Little My Wife

Little My Wife
Terlihat masih merah sekali



Bab 93


.


.


.


Saat Ani mengeliat, ia tak sengaja mengenai wajah Roger Hingga keduanya terkejut bersamaan.


Saat kedua mata mereka saling bertemu Degup jantung keduanya benar-benar memacu menjadi satu.


"Roger.."


"Ani."


Keduanya sama sekali tak menyangka dengan apa yang telah mereka lakuan. Ani apa lagi, ia tersadar dengan dirinya yang tanpa sehelai benangpun.


Ani sampai terpatung dengan keadaan itu. Begitupun dengan Roger.


Keheningan terjadi hampir beberapa saat antara Ani dan Roger. Hingga tangan Roger memegangi pundak Ani perlahan.


Ani yang kaget langsung tersentak.


"Maaf.."Ucap Roger seraya menundukkan wajahnya.


Ani tidak tau harus bicara apa. Ia baru teringat bagaimana mereka bisa Sampai melakukan perbuatan itu. "Kita sama-sama tidak sadar. Aku tidak menyalahkanmu."balas Ani dengan pelan.


Roger seketika menatap Ani. "Aku tidak bermasud seperti ini An.. Karna mabuk aku jadi begini.. Tapi kau jangan kawatir, Aku tetap pada prinsipku, aku akan menikahimu.."


Ani menerbitkan senyumnya dan menggangguk. "Aku percaya keseriusanmu."


Roger langsung memeluk Ani dengan erat. "Setelah ini aku tidak akan minum Alkohol lagi,"


"kau sangat payah.."Balas Ani yang begitu merasa nyaman berada didalam pelukan Roger.


Pelukan mereka segera terlepas saat bunyi bell kamar Ani berbunyi.


keduanya saling tatap seolah bertanya. "Apa kau pesan sesuatu ??" tanya Roger.


Ani menggeleng dengan cepat. "Tidak."


"Lalu siapa yang datang sepagi ini ??" tanya Roger.


"Aku juga tidak tau. Aku lihat dulu.."Ani bergegas turun setelah menyambar Piyama tidur disisi ranjangnya.


"Wisnu ???" Ani begitu terkejut. Untuk apa Wisnu mendatanginya sepagi ini ??"


Ani membalikkan tubuhnya "Jika dia tau Roger disini bagaimana ??!!"


Ani begitu panik. kepanikannya semakin bertambah saat Roger turut keluar dengan setelan santainya..


"Siapa ??" tanya Roger


Ani berlari mendekati Roger seraya menarik lengan Roger untuk kembali kekamar. Meski tak mengerti kenapa, Roger hanya patuh.


"Tolong tetaplah dikamar. Diluar ada..ada Wisnu..Jika dia tau kau dikamarku, Dia pasti akan melapor pada Victor.."Ucap Ani dengan wajah kawatirnya


"Benarkah ?? Ya sudah. Temui dia..aku akan tetap disini."Balas Roger dengan bijak.


Ani menerbitkan senyum tipis seraya menggangguk. Ia buru-buru keluar dan menutup kembali pintu kamar. Mengatur nafas beberapa kali dan memperbaiki penampilannya lalu kemudian membuka pintu depan.


Wajah kesal Wisnu terlihat saat pintu terbuka. Ani berpura-pura baru bangun tidur dengan mengusap kedua matanya.


"Astaga An, Kau baru bangun ??!!" tegur Wisnu dengan rasa tak percayanya.


"Hmm.. semalam aku kepesta teman lamaku, Jadi aku cukup lelah."Balas Ani dengan suara dibuat separau mungkin.


"Ckk..ckk..cckkk... Memalukan. pantas saja Kau lambat membuka pintu. Membuang waktuku saja."Gerutu Wisnu lalu menyodorkan berkas yang ia bawa.


"Titip ini. Berikan pada Victor nanti kalau kekantor. Setelah pindah dari Apartemen dia sulit sekali disuruh kemari."Tambah Wisnu.


Ani menerima berkas itu. "Ok." Ani hendak masuk. Namun mata Wisnu tiba-tiba menangkap sesuatu pada Ani.


"Eh An.."Cegah Wisnu.


"Apa ??" Ani tak sadar jika Wisnu menatap kearah lain pada tubuhnya.


"Ah.. Tidak. Aku kembali dulu."Wisnu segera berlalu dari hadapan Ani. Ani pun demikian ia juga buru-buru menutup pintu kamarnya.


Didalam Lift, Wisnu terus berperang dengan isi diotaknya. "Itu benar Kissmark, Aku tidak salah lihat." gumam Wisnu sendiri.


"Tapi bagaimana Ani mendapatkannya ?? Dan terlihat masih merah sekali..Banyak lagi, Perbuatan siapa itu ??? Apa jangan-jangan.." Wisnu terus menduga-duga dengan semua kemungkinan.


.


.


.