
Bab 29
.
.
.
Dengan menaiki taksi, Nasywa tiba dikantor megah nan mewah dimana Victor bekerja. Tidak ada yang memberitau Nasywa, Nasywa hanya membaca kartu nama Victor yang tertinggal dirumah.
"Ya ampun.. Gedung ini besar sekali.. Lebih besar dari milik papa.."Gumam Nasywa yang masih berdiri didepan Kantor.
"Tapi salah tempat tidak ya ??" Nasywa membaca kembali kartu nama Victor dan kemudian melihat keLogo besar diluar.
"Tidak. Ok, kita masuk.."Nasywa masuk dengan senyum terhias diwajahnya.
Tiba didalam tujuan Nasywa adalah resepsionis guna menanyakan dimana tempat Victor bekerja. Nampak beberapa karyawan mulai keluar guna melakukan makan siang.
Nasywa yang tersenyum manis.
"Selamat siang. Ada yang bisa dibantu ??" Tanya sang resepsionis.
"Em.. Saya mau keruangan Paman Victor. Dimana ya ??" Tanya Nasywa balik.
"Maksudnya tuan Victor ya ?? Maaf sebelumnya, anda siapanya beliau ?? Setau saya beliau tidak punya saudara disini ??" Sang resepsionis malah bertanya lagi.
Nasywa menggigit bibir bawahnya. "Apa yang harus aku katakan ?? Masa aku katakan aku istrinya, kan tidak lucu."batin Nasywa.
"Em.. Saya hanya mau mengantar makan siang, Bisa kan ??" Ucap Nasywa beralasan.
"Oh.. Nona ini kurir makanan ya ?? Silahkan dititipkan disini saja Nona. Nanti saya akan antar."Balasnya.
"Bukan !!? Saya bukan kurir..saya mau mengantar sendiri makanannya."Nasywa mulai jengah.
"Tapi maaf nona. Orang asing dilarang masuk keruangan khusus milik tuan Victor."Timpalnya.
Nasywa mendesah dengan kesal. "Aku bukan orang asing !!!" rengek Nasywa.
"Maaf Nona.. Sekali lagi..-"
"Kau disini ??" suara familiar terdengar ditelinga Nasywa, hingga gadis itu segera menoleh.
"Paman.."Senyum Nasywa terbit seketika dan menghampiri Victor yang dibelakangnya ada wisnu.
Sang resepsionis menunduk hormat saat menyadari atasannya ada disana.
"Bagaimana kau sampai disini ??! Naik apa tadi ??" tanya Victor dengan bernada kawatir. Mengingat Nasywa tidak pernah keluar dari apartemen, dan juga Nasywa belum ada ada dikota itu.
"Naik taksi. Aku melihat alamat tempat kerja paman dikartu nama paman yang dirumah."Balas Nasywa dengan jujur.
Victor mengusap rambut Nasywa dengan bernafas lega. "Kenapa tidak telfon saja jika ingin kemari, Aku kan bisa jemput."
Victor mengikuti Tatapan Nasywa. Sudut bibirnya langsung terangkat dan hal itu membuat Wisnu begitu terkejut. Victor bisa seakrab itu dengan wanita muda ??
"Kau yang masak ??" tanya Victor seraya mengambil alih kotak makan yang ada ditangan Nasywa.
Nasywa menggangguk. "Tapi kalau rasanya tidak enak jangan marah ya, Soalnya aku masih belajar.."
senyum Victor melebar dan dengan lembut mengacak pucuk rambut Nasywa.
"Baiklah. Kita makan bersama diruanganku saja. Ayo.."Tanpa peduli pada Wisnu dan Resepsionis yang terpaku melihat kedekatan Victor dengan gadis muda itu, Victor melenggang menarik Nasywa menuju ruangannya.
Setelah Victor masuk kedalam lift lagi barulah Wisnu sadar. "Apa itu tadi bos kita sungguhan ?? Benarkah dia bisa seakrab itu ??" Wisnu bertanya pada Resepsionis.
"Apa anda juga bermimpi tuan ?. Tentu saja itu tadi bos besar."Balas resepsionis membuat Wisnu sedikit tersindir.
" Kau ini !! Tidak berguna !!" wisnu langsung melenggang keluar. karna memang cacing diperutnya sudah minta diberi makan.
.
.
Didalam lift Nasywa terdiam menunggu sembari melihat jalannnya Lift kelantai berapa.
Tangan Victor pun juga tidak melepas genggamannya dari tangan Nasywa. Entah sadar atau tidak, Nasywa sendiri cukup merasa tidak enak.
"Em.. memang ruangan paman dilantai berapa ??" tanya Nasywa ragu-ragu.
"Dilantai teratas. Lantai 38. Lain kali kalau kemari langsung masuk lift saja dan tekan tombol 38, kau akan langsung sampai ruanganku."Terang Victor dengan lembut.
"Tertinggi ?? Kenapa sama seperti diapartemen ??"Nasywa terkejut.
"Ya mau bagaimana lagi. Sudah diatur bosnya."Timpal Victor.
" Lalu bibi Ani ?? Dia dilantai berapa ??" Tanya Nasywa lagi.
"Ani dilantai 36. apa kau mau menemuinya ??" Tawar Victor.
"ah.. Mungkin bibi masih makan siang. Paman kan harus makan siang dulu. Nanti kalau aku mau pulang aku akan mampir keruangannya."Balas Nasywa.
"Kenapa kau jadi perhatian sekali dengan suamimu ??" Victor cukup penasaran.
"Oh.. Itu.. Em.."Nasywa bingung akan beralasan apa.
"Tapi aku senang. Terima kasih perhatiannya. "Meski tak mendapat jawaban dari Nasywa, Victor tetap begitu terlihat sumringah.
Nasywa pun hanya bisa membalas senyuman Victor dengan manisnya.
.
.