ucap Nasywa seraya meletakkan secangkir kopi disisi meja Victor.
"Iya. Terima kasih.."Victor segera menyeruput kopi itu. Nasywa yang memperhatikan merasa sangat bahagia, Victor begitu antusias menikmati kopi buatannya.
"Kau tidurlah dulu. Aku akan selesaikan sedikit pekerjaanku. Nanti aku menyusul."Ucap Victor yang membuat lamunan Nasywa buyar.
"Em.. Boleh kan Nasy temani ?? Maksudku, Aku sudah tidak mengantuk."Nasywa beralasan.
"Tapi kau bisa kurang tidur jika menemaniku ??"Balas Victor.
"Tidak masalah." Nasywa menuju sofa panjang disudut ruangan kerja Victor. "aku tunggu disini."Tambah Nasywa dengan senyum terkembang diwajahnya.
Hati Victor begitu sangat terhibur dan senang. Entah mengapa. Ia kemudian hanya bisa menggangguk seraya berkata. "Ya sudah. Rebahanlah jika kau lelah. Aku akan cepat"
"Ok.."Nasywa begitu antusias.
Victor sampai terkekeh dengan sikap Nasywa yang lucu itu
.
.
Mata Victor beralih pada Nasywa, Yang sudah tidak ada suaranya. Dan ternyata Sang pemilik raga sudah menuju mimpi. Tertidur pulas disofa panjang.
Victorpun segera berdiri dan menghampiri Nasywa. "Kau nekad sekali anak kecil.." gumam Victor yang kemudian mengangkat tubuh Nasywa perlahan guna dibawa kekamar.
Bukannya terbangun, Nasywa malah hanya mengeliat dan membenarkan kepala bersembunyi didada Victor. Mendusal seolah mencari kenyamanan.
Sontak Victor menghentikan langkahnya sebentar. "Anak ini, kenapa malah seperti itu..aku kan jadi tidak nyaman.."batin Victor.
biar bagaimana pun Victor adalah pria Dewasa normal. Dada adalah tempat paling sensitif baginya. Tak ingin terlena dengan keadaan, Victor segera mempercepat langkahnya untuk tiba dikamar.
dengan penuh hati-hati, Victor meletakkan Nasywa diatas ranjang. Setelahnya, Victor segera menyelimuti Tubuh nasywa. Baru saja Victor mengangkat selimut, Nasywa tiba-tiba mengingau dan menangis.
"Mama..mama..Maafkan aku.. Mama..aku merindukanmu.."Rintih Nasywa.
"Aku rindu ma..Hiks..hiks..hiks... Maafkan aku.."Lagi, Meski tak begitu jelas, namun Victor bisa mengerti.
Seketika Victor terduduk disisi Nasywa dan mengusap lembut kepala Nasywa. "Kasihan sekali kau.."
"Tenanglah.. Ada aku disini.. Tenang ya.."bisik Victor dengan lembut.
Nasywa yang masih dalam tidur dan mengigaunya, langsung memeluk tubuh Victor dengan erat. "Jangan pergi.. Aku mohon jangan pergi.."Ucap Nasywa masih dengan mata terpejam.
"Iya..iya.. Aku akan disini.. Tenang ya.."Victor memberikan ketenangan pada Nasywa dengan memeluk erat tubuh Nasywa. Usapan lembut Dari tangan Victor membuat Nasywa berangsur-angsur tenang. Hingga gadis itu kembali bernafas normal dan tertidur lagi.
Ciuman dilandaskan Victor dikening Nasywa. "Aku tidak tau rasa apa ini. Tapi aku benar-benar sangat nyaman bersamamu, bahkan hatiku sakit saat melihatmu menangis seperti ini. Tapi aku ragu dengan perasaanmu, apalagi mengingat statusku, apa aku pantas memilikimu ???"Gumam Victor seraya menatap lekat wajah tenang Nasywa dalam dekapannya. Sementara Nasywa yang begitu nyaman hanya sesekali mengeliat dengan terus menyembunyikan wajahnya didada Victor. Seolah gadis itu sangat-sangat nyaman berada disana.
Sepertiga malam dilewati dua anak manusia itu dengan saling memberi ketenangan dan kehangatan. Victor pun tertidur dalam posisi yang begitu nyaman. Tak pernah selama ini ia bisa tidur senyenyak ini, begitupun dengan Nasywa yang sangat pulas dalam dekapan Victor, pria dewasa yang berstatus suaminya.
.
.
.