Little My Wife

Little My Wife
jangan bahas dia



Bab 80


.


.


.


"kita beli susu sekalian ya ??"Ajak Victor saat mereka sudah berada didalam mobil.


Nasywa menggangguk pelan. "Tapi kau saja ya yang turun.. Aku lemas sekali.."


Victor mengusap pipi Nasywa. "Kasihan sekali istriku. Mumpung diluar, kau ingin makan apa ? Kita beli sekalian.."


"Aku juga tidak tau hubby.. Rasanya malas saja kalau harus makan. aku hanya ingin tidur.."balas Nasywa.


Victor menerbitkan senyum lebarnya. "Baiklah.. Tidurlah sayang, Sabar ya, dokter bilang ini wajar terjadi diusia kehamilan dini seperti ini."


Nasywa hanya menggangguk saja. Ia kemudian membenahi duduknya dengan bersandar, lalu mulai memejamkan kedua matanya.


.


.


Sampai tiba dirumah pun Nasywa betah dengan mata terpejamnya. Victorpun dengan telaten menggendong tubuh Nasywa untuk masuk kedalam rumah.


Ternyata Mama Arina sudah menunggu diteras.


Tak ada percakapan, karna keduanya tidak mau sampai Nasywa terbangun. Arina membantu Victor membukakan pintu, dan Victor pun segera masuk kedalam rumah lebih dulu. Tujuannya langsung kamar, ia tidak mau sampao Nasywa terganggu tidurnya.


Selesai membaringkan Nasywa, Victor keluar guna menemui Mama mertuanya


"Apa Nasywa masih muntah terus ??" tegur Arina saat melihat Victor turun dari tangga.


"Hanya pagi. Tadi dokter juga sudah memberi obat. Semoga saja sedikit berkurang."balas Victor.


"Syukurlah, Mama buatkan sup Ayam kesukaan Nasywa."Arina menunjukkan kotak bulat yang ia bawa.


"Terima kasih..Mama seharusnya katakan saja kesukaan Nasywa aku bisa buatkan.."Balas Victor yang duduk berhadapan dengan Arina.


Arina terkekeh mendengar Victor memanggilnya mama. Sangat lucu memang.


"Tapi kenyataannya kau mama mertuaku. Masa iya aku memanggilmu kakak seperti dulu."Timpal Victor. Keduanya tertawa bersama.


"Vic, terima kasih telah menjaga putriku."Arina


"Aku baru mulai menata masa depan. Semoga kau tidak menyamakan dengan masa laluku.. Kau mertuaku, Kau berhak menegurku jika aku memiliki kesalahan."Tutur Victor.


Arina menggangguk pelan. "Aku sama sekali tidak menyangka kau bisa berubah sedrastis ini. Kau bisa mematahkan anggapan jika berselingkuh itu adalah penyakit yang tidak bisa sembuh."


"Jika mengingat masa laluku, aku merasa jijik dengan diriku sendiri. Andai aku tidak melakukan kebodohan-kebodohan itu, aku rasa rumah tanggaku tidak akan berantakan. Dan.."


"Dan kau tidak akan menjadi narapidana. Maafkan aku yang memenjarakanmu dulu.."Timpal Arina.


"Aku berhak mendapatkannya ma.. Tidak apa-apa. Dari situ aku mulai mengenali diriku yang sebenarnya."Balas Victor.


"Oh ya. maaf jika pertanyaanku sedikit menyangkut masa lalu. Aku dengar dulu kau akan menikah dengan Istrinya Jakson. Kemana dia sekarang ??"


Victor terdiam seketika. Miranda, wanita yang telah bertahun-tahun menjadi selingkuhannya dulu.


"Dia sudah meninggal."balas Victor lirih.


"Oh.. Maafkan aku, aku tidak tau."Arina buru-buru menimpali.


"Tidak masalah. Dia hanya masa laluku. Dan ma, aku mohon jangan bahas dia didepan Nasywa ya. Biar bagaimanapun, Hubunganku dengan Miranda dulu adalah hubungan yang terlarang yang begitu berdosa. Aku tidak mau Nasywa berkecil hati atau sampai sakit hati."Terang Victor.


"Kau sangat faham sekali Sifat Nasywa ya.. Maklumilah Vic, Usia Nasywa itu memang masih sangat labil untuk hal-hal seperti itu."Balas Arina.


"Aku sangat memakluminya ma..Aku hanya tidak mau dia berfikir macam-macam diusia kandungannya yang masih muda, mama tau sendiri kan Ibu hamil dilarang stres."


"Iya..iya.. Kau tenang saja.."Arina begitu setuju dengan permintaan Victor.


Namun tanpa disadari, Ternyata sejak tadi Nasywa mendengarkan percakapan suami dan mamanya itu. Nasywa mengurungkan niatnya untuk turun, ia kembali kekamar dengan perasaan tak menentu.


.


.


.