
Bab 94
.
.
Entah karna bawaan bayi atau bagaimana, Nasywa tetap ngeyel ikut kekantor. Meski ia tau pasti akan membosankan Namun Nasywa begitu ngotot.
Nasywa dan Victor Tiba dikantor, Tanpa sengaja bersamaan dengan Ani dan juga Roger yang juga baru datang. Hal itu mengundang kekesalan Victor, apalagi ia cukup malu saat Nasywa memintanya memakai Jas warna merah.
Ani juga cukup terkejut Karna tak biasanya Victor memakai jas berwarna. Namun Ani tak berani menegur Suami keponakannya itu.
Roger menunduk hormat saat sudah dekat dengan Victor dan Nasywa.
"Selamat pagi tuan.. Nona.."
"Ah.. Jangan sampai seperti itu. Aku tau kau kekasih bibiku, nanti jika kalian sudah menikah pangkatmu akan naik menjadi pamanku.."Tutur Nasywa dengan penuh semangat.
Roger hanya mampu tertunduk dengan ucapan istri atasannya itu.
"Tumben kau datang siang An ?? Kau juga Roger.."Tegur Victor tanpa basa basi.
"Maaf tuan, Jalanan macet. dan saya harus menjemput Ani."Balas Roger.
"Sudahlah.. Biarkan saja. Kau katanya ada rapat pagi ?? Mau berangkat sekarang ??" Tanya Nasywa.
"Lalu kau bagaimana ??" Balas Victor yang begitu Tak mau istrinya sendiri.
"aku tunggu diruanganmu. Tidak apa-apa.."Timpal Nasywa.
"Lagian kenapa kau ikut suamimu sepagi ini Nasywa ??"Tambah Ani.
"Entahlah bik. Aku ingin sekali ikut kekantor.."Nasywa membalas dengan mudah.
"Aku antar kau keruanganku dulu.."Ajak Victor. Dan Nasywa begitu patuh.
"Kalian tunggu saja disini. Kita langsung berangkat setelah aku mengantar Istriku."Pesan Victor pada Ani dan Roger.
Ani dan Roger menggangguk patuh pula. Namun sebelum itu Aninmenyodorkan berkas pada Victor. "Ini titipan Wisnu. Katanya kau sulit diajak bertemu."
Melihat Victor begitu posesif dengan istrinya Roger memuji atasannya itu. "Tuan Victor sayang sekali ya dengan istrinya ??"
"Tentu saja. Syukurlah, kegagalan dipernikahan sebelumnya membuat dia menjadi lebih baik."Balas Ani.
"pantas semua karyawan wanita begitu mengidolakan Tuan.."Tambah Roger.
"Bahkan melihat wanita cantik saja Tuan enggan."Lagi Roger melayangkan pujiannya.
"berhenti memujinya. Kau bisa jatuh cinta padanya nanti.."Canda Ani seraya duduk dilobby dimana ia tengah menunggu Victor. Roger tersenyum lebar mengikuti Ani duduk.
"Aku heran. kau bisa tidak tertarik padanya ?? Mengingat kalian kan couple pengusaha yang terkenal..?? Pasti sering bekerja bersama kan ??" Entah mengapa Roger tiba-tiba menanyakan hal itu.
Ani seketika terdiam beberapa saat. Lalu ia menerbitkan senyumnya. "Terbiasa bukan berarti akan saling menyukai. Victor bukan pria yang mudah didekati wanita Setelah perpisahannya dengan istrinya dulu, dan setelah semua yang ia alami."
"Sudah, jangan bahas dia. Aku kesal sekali padanya, kau tau. Selama ini dia itu sering sekali memarahiku jika laporan keuanganku Selip atau keliru.Padahal aku dan dia sama jabatannya, tapi memang dia yang dipercaya penuh oleh pemilik asli perusahaan ini."Celoteh Ani.
"Kau semakin cantik jika mengomel begitu.."Puji Roger.
"Jangan merayu.."Timpal Ani dengan kedua pipinya yang memerah.
Roger tertawa ringan dengan tangan tak melepas genggaman dari jemari Ani.
.
.
"Tidurlah dikamar jika kau bosan. Kalau perlu sesuatu, hubungi mereka. Minta diambikan, kau jangan kelelahan. Ya ??" Pesan Victor yang posesif
"Iya hubby..Kau tenang saja. sana keluarlah, Kau sudah ditunggu dibawah."Balas Nasywa.
Ciuman dilabuhkan Victor dibibir, kening, dan kedua pipi Nasywa. Lalu yang terakhir Victor memeluk Nasywa.
"Aku pergi dulu.." pamitnya. Anggukan Nasywa mengiringi kepergian Victor.
.
.