
Bab 92
.
.
.
Victor kembali saat malam sudah datang. Ia cukup kesal karna harus melewatkan jam makan malam bersama istrinya, beberapa kali umpatan keluar dari mulut Victor untuk Wisnu yang berulah diapartemen.
Tanpa ragu, Victor memasuki rumah. Namun ia dibuat keheranan karna lampu didalam rumah yang semuanya padam.
"Apa Nasywa sudah tidur ?? Tapi tidak.mungkin.."gumamnya, Victor melanjutkan langkahnya. Minimnya pencahayaan membuat Victor merogoh ponselnya guna melihat jalan masuk.
Baru saja Victor akan menyalakan lampu Senter ponsel, Tiba-tiba lampu menyala.
Teeggg..
"surprize..."Nasywa berada dihadapan Victor dengan kue kecil ditangannya.
Tanda angka diatas kue itu membuat Victor sadar dan iapun tersenyum
"Selamat ulang tahun suamiku.."Ucap Nasywa dengan bahagia, ia terus mendekat dan kini tepat dihadapan Victor.
"Kau ingat hari ulangtahunku ??" Tanya Victor seolah tak percaya.
"Tentu saja. Meski sudah tua tetap aku ingat.."balas Nasywa.
Senyum Victor melebar dengan candaan istrinya.
"Ok. Hubby.. Sekarang panjatkan doamu.. Dan tiup lilinnya, Tidak usah menyanyi, Kau kan sudah tua.."tutur Nasywa. Yang membuat Victor kembali terkekeh.
"Baiklah.."Victor memejamkan kedua matanya, cukup lama dan akhirnya ia membuka matanya lagi.
"Ayo kita tiup sama-sama."ajak Victor.
"Kan ini hari ulangtahunmu..Kau saja.."Balas Nasywa.
"Tapi kau istriku. Atas doamu aku bisa panjang umur dan sehat."Timpal Victor.
Nasywa dibuat berbunga dengan ucapan singkat Victor barusan.
"Kita tiup sama-sama.." Dan Nasywa mengiyakan. Keduanya meniup lilin bersamaan.
Saat lilin padam, Victor langsung memeluk Nasywa dengan erat. Tak habis-habisnya rasa syukur ia panjatkan pada Tuhan, Dengan semua yang ia alami selama ini, Kini pertobatannya dibalas dengan sebuah kebahagiaan sesungguhnya.
"Eh..hubby, yuk kita kemeja makan.. Kuenya harus kau potong. Ini buatanku sendiri loh, kau harus mencobanya.."Ucap Nasywa seraya membuka pelukannya.
Tiba didepan meja makan. Ada sesuatu yang berbeda. Hanya ada dua kursi disana. Dengan desain dinner dan hiasan Lilin diatas meja.
"Sayang. Kapan kau siapkan semua ini ??" victor seolah tak percaya.
"Sejak siang tadi.. Aku hampir kuwalahan karna kufikir kau akan pulang cepat, tapi ternyata paman Wisnu membantuku, Dia mengajakmu keapartemen dulu, jadi aku tidak terlalu buru-buru."Terang Nasywa.
Victor yang gemas terhadap istrinya mengacak pelan rambut Nasywa.
"Ayo duduk.. Dan.potong kuemu..hubby.."Nasywa meletakkan kue didepan Victor. Victor pun menurut memotong kue itu. Nasywa yang begitu antusias menyendokkan kue pada Victor.
"Bagaimana ?? Enak tidak ??" Nasywa begitu berharap.
"Lumayan. Sepertinya istriku sudah pandai didapur.."Balas Victor.
Nasywa nampak bahagia sekali. "kan kau yang mengajariku.."Nasywa melabuhkam ciuman dipipi Victor.
"Selamat ulangtahun Hubby.. Semoga kau selalu panjang umur dan sehat selalu. Aku selalu berharap cintamu tidak padam meski usiamu mulai menua."Ucap Nasywa.
"Terima kasih sayang.. Aku sangat mencintaimu.. I Love You.."Victor membalas mencium pipi Nasywa.
Wajah bahagia jelas sekali terlihat diwajah keduanya. Hingga dinner malam mereka lakukan.
.
.
Dikamar Ani, Entah bagaimana mulainya, namun Kini Roger dan Ani tengah saling pangut. Bahkan seolah menikmatinya, Ani tak sadar jika Roger mulai membuka pakaiannya. Hanya suara de sa han yang sesekali keluar dari mulut Ani kala Roger menyusuri leher jenjangnya hingga turun kegundukan Ani yang cukup besar.
Kondisi kamar temaram Ani, seolah menambah syahdunya dua insan yang tengah dimabuk oleh indahnya asmara dan hasrat yang menggebu.
Pakaian Roger sudah berserakan dilantai, menandakan pria itu telah bertelanjang. Begitupun Dengan Ani, Satu persatu kain yang melekat ditubuhnya tanggal dengan sentuhan-sentuhan dari Roger.
"Aaahhssst..." Hanya suara itu yang keluar dari bibi seksi Ani. Matanya terpejam dengan semua perlakuan Roger yang membuatnya terbuai.
Hingga penyatuan mereka lakukan malam itu. Karna memang keduanya bukan anak muda lagi dan pernah melakukan hal seperti itu, Jadi Roger dan Ani seolah tau bagaimana posisi yang bisa mencapai nikmat yang sesungguhnya.
keringat peluh bercampur menjadi satu seiring dengan cepatnya Roger memompa Ani, Mulut Ani yang menganga menandakan kenikmatan telah ia rasakan, sampai ia terlupa jika seharusnya mereka tidak melakukan hal seperti itu.
.
.
.