
Bab 33
.
.
.
Tiba dirumah, setelah membereskan semua belanjaannya Nasywa membersihkan diri lalu beristirahat. dan saat sore tiba, Nasywa bersiap untuk memasak makan malam.
Sadar atau tidak, Nasywa malah menikmati perannya sebagai seorang istri. Seolah ia lupa jika Victor hanya sebuah alasan baginya menolak perjodohan.
Senandung kecil terus terlontar dari bibir mungil Nasywa saat ia melakukan aktivitasnya memasak. Masih dengan ditemani buku resep, Nasywa terus serius belajar.
.
.
Pukul 19.00 Victor masih berkutat didepan layar laptop.
Ia terus disibukkan dengan pekerjaannya yang sangat menumpuk.
Teringat Nasywa, Victor langsung mencari ponselnya yang sejak siang tidak ia pegang.
"Dimana ponselku ??" Gumam Victor sendiri seraya mencari terus, hingga ia menemukan ponselnya tergeletak disofa panjang miliknya.
"Syukurlah ketemu. Aku harus mengabari Nasywa. Nanti dia menungguku."ucap Victor sendiri. Namun sayang sekali, Ponsel Victor ternyata mati karna kehabisan daya.
"Bagaimana sampai habis begini.."Victor begitu sangat kawatir.
"Nasywa pasti menungguku.."ucapnya lagi
.
.
.
Dan benar sekali, Nasywa masih menunggu dimeja makan. Ia terus bermain ponsel agar menghilangkan kejenuhannya. Sesekali gadis itu melirik jam didinding memastikan jika waktu suaminya pulang tidaklah akan semalam itu.
Tak ingin membuat istri kecilnya menunggu atau kecewa, Victor memilih menyusun semua pekerjaannya dan membawa pulang. Ia buru-buru keluar dari ruangan dengan tas yang begitu penuh oleh berkas.
"Oh, kau juga belum pulang ya ?? Belum, aku bawa pulang saja. Kasihan Nasywa sendirian dirumah. Tadi siang dia bilang akan memasak makan malam, aku takut dia kecewa jika aku tidak makan dirumah."tutur Victor seraya terus melangkah menuju lift untuk pulang.
Ani hanya bisa menatap kepergian Victor. "Dia sangat perhatian. Nasywa sangat beruntung."Gumam Ani sendiri.
.
Nasywa tertidur dimeja makan karna matanya terasa lelah akibat bermain game diponselnya. Saat Victor sampai, Rasa bersalah Victor semakin besar kala melihat Nasywa yang meletakkan kepala diatas meja sembari memejamkan mata.
Buru-buru Victor meletakkan semua bawaannnya dikursi lalu mendekati Nasywa.
"Kasihan sekali..dia benar-benar memasak."Gumam Victor yang kemudian mencoba membangunkan Nasywa perlahan. "Nasy.. Nasywa, bangun.."
Nasywa perlahan membuka matanya, dan wajah tampan Victorlah yang pertama ia lihat. Sontak Nasywa langsung terperajak.
"Oh.. Paman sudah pulang ya ?? Maaf aku ketiduran.."Nasywa berusaha segera sadar.
Victor tersenyum tipis lalu duduk disisi Nasywa. Memegangi tangan Nasywa hingga pemiliknya sedikit deg-deg an.
"Maafkan aku ya, kau sampai ketiduran karna menungguku..Ponselku mati, jadi aku tidak bisa memberimu kabar.."Ucap Victor dengan serius tanpa melepas tatapannya pada Nasywa.
"Oh.. Tidak masalah paman.."Nasywa membuang tatapan dengan pura-pura melihat jam didinding. "Ini juga baru jam 20.10. Lain kali aku akan bertanya pada paman, jika paman lembur kan aku bisa menyiapkan malam saja."Tambah Nasywa.
Victor begitu terenyuh dengan pengertian nasywa. Hal itu semakin membuat sesuatu dalam hati Victor terus tergelitik.
"baiklah.. Apa kau mau menemaniku makan ?? aku benar-benar sangat lapar."Victor menccoba mencairkan suasana.
"Tentu saja."Nasywa nampak semangat hingga keduanya segera memulai makan malam.
"Sudah mulai dingin..apa aku panaskan ya ??" Tawar Nasywa.
"Tidak usah. Aku bisa makan makanan dingin atau panas. Asal bersamamu."Balas Victor seraya memegangi lengan Nasywa. Mencegah Gadis itu.
Nasywa hanya tersenyum saat mendengar perkataan Victor. Entah sadar atau tidak, Nasywa juga mulai merasakan kenyamanan jika dekat dengan Victor. Namun karna memang usianya yang masih begitu muda, Nasywa tak begitu memikirkan semua hal itu.
.
.
.