
Bab 82
.
.
.
Sejak malam itu, Nasywa banyak sekali melamun. Ia tak begitu banyak bicara seperti sebelumnya. Victor pun nampak tak curiga karna Victor fikir itu semua adalah bawaan calon bayi mereka.
Dua hari, Nasywa tak mau keluar dari rumah. ia banyak berdiam didepan kolam renang dengan menatap jauh kelangit.
Ajakan Victor selalu ditolak halus oleh Nasywa agar jangan sampai suaminya kawatir ataupun berfikir macam-macam.
Segelas jus Disodorkan Victor dihadapan Nasywa, "Minum jus buah sayang.."
Nasywa membenahi duduknya dan segera menerima Gelas berisi jus buah buatan Victor.
"Terima kasih.." balas Nasywa.
"Sama-sama. Apa kau tidak bosan dirumah terus ?? Kau tidak mau kepanti atau jalan-jalan keMall, atau ketaman misalnya.. Cutiku tinggal seminggu lagi, aku takut nanti kau tidak punya banyak lebih waktu untuk menikmati kota Jakarta."Tutur Victor.
Nasywa meletakkan gelas kosong yang isinya sudah berpindah tempat diperutnya.
"Hubby.. Bisakah kita tinggal disini lebih lama ?? Sampai aku benar-benar ingin pulang ??" Tatapan Nasywa penuh permohonan.
"Memangnya kenapa ??" Victor membelai pelan surai rambut Nasywa.
"apa ada sesuatu yang mengganggu fikiranmu ??"Tambah Victor.
Nasywa langsung tertunduk lalu menggeleng. Ia bersandar didada Victor. "Tidak. Hanya saja aku masih ingin disini.."
"Baiklah.. Kita akan tetap diJakarta sesuai keinginanmu.."balas Victor dengan cepat. Ia pun mendekap tubuh Nasywa dengan erat.
Nasywa menatap kosong kedepan. "kenapa aku terus kefikiran foto itu ?? Apa aku harus menanyakan padanya saja ??" batin Nasywa dengan gusar.
.
.
Saat memastikan Nasywa sudah tidur. Victor keluar kamar dan segera menghubungi seseorang.
Tutt...
Tutt..
"Halo, ada apa Vic ??"
"mau ketemu ??" tawar Haikal.
"Tidak usah. Aku akan bicara lewat ponsel saja. Kau tidak sibuk kan ??" Balas Victor.
"Aku ini pengangguran kaya raya, aku hanya sibuk membantu Amara mengurus anak-anak."Timpal Haikal dengan bangga.
"Cih.. "
"Memang ada apa ?? Tentang istrimu atau kantor ?? Jangan difikirkan, kau nikmati saja masa cutimu. Kantorku tidak akan bangkrut meski kau mengambil cuti 2 bulan."Celoteh Haikal.
"Ini masalah Nasywa.."Ucap Victor.
"Hmm.. Dia kenapa ??"
"Nasywa hamil Haikal.."
"Wah.. Cepat sekali.. Selamat ya, akhirnya kau punya anak juga.."Ucap Haikal ikut bahagia.
"Tapi permasalahnnya dimana ?? Itu kabar bahagia harusnya kan ??"haikal tersadar
"Nasywa masih ingin disini sampai tidak tau kapan. Aku tidak mungkin menolak keinginan dia."Victor mulai menerangkan.
"Ya sudah kau disini saja dulu apa susahnya ?!?" Timpal Haikal.
"Ini aneh Haikal.. Nasywa selalu memikirkan pekerjaanku selama ini, tapi kenapa kali ini tidak ?? Apa karna bawaan calon bayinya itu ?? Atau karna sesuatu ??"
"ya mana aku tau..Aku juga tidak pernah hamil." Balas Haikal dengan cepat.
"issshhh..Solusinya Haikal.. Kau ini.." timpal Victor dengan geram.
"Baiknya kau tanyakan saja pada dia. Saling terbuka itu lebih baik. Mood ibu hamil memang sedikit aneh. Tapi semua pasti ada pemicunya. Kau cari tau saja apa pemicu yang membuat istrimu menjadi begitu."Nasehat Haikal.
"Aku takut dia kefikiran masa laluku.."Ucap Victor lirih.
"Vic,semua orang punya masa lalu. Usia istrimu memang masih sangat labil dalam menghadapi sebuah masalah. Jadi kau harus banyak-banyak sabar."Tambah Haikal.
"Dia juga rada aneh. Banyak diam dan tidak terlalu saat melihatku.."Victor juga menambahi.
"Sudah kukatakan kan ??!! Mood Ibu hamik itu berubah-ubah. Kau harus sabar. Dan yang paling penting, kau harus katakan masa lalumu semuanya padanya, jangan sampai dia hanya mendengar dari kata orang. Meski pahit dan masa lalumu memang menjijikkan, setidaknya kejujuran akan lebih baik. Kalian sudah menjadi suami istri, saling terbukalah.."
Victor menggangguk dengan terus menerangkan nasehat sahabat lamanya itu. Setidaknya ia tidak memikirkan masalahnya seorang diri.
.
.